Kontradiksi Megahub Soekarno-Hatta

Travel Fair yang sering diadakan tiap tahun oleh Garuda dan maskapai luar negeri macam SQ, Qantas, Cathay bisa menjawab soal itu. Hasilnya, 60%-70% tiket yang terjual adalah ke luar negeri. Sisanya baru ke domestik.
Gatot Rahardjo: Staf Khusus Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan | 20 Oktober 2018 12:59 WIB
Gatot Rahardjo: Staf Khusus Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan

Bandara Soekarno-Hatta yang dinobatkan sebagai megahub ke-2 se Asia Pasifik, justru tidak menguntungkan bagi Indonesia. Terutama dalam hal pemerataan pembangunan di Indonesia timur dan persaingan dengan Singapura yang jadi hub nomor wahid. Target pemerintah untuk mendatangkan 20 juta turis asing pada 2019 juga akan sangat mungkin terganggu.

Megahub kalau diartikan secara harfiah adalah seperti terminal yang punya banyak bus dan banyak rute, dan tentu saja penumpang yang melimpah.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang oleh lembaga air travel intelligence asal Inggris, OAG, dinyatakan mempunyai koneksi penerbangan internasional paling banyak nomor dua se-Asia Pasifik dan nomor 10 di dunia. Hanya kalah dengan Bandara Changi.

Jumlah koneksi ini dihitung untuk penerbangan hingga 6 jam. Atau bisa dikatakan penerbangan ke Asia Tenggara, Jepang, Korea, China serta sebagian Australia. Namun  inilah pangkal masalahnya. Mari kita buka peta Indonesia, cari letak Bandara Soekarno-Hatta. Ternyata letaknya sedikit di sebelah kanan Indonesia. Kalau dari bandara ini mau terbang ke paling ujung barat Indonesia hanya perlu waktu 2-3 jam. Tetapi kalau ke ujung timur, perlu 6-8 jam. Jadi tidak seimbang.

Untuk ke Papua, Maluku, Ternate, orang Jakarta harus terbang dengan waktu yang sama dengan terbang ke Tokyo, Seoul, Beijing atau Ho Chi Minh City. Bahkan ke Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok lebih cepat karena hanya 2-3 jam terbang.

Kalau Anda dari Jakarta, ditawari pilihan liburan ke Tokyo, Seoul, Singapura, KL atau ke Maluku, Ternate atau Raja Ampat di Papua dengan harga yang sama, pilih mana?

Travel Fair yang sering diadakan tiap tahun oleh Garuda dan maskapai luar negeri macam SQ, Qantas, Cathay bisa menjawab soal itu. Hasilnya, 60%-70% tiket yang terjual adalah ke luar negeri. Sisanya baru ke domestik.

Makanya Menteri Pariwisata Arif Yahya beberapa tahun lalu saat membuka travel fair Garuda pernah menyentil manajemennya. Karena travel fair itu justru membuang devisa ke luar negeri. Garuda kemudian mencoba membuat travel fair online yang bisa diakses di manapun, namun hasilnya tak sebanyak yang offline.

Mari kita beralih ke wisatawan mancanegara. Dengan menjadi megahub, Bandara Soekarno Hatta tentu saja jadi bandara tujuan pertama turis saat berkunjung ke Indonesia. Memang ada juga Ngurah Rai Bali, tapi karakteristiknya beda. Bandara Bali itu sebagai bandara tujuan akhir karena turis memang inginnya ke Bali saja, atau paling berlanjut ke Lombok.

Bandara Soetta, selain tujuan akhir, juga dirancang jadi bandara hub atau penghubung. Dari Jakarta, turis yang masuk bisa terbang lagi ke daerah lain. Masalahnya, apakah turis itu mau terbang lagi 6-8 jam ke tempat wisata Maluku dan Papua?

Lagi-lagi, ini dijawab sendiri oleh pengelola Bandara Soekarno Hatta. Pada Rabu, 10 Oktober 2018, mereka membanggakan pertumbuhan penumpang rata-rata mencapai 7% tahun ini. Hingga akhir 2018 diprediksi penumpangnya lebih dari 67 juta orang.

Sayangnya, kota-kota domestik favorit tujuan penumpangnya bukan ke Papua atau Maluku tapi Surabaya, Denpasar, Kualanamu/Medan, Makassar dan Yogyakarta. Untuk ke luar negeri sudah bisa diprediksi tujuannya ke Singapura, Kuala Lumpur, Jeddah, Hong Kong, dan Bangkok. Jadi kota tujuan di Papua, Maluku dan Ternate bukan favorit penumpang dari Bandara Soetta. Padahal jumlah lalu lintas penumpang di bandara ini berkisar 60%-70% dari lalu lintas penumpang nasional.

Sekarang mari kita ulas terkait persaingan dengan Singapura.

