Sistem Tanam Rapat Diyakini Pacu Produksi Jagung

Sistem tanam jarak rapat pada tanaman jagung diklaim mampu meningkatkan produktivitas komoditas tersebut secara signifikan.
Pandu Gumilar | 21 Oktober 2018 14:28 WIB
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Sumardjo Gatot Irianto (kiri) dan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko (kedua dari kanan) melakukan panen jagung dalam acara Guyub Panen Nusantara di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Kamis (18/10/2018). - Bisnis/Reni Lestari

Bisnis.com, JAKARTA —  Sistem tanam jarak rapat pada tanaman jagung diklaim mampu meningkatkan produktivitas komoditas tersebut secara signifikan.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko mengatakan dengan sistem tanam jarak rapat produktivitas dan waktu tanam bisa dipersingkat sesuai benih yang digunakannya.

"Jagung hibrida yang ditanam ini varietas BISI-18.Usia tanaman 107 hari, sudah bisa kita penen, " kata Moeldoko dalam siaran resmi Sabtu (21/10).

Moeldoko juga menambahkan, dalam  satu hektar jumlah tanaman jagung hibrida BISI-18 bila dengan sistem tanam jarak rapat mencapai 100.000 pohon.

Padahal, pada penanaman biasa jumlah populasi tanaman hanya 62.500 pohon. Poin terpenting lainnya adalah hasil produksi berada di antara 10 ton/ha—12 ton/ha.

Sistem tanam jarak rapat adalan benih jagung ditanam pada tanah berukuran 60 cm x 15 cm. Hasil panen tanam rapat bisa mencapai 12,8 ton pipil kering per hektare.

Paling rendah produktivitas 10 ton pipilan kering per hektar. Kelompok Tani Mapan di Kediri, Jawa Timur menjadi pilot projek pertama dan sudah melakukan panen perdana di areal seluas 42,8 hektar.

"Luas areal tanam jagung jarak rapat ini mencapai 42,8 hektar, maka produksi lebih dari 428 ton jagung. Luas lahan tanam 42,8 hektar ini juga setengah dari luas lahan panen keseluruhan di desa Menjono,” kata Moeldoko.

Luas lahan panen jagung di Kabupaten Kediri hingga Oktober 2018 mencapai lebih dari 15.347 hektar. Sementara areal tanam jagung dalam setahun mencapai 46.300 hektar. Secara keseluruhan luas panen jagung di Jawa Timur, hingga Oktober 2018 mencapai 104 hektar.

Moeldoko menyebutkan HKTI hadir sebagai solusi bagi petani dan pertanian Indonesia karena organisasi ini mencari dan menawarkan solusi bagi permasalahan petani seperti masalah lahan, teknologi, permodalan, manajemen, hingga pasca panen.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bisi International Tbk (BISI) Jemmy Eka Putra mengatakan penerapan inovasi dalam budi daya pertanian itu penting untuk menghasilkan varietas yang terbaik. Jagung hibrida tipe BISI-18, lanjutnya, memiliki produktivitas yang tinggi yaitu 10 ton/ha sampai 12,5 ton/ha.

“Varietas ini bisa ditanam jarak rapat. Dalam  satu hektar bisa 100.000 pohon. Padahal selama ini petani kita biasa tanam 62.5000 pohon per hektare,” katanya.

Jemmy menyebutkan  Provinsi Jawa Timur sebagai penyumbang produksi Jagung terbesar di Indonesia karena luas areal tanaman jagung di Jatim mencapai lebih dari 1 juta hektare.

Tahun depan BISI menargetkan adanya peningkatan produktivitas jagung pipil. Perusahaan ini berencana akan meningkatkan kemitraan dengan petani jagung hingga 100.000 hektare. Dalam tiga tahun ini BISI sudah menjalin kemitraan dengan petani jagung seluas 88.638 hektare.

Tag : jagung
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top