Ini Capaian Kinerja Hulu Migas Hingga Kuartal III/2018

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mematok investasi hulu migas 2018 mencapai US$11 miliar atau meningkat dibandingkan dengan realisasi tahun lalu senilai US$9,33 miliar.
Denis Riantiza & David Eka Issetiabudi | 07 Oktober 2018 18:22 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak. - Bloomberg/Jeyhun Abdulla

Bisnis.com, JAKARTA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mematok investasi hulu migas 2018 mencapai US$11 miliar atau meningkat dibandingkan dengan realisasi tahun lalu senilai US$9,33 miliar.

Namun, proyeksi investasi hulu migas pada tahun ini pun masih jauh dari target yang dipatok senilai US$14,2 miliar atau sebesar 78,84% dari perencanaan. Proyeksi tersebut relatif sama seperti realisasi investasi pada 2017 dengan persentase 75,92% dari target.

Hingga Kuartal III/2018, realisasi investasi hulu migas tercatat US$7,9 miliar atau 56% dari target tahun ini. Capaian selama 9 bulan pertama 2018 memang lebih tinggi dari realisasi investasi Januari–5 Oktober 2017 senilai US$6,74 miliar.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher mengatakan, masih ada beberapa program eksplorasi dan pengembangan yang masih berjalan dan belum selesai sehingga belum terekam investasinya.

Menurutnya, proyeksi investasi migas 2018 ditentukan berdasarkan pertimbangan kondisi terkini dengan merujuk realisasi kegiatan dan perkiraan tambahan kegiatan pada kuartal IV/2018.

“Harapannya bisa sesuai target dan nilai investasi bisa maksimal. Datanya dinamis dan terus kami pantau hingga akhir tahun,” tuturnya, Jumat (5/10/2018).

Salah satu faktor investasi hulu migas, lanjut Wisnu, adalah harga minyak dunia. Menurutnya, jika harga minyak rendah, investasi hulu migas pun menurun. Pasalnya, investasi sangat memperhitungkan keekonomian sehingga ketika harga minyak membaik investasi secara nilai juga naik.

Namun, dengan adanya peningkatan harga minyak pada tahun ini, pergerakan realisasi investasi masih belum signifikan. Rerata harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada 2017 sebesar US$51,19 per barel, sedangkan selama Januari—September 2018 sebesar US$61,61 per barel.

Wisnu menampik ada keraguan dari investor sektor hulu migas untuk menggelontorkan investasi. “Mungkin lebih tepatnya kehati-hatian karena dalam pelaksanaan program tetap mengedepankan efisiensi dan optimalisasi biaya,” tambahnya.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar masih enggan berkomentar terkait dengan realisasi investasi di hulu migas.

Selain itu, SKK Migas juga mencatat sejumlah kinerja hulu migas selama 9 bulan terakhir. Realisasi  penggantian cadangan migas atau reserve replacement ratio (RRR) sudah mencapai 82% dari target 100%.

Kemudian, realisasi pengembalian biaya operasi (cost recovery) sampai kuartal III/2018 mencapai US$8,7 miliar atau 87% dari target tahun ini US$10,1 miliar. 

Penerimaan negara dari sektor hulu migas selama Januari—September 2018 mencapai US$11,8 miliar atau 99% dari target APBN 2018 sebesar US$11,9 miliar.  Penerimaan negara dari hulu migas sampai akhir tahun ini diperkirakan tembus US$16,1 miliar atau 135% dari target.

Senada dengan realisasi investasi yang tidak mencapai target, realisasi produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi sampai dengan kuartal III/2018 pun belum mencapai target.

Menurut data SKK Migas per 30 September 2018, realisasi lifting migas 1,92 juta barel setara minyak per hari (boepd) atau 96% dari target APBN 2018 sebesar 2,00 juta boepd.

Realisasi lifting minyak bumi pada kuartal III/2018 sebesar 774.000 barel per hari (bph) atau 97% dari target 800.000 bph. Realisasi lifting gas bumi 1,15 juta boepd atau 95% dari target 1,20 juta boepd.

Wisnu mengatakan, belum tercapainya target lifting tersebut disebabkan oleh kendala produksi yang dialami beberapa kontraktor.

"Capaiannya sekitar 96%, masih ada beberapa kendala dalam produksi, utamanya antara lain di PHE ONWJ ada kendala teknis peralatan produksi dan sedang ditangani.”

Kendala lain juga dialami di Blok Rokan karena masih ada efek dari kendala teknis kebocoran pipa di fasilitas produksi. Namun, kendala tersebut sudah ditangani.

Kendala produksi juga dialami oleh Medco E&P Natuna yang hasil pengeboran belum sesuai ekspektasi dan perlu melakukan penjadwalan ulang pengeboran.  PT Pertamina EP juga hasil pengeborannya masih di bawah ekspektasi dan Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terdapat penundaan pengeboran terkait pemilihan alat pengeboran.

SKK Migas memproyeksikan realisasi lifting migas sampai akhir 2018 sebesar 95% dari target.

"Tetap mengupayakan lebih agresif dalam pengeboran pengembangan khususnya, dengan tentu melihat kondisi cadangan jangka panjang, kita mendorong eksplorasi lebih masif," katanya.

Tag : skk migas
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top