Pendaftaran Akselerator BE-X Milik Bekraf Sudah Dibuka

Startup yang terpilih nantinya berkesempatan untuk memperoleh pendampingan pengembangan kapasitas oleh beragam mentor dan akses pendanaan dari investor. 
N. Nuriman Jayabuana | 22 Oktober 2018 10:36 WIB
Nadiem Makarim dari Go-Jek (dari kiri ke kanan), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, William Tanuwijaya dari Tokopedia, Ferry Unardi dari Traveloka, Kepala BKPM Thomas Lembong, dan Achmad Zaky dari Bukalapak dalam Nexticorn International Summit di Bali, Rabu (9/5/2018) - Bisnis - Demis Rizky Gosta

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Ekonomi Kreatif meluncurkan program akselerasi bagi startup bernama BE-X. Program tersebut bakal menyeleksi puluhan bisnis rintisan tahap awal untuk dapat berkembang menjadi lebih besar dan berkelanjutan.

Wakil Kepala Bekraf, Ricky Joseph Pesik, menyatakan program tersebut menjaring bisnis rintisan yang berada di Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar.

"Program akselerasi ini berfokus pada aspek kemampuan pengembangan bisnis, supaya para founder bisa mengembangkan dan mengeksekusi ide yang lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhan pasar," ujarnya di Jakarta, Jumat (19/10).

Startup yang terpilih nantinya berkesempatan untuk memperoleh pendampingan pengembangan kapasitas oleh beragam mentor dan akses pendanaan dari investor. 

Partisipan program akselerator tersebut nantinya mendapatkan pelatihan dan pengembangan pada bidang pemasaran dan pengembangan produk dari praktisi bisnis digital.

Seluruh startup yang berpartisipasi akan memaparkan gagasan dan produknya dalam demo day di hadapan berbagai pemangku kepentingan dan pemodal ventura.

Pendaftaran program akselerator tersebut mulai dibuka sejak 19 Oktober 2018 melalui tautan http://be-x.bekraf.go.id/. Dalam proses seleksi, Bekraf akan mengkurasi proposal secara daring untuk kemudian menilai dan mengundang startup yang terpilih untuk terlebih dulu melakukan pitching.

Ricky menyatakan inisiatif pembentukan BE-X sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pengembangan ekosistem startup dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Dirinya mengungkapkan pendampingan melalui program akselerasi dibutuhkan untuk menjamin pendiri suatu bisnis rintisan teknologi memiliki mental yang lebih tangguh dalam menghadapi persaingan pasar.

Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Bekraf Abdur Rohim Boy Berawi menyatakan program tersebut dapat mempercepat laju pertumbuhan ekosistem startup Indonesia. Dengan harapan, semakin banyak startup yang tumbuh besar seperti beberapa unicorn yang terlahir di Indonesia.

Berdasarkan riset yang dikeluarkan Bekraf, PDB Ekonomi Kreatif Indonesia tumbuh 4,95% pada 2016 senilai Rp 922,59 miliar atau berkontribusi sebesar 7,44% terhadap ekonomi nasional.

Sementara dari angka tersebut, kontribusi beberapa subsektor juga mengalami peningkatan. Subsektor arsitektur menyumbang 2,34%, aplikasi dan game developer 1,86%, dan desain produk 0,22%. Data riset 2015 juga menemukan bahwa penggunaan teknologi informasi pada industri ekonomi kreatif mengalami peningkatan.

Sebesar 64,24% usaha Ekonomi Kreatif menggunakan komputer atau device, sedangkan usaha Ekonomi Kreatif yang menggunakan internet (network) sebanyak 68,83%. 

Pertumbuhan PDB Ekonomi Kreatif Indonesia pada 2016 lebih tinggi dibanding negara ASEAN lainnya, seperti Singapura 5,70% dan Filipina 4,92%. Terlepas dari potensi yang ada, sektor Ekonomi Kreatif tanah air juga menghadapi berbagai kendala. Setidaknya terdapat 13 kendala yang berhasil teridentifikasi dari hasil temuan riset yang dilakukan tahun 2015. 

Beberapa kendala mendasar yang harus dihadapi yaitu 37,40% kendala pada riset dan pengembangan dan 31,56% kendala pada edukasi. Melalui BE-X dua kendala dimungkinan dapat teratasi sehingga akan ekosistem startup digital dapat berkembang semakin pesat.

Tag : StartUp
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top