Peran Sentral Sumber Daya Manusia dalam Transformasi Digital

Perusahaan tak lagi mempertimbangkan nilai sebagai faktor utama melainkan lebih menyoroti kecerdasan kognitif.
Dhiany Nadya Utami | 01 November 2018 07:56 WIB
Pelajar menunggu bisa diaksesnya server Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMP Muhammadiyah 11 Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/4). Sebanyak 46 komputer peserta UNBK di tempat itu tidak dapat mengakses server sejak pukul 07.30 WIB sampai 08.45 WIB. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Menuju revolusi industri 4.0, digitalisasi kian merambah berbagai bidang. Untuk dapat sukses bermigrasi menjadi masyarakat digital, perubahan di setiap lini menjadi bagian penting termasuk mengelola sumber daya manusia.

 Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi Dikti Jumain Appe mengatakan bahwa transformasi digital serta berbagai inovasi akan percuma jika perilaku masyarakatnya tidak berubah. Maka dari itu digitalisasi sistem manajemen dan sumber daya manusia (SDM) menjadi penting.

 “Inti dari inovasi ya perubahan. Kalau tidak berubah kita ketinggalan,” katanya saat memberi paparan dalam Workshop Inovasi dan Transformasi Digital di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

 Lebih lanjut dia membandingkan pelayanan publik lama dengan versi baru. Pada pelayanan publik versi jadul identik dengan domain milik pemerintah, sentralistis, tidak transparan, serta cederung koruptif.

Dengan pembaruan digitalisasi, sektor pelayanan publik menggunakan domain masyarakat. Lalu, pendekatan sektor swasta dan bisnis di sektor publik lebih ramping dan komparatif, ada pengukuran ekonomi, efisiensi serta efektifitas, terdapat alternatif, serta lebih transparan.

“Perilaku tidak boleh seperti dulu lagi,” ujar dia.

Direktur Enterprise dan Business Service PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. Dian Rachmawan mengatakan selain pola pikir, skill juga memiliki porsi yang sama dalam menyukseskan digitalisasi. Dia mengambil contoh saat ini Telkom juga mulai fokus pada layanan digital dan membutuhkan banyak SDM yang piawai di bidang tersebut.

“Kami menamakan diri sebagai digital telko, kami mau jadi enabler untuk teman-teman lain di industri,” kata Dian.

Dia mengaku kerap kesulitan menemukan SDM yang cocok untuk mewujudkan visi Telkom di bidang digital. Maka Dian menekankan pentingnya sekolah dan universitas untuk tahu tren yang sedang berlangsung saat ini sehingga dapat menciptakan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Harus mempersiapkan diri, banyak jobskill yang akan shifting. Hati-hati jangan sampai memproduksi skill yang kurang diminati [industri],” tambahnya.

Ke depannya, kata Dian, pola rekruitmen juga akan berubah. Perusahaan tak lagi mempertimbangkan nilai sebagai faktor utama melainkan lebih menyoroti kecerdasan kognitif, misalnya bagaimana penggunaan bahasa, daya ingat, persepsi, pemecahan masalah, kreativitas, dan pola pikir.

“Kita mentransformasi diri kita sendiri, bukan hanya membantu mentransformasi entitas lain,” ujar Dian.

Di sisi lain, CEO PT Media Madani Utama Irnanda Laksanawan mengatakan perlu adanya dukungan pemerintah untuk digitalisasi yang lebih merata, misalnya dalam bentuk subsidi atau undang-undang.

Tag : transformasi digital
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top