UDAX Rambah Pasar Indonesia

Founder sekaligus CEO UDAX Bobby Lieu mengungkapkan perusahaannya bukan hanya menghadirkan platform pertukaran aset kripto, melainkan turut menghadirkan berbagai solusi lain berbasis teknologi blockchain.
N. Nuriman Jayabuana | 31 Oktober 2018 16:32 WIB
Ilustrasi blockchain. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- United Digital Assets Exchange (UDAX) memperkenalkan platform pertukaran aset kripto ke pasar Indonesia.

Founder sekaligus CEO UDAX Bobby Lieu mengungkapkan perusahaannya bukan hanya menghadirkan platform pertukaran aset kripto, melainkan turut menghadirkan berbagai solusi lain berbasis teknologi blockchain.

"Platform exchange merupakan pintu masuk menuju perkembangan teknologi blockchain yang lebih besar. Kami yakin akan potensi pasar di Indonesia untuk berbagai solusi berbasis blockchain," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

UDAX merupakan perusahaan penyedia platform pertukaran aset kripto dengan teknologi blockchain yang berkantor pusat di China. Perusahaan tersebut turut beroperasi di sejumlah negara lain di Asia seperti Korea Selatan, Hong Kong, Malaysia, dan Singapura.

Platform tersebut tersedia dalam bentuk aplikasi seluler maupun desktop dengan memperdagangkan berbagai token aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan lain-lain.

Bobby menyatakan begitu banyak solusi yang dapat tersedia di dalam platformnya melalui teknologi blockchain yang menggunakan sistem terdesentralisasi.

"Saya berani bilang ini teknologi blockchain akan mengubah dunia. Potensi terbaiknya tidak terbatas pada aset kripto, melainkan ada berbagai solusi yang menarik melalui blockchain," tuturnya.

Salah satu di antaranya merupakan sistem operasi dengan sistem terdesentralisasi (decentralized blockchain operating system) yang dapat mendisrupsi pasar pengembangan aplikasi berbasis OS.

Di samping itu, teknologi blockchain disebut memungkinkan berbagai perusahaan rintisan teknologi di Indonesia menggalang dana alternatif melalui skema Security Token Offering (STO).

"Mungkin di Indonesia istilah ini masih cukup asing, tapi sederhananya, STO merupakan cara baru fundraise yang sangat mirip dengan Initial Public Offering (IPO)," ungkap Bobby.

Dia menjelaskan STO merupakan pola penggalangan dana publik yang menyerupai model yang diterapkan bursa tradisional. Kepemilikan terhadap token menggambarkan kepemilikan investori terhadap suatu perusahaan.

Setiap rencana STO dapat disesuaikan mengikuti ketentuan dan proses registrasi yang diatur regulator bursa.

Dengan model seperti itu, startup dapat meninggalkan pola lama untuk terlebih dulu meminta modal awal kepada investor institusi seperti modal ventura dan private equity sampai akhirnya dapat menggalang dana publik melalui IPO di bursa domestik.

"Bayangkan, startup potensial yang ada di Indonesia dapat dengan mudah menggalang dana yang berasal dari investor institusi maupun investor ritel global dengan sistem yang terdesentralisasi," lanjut Bobby.

Head of Big Data, IoT, and Research PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) Komang Budi Aryasa menerangkan potensi blockchain tak hanya terhenti pada penyediaan aset kripto.

Kecepatan perkembangan teknologi blockchain diyakini bakal melahirkan beragam bisnis baru. Salah satunya, blockchain as a service sebagai use case utama dari teknologi blockchain.

"Dalam beberapa tahun ke depan, semuanya akan berkaitan dengan blockchain. Termasuk dalam pengembangan Internet of Things (IoT) yang membutuhkan sistem terdesentralisasi," sambungnya.

Tag : cryptocurrency, blockchain
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top