AP II Usul Kenaikan 'Airport Tax' di 2 Bandara Ini

PT Angkasa Pura II (Persero) menyatakan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau sering disebut 'Airport Tax' di Bandara Banyuwangi dan Bandara Silangit masuk dalam usulan dari beberapa bandara yang akan disesuaikan oleh perseroan.
Rio Sandy Pradana | 07 Oktober 2018 19:27 WIB
Penumpang maskapai Citilink dengan rute Silangit-Halim Perdanakusuma Jakarta bergegas memasuki pesawat di Bandara Internasional Silangit, Tapanuli Utara, Sumut, Senin (11/12). - ANTARA/Andika Wahyu

Bisnis.com, JAKARTA--PT Angkasa Pura II (Persero) menyatakan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau sering disebut 'Airport Tax' di Bandara Banyuwangi dan Bandara Silangit masuk dalam usulan dari beberapa bandara yang akan disesuaikan oleh perseroan.

Vice President Corporate Communication Angkasa Pura (AP) II Yado Yarismano mengatakan Bandara Silangit sudah ditingkatkan kapasitasnya menggunakan dana investasi perusahaan. Adapun, Bandara Banyuwangi yang sebelumnya dikelola oleh Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) telah dioperasikan sejak Desember 2017 dan tarif PJP2U atau passenger service charge (PSC) perlu disesuaikan.

"Nama bandara yang lain atau jumlahnya belum bisa kami sampaikan, karena saat ini masih menunggu keputusan dari Kemenhub. Beberapa yang pasti kami usulkan adalah Banyuwangi dan Silangit," kata Yado, Minggu (7/10/2018).

Dia menambahkan Bandara Silangit telah dikelola oleh AP II sejak 2012. Saat itu, status bandara tersebut berupa bandara perintis dan AP II terus melakukan investasi dengan nominal PJP2U penerbangan domestik hanya sebesar Rp10.000 per penumpang dan internasional mencapai Rp75.000 per penumpang.
 
Menurutnya, pengembangan Bandara Banyuwangi menjadi krusial karena diproyeksikan menjadi segitiga pariwisata dengan Bali dan Lombok. Ketiga bandara di wilayah tersebut akan saling mendukung, apalagi Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali sudah padat.

Dia menjelaskan konsep pembangunan Bandara Banyuwangi adalah tourism airport yang memiliki keunikan khas. Selain itu, desain terbuka menjadikan bandara ini berstatus green airport karena lebih hemat energi.

Yado menuturkan Kemenhub menugaskan AP II untuk mengembangkan sisi udara bandara tersebut melalui skema penyertaan modal negara (PMN). Adapun, sisi darat dikembangkan dan menjadi aset milik Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Bila AP II hendak melakukan pengembangan sisi darat, memang memerlukan diskusi dengan pihak pemkab. Akan tetapi, selama ini pihak pemkab sangat terbuka dalam usulan peningkatan fasilitas selama tidak mengubah konsep tourism airport.

Yado menegaskan Bandara Banyuwangi memang terlihat berbeda dibandingkan dengan bandara konvensional lain yang memiliki desain futuristik. Namun, bisa dipastikan seluruh fasilitas pendukung telah sesuai dengan standar bandara dan memadai, serta memenuhi aspek keselamatan penerbangan.

AP II melakukan beberapa proyek pengembangan Bandara Banyuwangi antara lain, penebalan landasan (overlay runway) dari PCN 27 menjadi PCN 56, sehingga dapat mengakomodir pasawat tipe Boeing 737-8 NG, B 737-9 ER, dan Airbus 320. Perluasan tempat parkir pesawat (apron) dari luas 16.200 m2 menjadi 34.000 m2. Selain itu, perpanjangan dan pelebaran runway dari 2.250 x 30 m2 menjadi 2.500 x 45 m2. Adapun, dana yang dialokasikan mencapai Rp300 miliar.

Tag : angkasa pura ii
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top