Telkom Belum Tentu Manfaatkan Palapa Ring Barat

Telekomunikasi Indonesia menyatakan belum tentu memanfaatkan jaringan serat optik tulang punggung (backbone) pada proyek Palapa Ring Barat karena masih melakukan evaluasi. 
Duwi Setiya Ariyanti | 30 Oktober 2018 02:27 WIB
Pekerja melakukan proses bongkar muat kabel serat optik proyek Palapa Ring Paket Timur di Depo PT. Communication Cable Systems Indonesia (CCSI), Cilegon, Banten, Selasa (5/6/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk  menyatakan belum tentu memanfaatkan jaringan serat optik tulang punggung (backbone) pada proyek Palapa Ring Barat karena masih melakukan evaluasi. 

Direktur Keuangan Telkom, Harry M Zen mengatakan pihaknya belum bisa menentukan sikap apakah akan memanfaatkan proyek milik pemerintah itu.

Pasalnya, meskipun jaringan tulang punggung sudah terbangun, masih diperlukan belanja modal untuk bisa dimanfaatkan. 

Seperti diketahui, jaringan serat optik itu telah terbangun sepanjang 2.200 km di laut dan di darat.

Sayangnya, kendati proyek telah rampung sejak Maret dan tarif pemanfaatan infrastruktur telah dirilis sejak bulan lalu, belum ada operator yang melakukan perjanjian kerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). 

"Kami sedang mempelajari mana-mana saja yang memberikan manfaat untuk Telkom Grup," ujarnya dalam jumpa pers di Gedung Telkom, Senin (29/10/2018). 

Melalui surat keputusan direktur utama BAKTI, pemerintah telah merilis tarif sewa pemanfaatan infrastruktur  Palapa  Ring  Barat.

Sebagai contoh, untuk tarif layanan penyediaan kapasitas bandwidth, terdapat empat kategori berdasarkan besarnya investasi.

Pertama, pada ruas Bengkalis-Tebing Tinggi, kapasitas bandwidth 1 Gbps ditawarkan sebesar Rp20 juta perbulan hingga kapasitas 10 Gbps Rp160 juta perbulan. 

Kedua, pada ruas Tarempa-Ranai, kapasitas bandwidth 1 Gbps ditawarkan sebesar Rp55,7 juta perbulan hingga kapasitas 10 Gbps Rp445,6 juta per bulan.

Ketiga, pada ruas Daik Lingga, kapasitas bandwidth 1 Gbps ditawarkan sebesar Rp23 juta perbulan hingga kapasitas 10 Gbps Rp180 juta perbulan. 

Terakhir, bila membeli layanan penyediaan kapasitas bandwidth di tiga proyek, kapasitas bandwidth 1 Gbps ditawarkan sebesar Rp78,9 juta perbulan hingga kapasitas 10 Gbps Rp631,7 juta perbulan.

Pemerintah juga menyediakan skema penurunan harga yang dilihat dari jumlah peminat di ruas tertentu. 

 

Tag : telkom
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top