Jaga Surplus Dagang, Pasokan Batu Bara Harus Dijaga

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$230 juta secara bulanan pada September 2018.
Fitri Sartina Dewi | 18 Oktober 2018 23:48 WIB
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com,JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$230 juta secara bulanan pada September 2018. Realisasi ini membaik jika dibandingkan bulan lalu, defisit mencapai US$1,02 miliar.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Tax Center Ajib Hamdani meminta agar pemerintah konsisten menjaga pasokan batubara untuk kepentingan ekspor.

“Kendala-kendala dilapangan untuk produksi dan distribusi batubara mesti dijaga. Jangan sampai ada gangguan-gangguan atau insiden-insiden, karena bisa berdampak ke kinerja moneter, dan pelemahan rupiah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya, posisi batu bara untuk ekspor nasional sangat strategis. Bahkan, dia menilai jika perlu volume produksi dan ekspor batu bara terus ditambah untuk memperkuat rupiah.

Batu bara juga dianggap sebagai komoditas yang volumenya relatif mudah dipacu untuk kepentingan peningkatan ekspor dengan cepat.

“Kondusifitas industri ini perlu dijaga, jika kita ingin surplus dagang tetap terjaga, selain menekan impor,” ucapnya.

Untuk memperkuat rupiah, dia menilai langkah paling efektif adalah dengan menjaga neraca dagang agar tetap positif. Oleh sebab itu, kebijakan ekspor harus tetap dirangsang dan diberikan insentif serta regulasi pusat dan daerah mesti sinkron.

Ajib mengungkapkan untuk menenangkan amukan dolar, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) B20 (biodiesel) dan menaikkan produksi batu bara sehingga bisa meningkatkan ekspor nasional. Pada tahun ini Menteri ESDM menyetujui untuk menambah produksi batubara sebanyak 25 juta ton.

Target produksi batu bara tahun ini dinaikkan sebesar 485 juta ton. Dengan penambahan 25 juta ton, maka produksi batubara hingga akhir tahun dapat mencapai 510 juta ton.

“Dengan kenaikkan itu diproyeksikan akan terdapat tambahan devisa sebesar US$ 1,5 miliar," paparnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti menuturkan surplus neraca perdagangan disebabkan karena jumlah ekspor lebih besar dibanding impornya.

Tercatat ekspor di angka US$14,83 miliar dan impor di angka US$14,60 miliar. Nilai ekspor sebesar US$14,83 miliar ternyata menurun 6,58% dibanding bulan sebelumnya yakni US$15,18 miliar. Adapun, ekspor migas menurun 15,8% dari US$1,43 miliar ke angka US$1,21 miliar, dan ekspor non migas turun 5,67% dari US$14,44 miliar ke US$13,62 miliar.

 

 

Tag : batu bara, esdm
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top