Pengusaha Sawit Minta Pemangkasan Pungutan Ekspor

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meminta pemerintah menurunkan kutipan US$50/ton yang dibebankan kepada pelaku usaha atas Crude Palm Oil (CPO) yang diekspor. Dengan begitu harga menjadi lebih kompetitif di tingkat global.
Pandu Gumilar | 25 Oktober 2018 20:46 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meminta pemerintah menurunkan kutipan US$50/ton yang dibebankan kepada pelaku usaha atas Crude Palm Oil (CPO) yang diekspor. Dengan begitu harga menjadi lebih kompetitif di tingkat global.

Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gapki mengatakan kemungkinan pada tahun ini produksi CPO akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu sekitar 42 juta ton. Menurutnya peningkatan mungkin terjadi karena iklim yang membaik pada tahun ini.

Namun, dia tidak memungkiri bila kemungkinan pada panen raya akhir Oktober ini kapasitas tangki CPO nasional sejumlah 4,8 juta ton bisa saja penuh. "Beberapa laporan dari anggota sudah ada yang tangki CPO-nya penuh. Bahkan ada beberapa yang menggunakan kapal tongkang untuk menyimpan hasil produksi. Ada juga yang membuat balongan," katanya, Kamis (25/10).

Mukti mengatakan kondisi tersebut membuat CPO hasil produksi kualitasnya menurun sebab medium penyimpanan seperti kapal tongkang membuat ffa (tingkat keasaman) meningkat.

"Industri pengolahan CPO mengginkan tingkat keasaman serta kadar lemak yang rendah. Dengan kondisi sekarang, industri jadi harus mengolah dua kali untuk mengeluarkan lemak dan merendahkan tingkat keasaman," katanya.

Upaya pemerintah, lanjutnya, dengan memutuskan penggunaan B20 untuk meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri dinilainya langkah yang bagus. Tapi ini baru berjalan sebentar dan serapan maksimal untuk B20 sekitar satu juta ton CPO. Sementara stok produksi nasional lebih dari 4 juta ton.

Oleh sebab itu dia mengusulkan agar pemerintah mengurangi kutipan US$50/ton yang dibebankan kepada pelaku usaha atas CPO yang diekspor sementara ini. Menurutnya dengan begitu pasar akan menjadi lebih kompetitif dan pelaku usaha giat melakukan ekspor.

"Pemerintah mengenakan pungutan ekspor sawit, padahal harga dibawah US$750/ton. Pungutan US$50/ton untuk CPO, kita usulkan turunkan US$20/ ton,"tegasnya.

Penurunan pungutan ini sifatnya hanya sementara sampai harga menyentuh US$700/ton. Pada kisaran harga tersebut harga TBS juga akan meningkat dan pendapatan perusahaan membaik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo, kelapa sawit

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top