PENUTUPAN AKSES TRANSPORTASI BATU BARA, Pengembang Listrik Minta Kementerian ESDM Turun Tangan

Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) meminta Kementerian ESDM mengantisipasi rencana Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menutup akses jalan umum untuk transporasi batubara dalam waktu dekat.
Denis Riantiza Meilanova | 30 Oktober 2018 21:41 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) meminta Kementerian ESDM mengantisipasi rencana Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menutup akses jalan umum untuk transporasi batubara dalam waktu dekat.

Juru Bicara APLSI Rizal Calvary menilai kebijakan tersebut akan berdampak negatif terhadap industri listrik dan perekonomian lokal dan nasional.

"Saya kira pemerintah pusat harus antisipasi rencana Pemprov ke depan. Sebab kerugian ekonomi dan dampak sosialnya akan besar sekali," ujar Rizal melalui keterangan tertulisnya, Selasa (30/10).

Rizal memperkirakan Sumsel akan merugi sebesar US$1,2 miliar atau Rp18,3 triliun/tahun bila terjadi penutupan jalan untuk batubara. Kerugian ini akibat dari berkurangnya penjualan batu bara di Sumsel sebesar 23 juta ton per tahun.


Rizal mengatakan, sebagian besar pembangkit listrik di Jawa dan Sumatera sangat tergantung pada pasokan batubara dari Sumatera Selatan. Oleh karena itu, bila pasokan batubara terganggu, akan memadamkan sebagian besar listrik di Jawa dan Sumatera.

“Digabung seluruh Kalimantan pun, produksi batubara Sumatera Selatan yang terbesar. Sumsel memasok untuk sebagian besar pembangkit Sumatera dan Jawa,” katanya.

Rizal memaparkan, Sumsel merupakan lumbung energi nasional. Selain memperkuat cadangan devisa, Sumsel juga berperan dalam menjaga ketahanan energi nasional, utamanya ketersediaan listrik. Pada tahun 2018, total produksi batubara Sumatera Selatan diperkirakan sekitar 48,5 juta ton atau 9 % produksi nasional.

Di sisi lain, bagi sektor perbankan penutupan jalan batu bara dinilai juga akan mengakibatkan kredit macet.

"Yang berikut akan menganggu stabilitas perbankan nasional akibat meningkatnya kredit macet di sektor pertambangan batubara, sebab eksposur kredit di batubara mulai dari tambang, angkutan batubara (truck & tongkang), pelabuhan batubara dan sektor penunjang terkait," katanya.

Tag : batu bara
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top