Letak Singapura dan Jakarta yang hanya 2 jam penerbangan juga tidak menguntungkan Indonesia. Sudah sejak lama Singapura menjadikan Indonesia sebagai pasar. Orang Indonesia yang mau ke Eropa atau sebaliknya, sebagian besar singgah di Singapura. Bagi orang Indonesia, tak ada pilihan lain karena maskapai yang ditumpangi kebanyakan maskapai asing yang rutenya singgah di Singapura.

Dengan jarak yang relatif dekat, tarif Singapura-Jakarta bisa digratiskan. Kalau Anda dapat tiket murah Jakarta-Singapura, itu bisa jadi tarifnya nol, cuma bayar asuransi dan airport tax aja. Siapa yang melakukan itu? Maskapai Singapura.

Karena dengan berkunjung ke Singapura, Anda akan dipaksa belanja, jalan-jalan yang artinya memberikan devisa ke Singapura. Atau kalau Anda mau melanjutkan terbang ke Eropa atau AS yang lebih jauh, tarifnya dibebankan ke situ.

Bagaimana dengan warga Eropa dan AS yang mau ke Indonesia? Sebagian besar memilih singgah dan tinggal di Singapura lalu ke Jakarta pulang hari (PP) karena cuma dua jam terbang. Singapura dipilih karena harus diakui infrastruktur, sistem, budaya, transportasi dan lainnya yang lebih mendukung mereka.

Itulah makanya maskapai Singapura berkembang pesat dengan menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar kedua setelah pasar internasional. Lalu bagaimana caranya mengalahkan Changi Singapura?

Salah satu caranya, pindahkan megahub dari Bandara Soekarno Hatta di Tangerang/Jakarta ke daerah yang lebih ke tengah. Bandara Soekarno Hatta sebenarnya juga dibangun sebagai bandara tujuan, bukan bandara hub/transit.

Jadi perkembangannya harus sedikit direm. Bandara Hasanuddin di Makassar bisa menjadi pilihan untuk megahub. Dengan megahub di tengah Indonesia, penerbangan ke barat dan timur akan sama waktunya, 3-5 jam. Turis yang masuk lewat Makassar akan punya lebih banyak pilihan, ke barat atau ke timur. Semakin banyak tempat wisata yang ditawarkan, makin banyak turis yang bisa diraih.

Penerbangan domestik juga pasti akan mengikuti pasar ini. Mereka bisa membuka rute ke barat dan timur atau internasional sama banyaknya. Masyarakat Indonesia juga akan lebih banyak berwisata ke dalam negeri karena jaraknya lebih pendek daripada ke luar negeri.

Dengan megahub yang lebih ke tengah, maskapai Singapura juga akan berfikir dua kali untuk memberikan tarif nol. Karena jarak tempuhnya lebih jauh, waktu terbangnya 3-4 jam. Jadi mereka harus menarik tarif. Dengan demikian maskapai lokal juga bisa bersaing dengan mereka karena sama-sama menarik tarif.

Masyarakat luar negeri yang mau ke Indonesia juga pasti akan memilih terbang langsung daripada singgah di Singapura karena jarak tambah panjang dan waktu tempuh lebih lama. Bahkan bila dari Jepang, Australia atau AS, lebih dekat langsung ke Makassar daripada harus transit di Singapura.

Memang ada syarat yang harus dipenuhi Pemerintah Indonesia. Pertama, harus ada political will kuat dari pemerintah pusat karena harus memindahkan pasar terbesar dari Jakarta ke Makassar. Kedua, harus membangun infrastruktur, sistem dan lainnya di Makassar sehingga jadi megahub yang lebih besar.

Ketiga membatasi penerbangan langsung kota-kota lain ke luar neger, tapi harus lewat Makassar sebagai megahub. Keempat, membangun destinasi wisata yang lebih bagus di Indonesia timur.

Soal political will, beberapa tahun lalu pemerintah, lewat Kementerian Perhubungan, pernah punya rencana memindahkan kantor pusat operasional maskapai penerbangan dari Jakarta ke kota lain, seperti Surabaya dan Makassar.

Merpati yang saat itu masih kuat beroperasi, bahkan sudah jelas-jelas mau pindah ke Makassar. Namun entah mengapa hal itu tidak terwuju.

Saat Budi Karya Sumadi masih menjabat Dirut PT Angkasa Pura II, kepada penulis pernah memaparkan konsep untuk memindahkan hub bandara Soekarno-Hatta, menyebar ke beberapa bandara-bandara lain. Saat ini sebagai Menteri Perhubungan, seharusnya beliau bisa lebih mengeksplorasi konsep tersebut dan mengajukan kepada Presiden Jokowi untuk mendapatkan political will yang lebih kuat.

Kalau kita berfikir dalam konteks NKRI yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote, tentu hal ini akan jadi mudah dilakukan. Apalagi Presiden Jokowi sudah terlihat jelas mempunyai keberpihakan untuk membangun di luar Jawa dan khususnya di sebelah timur Indonesia.

Tag : opini
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top