GEMPA PALU: Huntara Siap Huni Desember 2018

Hunian Sementara atau Huntara yang diperuntukkan masyarakat terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah, siap dihuni secara bertahap mulai Desember 2018.
Finna U. Ulfah | 25 Oktober 2018 20:18 WIB
Pekerja tengah mengerjakan Hunian Sementara (Huntara) yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, Donggala yang siap dihuni mulai Desember 2018. Dok. Kementerian PUPR

Bisnis.com, JAKARTA - Hunian Sementara atau Huntara yang diperuntukkan masyarakat terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah, siap dihuni secara bertahap mulai Desember 2018.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan sebanyak 1.200 Huntara ditargetkan selesai bertahap dan sudah dapat dihuni mulai pertengahan Desember 2018.

"Sebanyak 1.200 unit huntara yang dibangun pada tahap pertama ini diproyeksikan dapat menampung 14.400 keluarga. Huntara yang dibangun dengan model knockdown berukuran 12 x 26,4 meter persegi, dibagi menjadi 12 bilik dimana setiap biliknya akan dihuni oleh satu keluarga. Rencananya pertengahan Desember pengungsi sudah bisa masuk ke huntara," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dikutip dari keterang tertulisnya, Kamis (25/10/2018).

Basuki mengatakan jumlah unit huntara yang dibangun akan bertambah seiring dengan  perkembangan data pengungsi yang membutuhkan.

Huntara akan digunakan sebagai hunian transit pengungsi dari tenda sampai dengan hunian tetap dan relokasi permukiman telah selesai dibangun.

Biaya pembangunan huntara menelan biaya sekitar Rp500 juta per unit yang dilengkapi 4 toilet, 4 kamar mandi, septik tank, tempat mencuci, dan dapur yang dilengkapi listrik 450 watt untuk setiap bilik.

"Untuk pemasangan listrik dan pembayarannya akan dikoordinasikan dengan Kementerian ESDM dan PLN, pasti ada kebijakan tersendiri untuk membantu pengungsi," papar Basuki.

Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Sulawesi Tengah Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengatakan huntara akan dihuni secara bertahap tanpa menunggu semua unit yang dibangun selesai karena untuk mempercepat pemindahan pengungsi dari tenda yang kondisinya kurang layak dan kondisi cuaca yang mulai memasuki musim hujan.

Huntara tersebut akan dibangun dengan sistem klaster pada lima zona dengan mempertimbangkan faktor ketersediaan lahan dan keamanan lokasi dari dampak gempa.

Setiap klaster yang terdiri atas 10 unit huntara (120 bilik), akan dibangun satu buah sekolah PAUD dan sebuah SD, tempat sampah, ruang terbuka untuk kegiatan warga, dan tempat parkir sepeda motor.

Kontruksi huntara juga tahan gempa dan mengakomodir cuaca Kota Palu yang panas karena berada di garis khatulistiwa. Konstruksi akan menggunakan baja ringan dengan dinding berbahan glassfiber reinforced cement (GRC).

"Kita buat senyaman mungkin karena digunakan dalam jangka waktu cukup lama untuk 1 hingga 2 tahun sambil menunggu sampai relokasi hunian tetap yang dibangun Pemerintah selesai," ujar Arie.

Selain itu, Arie mengatakan untuk pembersihan kota telah selesai 65% secara keseluruhan, walaupun di tiap area memiliki kondisi dan tingkat kesulitan yang berbeda.

Sementara itu untuk rehabilitasi fasilitas publik, lanjut Arie, Kementerian PUPR tengah menyelesaikan laporan verifikasi teknis atas keterlayakan kondisi bangunan untuk digunakan.

"Dari hasil verifikasi misalnya RSUD Anutapura, kondisi strukturnya sudah tidak bagus dan rusak berat harus diganti bangunan baru. Sementara RSUD Undata kerusakannya ringan, jadi hanya perbaikan-perbaikan arsitektural jadi sudah diaudit semua. Lalu ada Kampus IAIN yang terkena tsunami, hanya satu bangunan yang rusak berat, yakni Gedung Dakwah lama yang roboh dan akan dibangun baru," ujarnya.

Tag : Gempa Palu
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top