Ratusan Pegawai Google Protes Isu Pelecehan. Andy Rubin, Pencipta Android, Terlibat?

Ratusan pegawai Google di 20 kantor perwakilan seluruh dunia melayangkan protes melalui aksi walk out, Kamis (1/11/2018). Mereka melakukan protes terkait isu pelecehan seksual di kalangan eksekutif Google.
Iim Fathimah Timorria | 01 November 2018 16:51 WIB
Logo Google terlihat di luar kantor perusahaan teknologi tersebut di Beijing, China, Rabu (8/8). - Reuters/Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA - Ratusan pegawai Google di 20 kantor perwakilan seluruh dunia melayangkan protes melalui aksi walk out, Kamis (1/11/2018). Mereka melakukan protes terkait isu pelecehan seksual di kalangan eksekutif Google.

Aksi yang dimulai pukul 11 siang waktu lokal di masing-masing lokasi ini merupakan buntut dari laporan investigasi The New York Times pada 25 Oktober 2018. Dalam laporan tersebut Google disebutkan berusaha melindungi sejumlah eksekutif perusahaan dari tuntutan pelecehan seksual.

Salah satunya Andy Rubin, pencipta Android yang meninggalkan Google pada Oktober 2014. Alih-alih memecat Rubin secara tidak terhormat dan memberi sedikit pesangon, Google justru memberi US$90 juta saat ia meninggalkan Google.

Melalui surat perpisahan, Larry Page yang kini menjabat sebagai CEO Alphabet bahkan menyampaikan pujian atas jasa Rubin mengembangkan Android.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan Rabu (31/10/2018), organisator aksi menuntut perusahaan induk Google, Alphabet Inc. untuk menambah perwakilan pekerja di dewan direksi dan membagi data kesetaraan upah secara internal.

Mereka juga mendesak Google mengubah praktik kepegawaian supaya proses penyelesaian kasus pelecehan menjadi lebih adil.

CEO Google Sundar Pichai sebagaimana diberitakan Reuters merespon aksi ini dengan membuat pernyataan "para pekerja telah mengusung ide yang konstruktif." Ia juga menyampaikan bahwa perusahaan menerima semua masukan dan akan merealisasikan ide tersebut.

Di sisi lain, Rubin yang menjadi target pemberitaan menyangkal tuduhan tersebut. Ia menyebut angka kompensasi yang ia terima telah dibesar-besarkan oleh media. Sementara itu, Google belum memberi respons soal laporan The New York Times.

Laporan investigasi tersebut menjadi momentum pergerakan di tubuh Google. Selama ini, raksasa Silicon Valley tersebut dituntut untuk meningkatkan keberagaman pegawai, memperbaiki perlakuan kepada pegawai perempuan dan kelompok minoritas, serta menjunjung moto perusahaan "don't be evil."

Sejak didirikan 20 tahun lalu, Google dikenal sebagai perusahaan dengan transparansi yang baik kepada para pekerjanya. Strategi perusahaan yang tertuang dalam pandangan dan visi-misi eksekutif Google bahkan bisa diakses setiap pegawainya.

Namun para organisator protes Kamis ini menilai para eksekutif Google, sebagaimana pimpinan perusahaan yang terimbas gerakan #metoo, sejauh ini bergerak lambat untuk mengurai isu struktural di tubuh perusahaan.

"Google memang mengedepankan nilai-nilai keberagaman dan inklusif dan telah melakukan aksi substantif melawan rasisme dan kesetaraan. Namun penghentian pelecehan seksual masih minim," ucap organisator aksi seperti dilansir Reuters.

Mereka menuntut Google mempublikasikan statistik kasus pelecehan seksual dan menghentikan aksi pemaksaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
google, Pelecehan Seksual, #metoo

Sumber : Reuters

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top