Habis-habisan Dongkrak Trafik, Laba Telkomsel Masih Merosot

Transisi pelanggan dari telepon suara dan SMS ke data merupakan tantangan terberat saat ini karena harga data di Indonesia belum cukup menarik.
Duwi Setiya Ariyanti | 30 Oktober 2018 11:51 WIB
Model mencoba kanal khusus Piala Dunia 2018 di aplikasi Maxstream yang tersedia untuk pelanggan Telkomsel - Telkomsel

Bisnis.com, JAKARTA — Beban penurunan pendapatan dari layanan suara dan SMS belum bisa terkompensasi oleh upaya agresif Telkomsel mendongkrak trafik data.

Direktur Keuangan Telkomsel Heri Supriadi mengatakan transisi pelanggan dari telepon suara dan SMS ke data merupakan tantangan terberat saat ini. Alasannya, harga data di Indonesia belum cukup menarik. Hal itu bisa terlihat pada realisasi laba bersih yang menurutnya bisa lebih tinggi. 

Dengan demikian, untuk mendapatkan keuntungan seimbang dari layanan ini pun sulit terealisasi bila hanya mengandalkan dari lini seluler untuk segmen ritel. Meskipun jumlah pelanggan data di jaringan kini sebesar 112,6 juta, 44% pendapatan perusahaan masih berasal berasal dari bisnis legacy yakni telepon suara dan SMS.

Kontribusi layanan suara dan SMS di dalam pendapatan Telkomsel semakin menyusut. Di sisi lain, penetrasi internet yang semakin tinggi mendorong konsumsi data pelanggan di jaringan operator terbesar di Indonesia tersebut.

Sebagai gambaran, pada sembilan bulan selama 2018 ini, pendapatan perusahaan turun 5,5% menjadi Rp65,7 triliun dari Rp69,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, bila dilihat per kuartal, capaian di kuartal III/2018 ini menyentuh Rp23 triliun atau tumbuh 10,1% dibandingkan kuartal II/2018 yakni Rp20,9 triliun. 

Dari sisi pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA), perusahaan mencatatkan penurunan 15,3% dibandingkan performa selama sembilan bulan di 2017 yakni dari Rp40,8 triliun menjadi Rp34,6 triliun. Untuk capaian EBITDA, di kuartal III/2018 menunjukkan pertumbuhan sebesar 20,7% dari Rp10,3 triliun pada kuartal II/2018 menjadi Rp12,4 triliun.

Terakhir, dari sisi laba bersih, selama sembilan bulan di tahun 2018 ini, perusahaan membukukan Rp18,3 triliun atau turun 21,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yakni Rp23,3 triliun. Bila dilihat perkuartal, capaian di kuartal III/2018, justru nak 24% menjadi Rp6,6 triliun dari Rp5,3 triliun pada periode yang sama tahun 2017. 

"Biarpun revenue turun, mayoritas [penurunan] dari legacy. Sekarang [kontribusi pendapatan] 44% dari legacy," ujarnya dalam jumpa pers di Gedung Telkom, Jakarta, Senin (29/10/2018).

Untuk meningkatkan margin, pihaknya pun telah memulai kebijakan tarif data yang baru dengan kenaikan sebesar 4% sampai 11% di wilayah tertentu. Kendati demikian, ternyata tak semua operator mengikuti langkah yang sama sehingga cara ini tak bisa dijadikan andalan. Di sisi lain, harga yang rendah ternyata belum cukup mendorong konsumsi data perpelanggan. 

Dia menuturkan konsumsi data per pelanggan per bulan belum beranjak dari 3 GB. Heri menyebut hal ini memberikan potensi agar konsumsi data terus naik dan membuat monetisasi data semakin menguntungkan.

Untuk terus mendorong penggunaan data, pihaknya kini mengoperasikan 183.300 base transceiver station (BTS) dengan 50.800 unit di antaranya merupakan BTS 4G dan 82,200 unit BTS 3G. Selama sembilan bulan di tahun ini, perusahaan pertumbuhan mencatatkan trafik data di jaringan sebesar 116,3%. 

"Di Indonesia, peruser konsumsi data 3,5 GB per bulan. Artinya, masih ada room untuk growth meskipun penetrasinya hampir semua orang punya HP," kata Heri. 

Tag : telkomsel
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top