Pertumbuhan PDB: Pengusaha Minta Ketergantungan terhadap Konsumsi Ditekan

Para pengusaha mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki sektor manufaktur dan tidak terus menerus terlena dengan kontribusi konsumsi rumah tangga untuk menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional.
M. Richard | 05 November 2018 18:23 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan paparan dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Indonesia kuartal II/2018, di Jakarta, Senin (6/8/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Para pengusaha mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki sektor manufaktur dan tidak terus menerus terlena dengan kontribusi konsumsi rumah tangga untuk menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional.

Seperti diketahui, hari ini (5/11/2018) Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,17% secara year-on-year(yoy) pada kuartal III/2018, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal yang sama tahun lalu yang sebesar 5,06% yoy. Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) total sebesar Rp3.835,6 triliun.

Secara kuartalan, pertumbuhan yang terjadi sebesar 3,09% pada kuartal III/2018 atau lebih rendah dari pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang sekitar 5,27%.

Menanggapi laporan tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, konsumsi rumah tangga memang sangat kuat dan selalu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.

Namun, konsumsi yang besar tersebut tidak akan banyak membantu pertumbuhan ekonomi nasional secara maksimal jika pemerintah belum memperbaiki industri manufaktur.

"Konsumsi kita tidak ada masalah, sekitar 55%, China juga seperti itu. Hanya saja, kita jangan berleha-leha, karena permasalahan sesungguhnya itu di industri manufaktur," katanya, Senin (5/11/2018).

Hariyadi mengatakan, pemerintah masih sulit mendengarkan keluh kesah pelaku industri, khususnya industri hulu  yang bisa menjadi penopang banyak industri turunan. Hal tersebut membuat pelaku industri ini tidak memiliki daya saing yang cukup, sehingga kinerjanya turun.

"Dengarkan masalah mereka, harus ada pendampingan, harus dibantu. Jika tidak, kondisi akan selalu sama dan bertahun-tahun juga kita kondisinya seperti ini saja," tuturnya.

Hariyadi menjelaskan, tren kinerja ekonomi yang moderat seperti saat ini masih akan berlanjut. Bahkan, Dia memprediksi pertumbuhan ekonomi 2018 akan berada di bawah 5,2%.

"Kita sudah tinggal dua bulan, ini pasti sulit. Yang bisa dilakukan itu memperbaiki kinerja untuk tahun depan," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W. Kamdani memandang kinerja perekonomian sudah cukup baik.

Pasalnya, di tengah kondisi perdagangan dunia yang mengalami tekanan, pertumbuhan ekonomi masih tahun ini tetap dapat menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan 2016 dan 2017.

"Artinya ekonomi kita masih cukup baik. Target APBN 5,4% rasanya tidak mungkin, tapi dengan kondisi saat ini 5,15% hingga 5,2% rasanya masih cukup dimungkinkan," sebutnya.

Hanya saja, dia menjelaskan, kinerja ekonomi masih terhambat dari sisi kemudahan berusaha yang belum dapat diperbaiki dengan cepat.

"Nilai ease of doing business [EODB] kita meskipun naik, tapi peringkat kita turun. Artinya negara-negara di dunia juga berlomba memperbaiki diri dan mereka bisa melakukan perbaikan ini dalam waktu yang lebih cepat," katanya.

Berdasarkan laporan Bank Dunia, meskipun skor EODB Indonesia mengalami kenaikan 1,42, peringkatnya turun satu peringkat dari 72 menjadi 73. Bila terus begini, Shinta khawatir, Indonesia justru kehilangan momentum dan kalah bersaing dengan negara lain.

Tag : pdb
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top