Kementan Optimistis Produksi Jagung Sesuai Prediksi

Kementerian Pertanian optimistis produksi jagung tahun ini dapat menyamai angka ramalan (ARAM) I Produksi Tanaman Pangan 2018 sebesar 30,05 juta ton atau naik 7,34% dari 2017. Pasalnya belum ada kendala produksi sejauh ini.
Pandu Gumilar | 31 Oktober 2018 19:44 WIB
Buruh tani memindahkan jagung ke dalam bak truk usai dipetik di area pertanian Desa Paron, Kediri, Jawa Timur, Senin (6/8/2018). - ANTARA/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian optimistis produksi jagung tahun ini dapat menyamai angka ramalan (ARAM) I Produksi Tanaman Pangan 2018 sebesar 30,05 juta ton atau naik 7,34% dari 2017. Pasalnya belum ada kendala produksi sejauh ini.

Direktur Serelia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Bambang Sugiharto mengatakan target produksi 30 juta ton dapat terealisasi. Menurutnya, sentra-sentra produksi jagung di Indonesia sampai saat ini masih melakukan panen raya.

"Jagung memang tanam di musim kering dan sebenarnya sampai saat ini tidak ada gangguan. Fakta di lapangan sentra-sentra jagung masih panen. Panen raya juga masih berlangsung Jawa Timur,  sebagian Jawa Tengah dan juga Gorontalo," katanya kepada Bisnis (31/10).

Bambang optimistis sebab baik pemerintah dan pihak swasta hampir menyalurkan benih sesuai target yakni 90.000 ton pada 2018. Kementerian Pertanian sampai dengan Oktober sudah menyalurkan 40.000 ton benih dari target 45.000 ton. Menurutnya sebelum tahun ini berakhir sisa benih akan dapat tersalurkan.

Bambang mengatakan untuk memastikan produksi berhasil, mereka juga bekerjasama dengan pihak swasta dalam hal penyaluran benih.

"Kita tidak hanya mengontrol dari berapa banyak benih yang sudah ditanam, tapi juga memperhatikan sirkulasi perdagangan benih. Industri benih hanya itu saja dan benih yang sudah keluar sesuai estimasi kami. Kalau padi bisa tanamn sendiri dari hasil panen sedangkan kalau jagung hibrida harus dari pabrikan," katanya.

Namun Bambang juga mengakui bahwa ada perbedaan produktivitas benih jagung hibrida pada tiap daerah. Namun bukan karena kesalahan benih tapi sistem budidaya dan lokasi penanaman.

Bambang mengatakan untuk wilayah tanam di Jawa Timur dan Jawa Tengah mampu menghasilkan jagung basah 10 ton/ha, bahkan wilayah seperti Kediri, Tuban dan Jombang mampu menghasilkan 12 ton/ha. Sementara untuk wilayah tanam di luar jawa produksi tidak stabil karena ada yang 3 ton/ha—4 ton/ha.

"Betul ada perbedaan produksi, petani di jawa itu cenderung rajin dan berpengalaman jadi mengupayakan tanaman baik. Di luar jawa itu ada yang tidak berpengalaman atau tidak rajin jadi hasil kurang. Di samping itu tingkat kesuburan tanah Jawa memang lebih baik," pungkasnya.

Tag : jagung
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top