Tekan Dampak Perang Dagang, Kerja Sama Selatan-Selatan Terus Didorong

Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo mengatakan ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif memberikan konsekuensi terhadap pasar. Salah satunya, peningkatan signifikan terhadap tarif impor semakin menekan volume dan kinerja ekspor.
Hadijah Alaydrus | 09 Oktober 2018 13:45 WIB
Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo memaparkan materinya saat menjadi pembicara utama pada pembukaan Konferensi Nasional The Institute Internal Auditors (IIA) Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/10). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, NUSA DUA, Bali - Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo mengatakan ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif memberikan konsekuensi terhadap pasar. Salah satunya, peningkatan signifikan terhadap tarif impor semakin menekan volume dan kinerja ekspor.

"Keadaan ekonomi global saat ini menuntut pentingnya kerja sama selatan-selatan, terutama untuk menciptakan respons, serta strategi dalam menangani berbagai situasi yang terjadi," ujar Wamenkeu, dalam diskusi panel  The Growing Importance of South-South Cooperation Amid Trade Tensions and Global Financial Market Volatility, Selasa (9/10/2018). 

Wakil Menteri Keuangan juga menjelaskan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok memberikan dampak besar pada pasar global. 

Keadaan ini merupakan tantangan bagi pemerintahan seluruh dunia untuk menetralisir keadaan dan tetap menjaga kesejahteraan masyarakat termasuk indonesia.

"Di tengah perang dagang global, pemerintah Indonesia akan bergerak aktif dalam meningkatkan sektor manufaktur, pemerintah akan mendukung penuh sektor industri, dan mereformasi perpajakan dalam rangka mendukung sektor manufaktur dan meningkatkan aktivitas ekspor," tutur Wamenkeu.

Dalam pembahasan diskusi, ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif serta dampak dan konsekuensinya terhadap pasar berkembang. Adanya peningkatan signifikan terhadap tarif impor, semakin menekan volume perdagangan internasional dan kinerja ekspor. Selain itu, tingginya ketergantungan terhadap mata uang dolar, akan membebani pembiayaan eksportir. 

Kondisi ini menunjukkan pentingnya Kerja Sama Selatan-Selatan, terutama untuk menciptakan respon serta strategi yang potensial untuk mengatasi situasi yang terjadi. Selaras dengan salah satu tujuan dari diselenggarakannya Kerja Sama Selatan-Selatan yaitu untuk membuka peluang serta penetrasi pasar. 

“Untuk melakukan penetrasi pasar, LPEI dukung pembiayaan ke negara-negara di kawasan Afrika dan ini sejalan dengan Penugasan Khusus yang diberikan Pemerintah melalui KMK No.787/KMK.08/2017,” jelas Dwi Wahyudi, Direktur Pelaksana I LPEI. 

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top