Surveyor Indonesia Bidik Pertumbuhan 20% per Tahun

Di tengah tekanan makro ekonomi, PT Surveyor Indonesia (Persero) justru terus bersemangat menjadi independent assurance di bidang testing, inspection dan certification yang mencatat pertumbuhan 20% per tahun dengan nilai pendapatan Rp2 triliun pada 2021.
M. Richard | 19 Oktober 2018 23:25 WIB
Gedung Surveyor Indonesia -

Bisnis.com, JAKARTA -- Di tengah tekanan makro ekonomi, PT Surveyor Indonesia (Persero) justru terus bersemangat menjadi independent assurance di bidang testing, inspection dan certification yang mencatat pertumbuhan 20% per tahun dengan nilai pendapatan Rp2 triliun pada 2021.

Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (Persero) Dian M. Noer mengatakan tekanan ekonomi makro akan tetap berlanjut meski ekonomi nasional masih diperkirakan tumbuh 5,3% pada 2019.

Pasalnya, fluktuasi di pasar global membuat nilai tukar rupiah melemah dan harga minyak melonjak, yang mana merupakan indikator negatif bagi pertumbuhan ekonomi negara berkembang

Namun, sebagai BUMN yang menjadi agent of development, PT Surveyor Indonesia (PTSI) tidak akan pasif dan memanfaatkan setiap potensi dan peluang yang ada untuk dapat menjadi motivator pertumbuhan ekonomi.

"Kami terus melakukan terobosan dan inovasi serta memanfaatkan potensi  dan peluang untuk menjadi perusahaan Independent
Assurance yang dalam bidang testing, inspection and Certification (TIC) yang diakui dunia," kata Dian kepada Bisnis, Jumat (19/10/2018).

Untuk mencapai target tersebut, katanya, PTSI telah melakukan penajaman kembali dalam kajian rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) 2019.

Dalam RJPP 2019 tersebut, PTSI menargetkan pendapatan Rp2 triliun pada 2019, yang artinya harus tumbuh minimal 20% per tahun dari pendapatan 2017 yang hanya Rp1 triliun.

Tidak hanya pertumbuhan pendapatan, PTSI juga manergetkan laba bersih diatas Rp200 miliar dengan penilaian kriteria penilaian kinerja unggul BUMN di level 600 pada 2022 mendatang.

Meski demikian, PTSI masih menghadapi sejumlah masalah, yakni dari sisi diversifikasi bisnis, ketersediaan tenaga ahli dalam proyek infrastrukutr skala besar dan pelayanan dengan dukukungan teknologi informasi. 

Oleh karena itu, dalam RJPP, PTSI menyusun program-program pengembangan yang dimaksudkan untuk menyelesaiakn permaaalahan tersebut.

Adapun, program-program tersebut a.l. percepatan kaderisasi melalui program surveyor Indonesia-talent management, pengembangan bisnis TIC yang terintegrasi pada keempat sektor PTSI, yakni infrastruktur, minyak dan gas, mineral batubara, dan penguatan instusi kelembagaan.

Program selanjutnya, melakukan pengembangan terhadap sistem dan manajemen melalui pemanfaatan information, and communication technology (ICT), melakukan ekspansi kenpasar ke tingkat Asian--yang dimulia dari Vietnam--, dan peningkatan efektifitas dalam kegiatan pemasaran dan layanan pelanggan.

Sebagai informasi, dengan pencapaian PTSI saat ini, perseroan mendapat predikat "Sangat Bagus" dalam rating BUMN 2018 yang dilansir Infobank. Raihan ini meneguhkan PTSI menjadi pemegang predikat sangat bagus dalam 10 tahun berturut-turut.

Mengapresiasi capaian tersebut, Fouder Rumah Perubahan dan Guru Besar FEB UI, Rhenald Kasali mengatakan untuk dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan performa tersebut PTSI harus memapu memperdiksi dinamika bisnis yang berjalan.

Contohnya, PTSI harus bisa masuk kedalam proyek pembankit milik PLN di Sumatera utara. “Harus bisa antisipasi dan meningkatkan bisnis sektor lain. dan Proyek PLN itu adalah peluang yang harus diambil,” ujarnya. 

Adapun, beberapa proyek yang telah dikerjakan PTSI a.l. perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur migas dan sistem pembangkit, pengawalan transaksi perdagangan ekspor/impor barang sesuai dengan regulasi pemerintah, memastikan implementasi kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dan menjadi konsultan dalam menunjang program kegiatan pemerintah.

Meski demikian, Rhenald optimistis target-taret PTSI tercapai, dan dia memprediksikan PTSI dapat mencapai
pendapatan usaha Rp1,2 triliun, atau tumbuh 21% dari prognosis Rp1 triliun pada 2017.  Masih nunggu statemen dari Kementerian bumn.

Tag : surveyor indonesia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top