Pimpinan Korporasi Diminta Fokus Pada Keamanan Siber

Grant Thornton International Business Report (IBR) 2018 mengungkapkan sudut pandang pimpinan korporasi kini berubah dan memfokuskan diri pada keamanan siber agar tidak berpengaruh negatif pada bisnis yang dijalankan perusahaan.
Sholahuddin Al Ayyubi | 25 Oktober 2018 18:57 WIB
Ilustrasi kejahatan siber - Reuters/Dado Ruvic
Bisnis.com, JAKARTA--Grant Thornton International Business Report (IBR) 2018 mengungkapkan sudut pandang pimpinan korporasi kini berubah dan memfokuskan diri pada keamanan siber agar tidak berpengaruh negatif pada bisnis yang dijalankan perusahaan.
 
Managing Director of Cyber Risk Grand Thornton Ameriksa Serikat, Adam Shrok mengatakan bahwa dampak serangan siber terhadap perusahaan sangat besar, seperti dampak terhadap waktu manajemen yang akan terkuras sebesar 29,9%, angka tersebut lebih tinggi dari hasil IBR 2016 yaitu sekitar 26%. 
 
Selain itu, ada juga dampak hilangnya reputasi 22,3% dan biaya penanggulangan atas serangan siber itu sebesar 18,4%.
 
"Jumlah serangan siber secara global memang belum meningkat secara dramatis seperti pada tahun lalu, tapi kami mencatat ada kenaikan serangan sebesar 6,8% sejak 2015. Dampaknya terhadap pendapatan usaha korporasi relatif kecil, yang mana dilaporkan terjadi penurunan pendapatan korporasi sebesar 1-2 persen akibat serangan siber," tuturnya dalam keterangan resminya, Kamis (25/10).
 
Dia mengakui serangan siber sewaktu-waktu dapat terjadi kapan saja, dan di mana saja. Menurutnya, jika belajar dari kasus WannaCry pada tahun lalu, sangat penting bagi korporasi untuk menganalisa sekaligus 
menempatkan pembaruan keamanan pada komputer dan perangkat seluler. 
 
"Karena begitu malware berada di dalam organisasi, mereka akan segera menyebar. Jadi penting untuk bereaksi cepat dan membatasi kerusakan yang timbul. Namun demikian, jauh lebih baik melakukan persiapan berikut pencegahan serangan siber," kata Adam.
 
Sementara itu, Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani menjelaskan Indonesia berpotensi menjadi salah satu target utama serangan siber oleh peretas dari negara lain. Berdasarkan laporan dari Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure Coordinator Center (ID-SIRTI/CC) disebutkan jumlah serangan dari luar Indonesia lebih dari 205 juta serangan sepanjang 2017 dengan serangan paling banyak berasal dari malware.
 
 "Terpenting untuk menyadari bahwa setiap bisnis tidak pernah bisa 100% aman dari serangan siber dan tingkat toleransi risiko yang dimiliki pelaku bisnis juga berperan besar terhadap strategi perusahaan menghadapi serangan siber," ujarnya.
 
Menurutnya, penting bagi para pimpinan senior korporasi untuk mengambil langkah pencegahan, mengingat potensi serangan siber masih tinggi. Meski kenyataannya para pimpinan senior memiliki berbagai sikap berbeda terhadap risiko serangan siber, tergantung industri, sektor, dan bahkan tipe kepribadian.
 
"Serangan siber pun beradaptasi dengan cepat, tanpa mengenal batasan fisik, lokasi, dan waktu. Jadi bisnis harus memiliki strategi manajemen risiko kuat, yang selaras dengan strategi bisnis lebih luas untuk memitigasi risiko di masa depan," tuturnya.
 
Tag : korporasi, serangan siber
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top