Pacu Ketahanan Pangan, Pola Tumpangsari Jadi Pilihan

Persoalan ketahanan pangan Indonesia dihadapkan pada pilihan sulit, khususnya ketika akan dilakukan produksi beberapa komoditas sekaligus. Peningkatan produksi pada satu komoditas umumnya mengorbankan produksi komoditas lainnya.
Pandu Gumilar | 03 Oktober 2018 17:56 WIB
Petani mengangkut benih padi di area pesawahan Pulo Ampel, Serang, Banten, Rabu (17/1/2018). - Antara/Weli Ayu Rejeki

Bisnis.com, JAKARTA - Persoalan ketahanan pangan Indonesia dihadapkan pada pilihan sulit, khususnya ketika akan dilakukan produksi beberapa komoditas sekaligus. Peningkatan produksi pada satu komoditas umumnya mengorbankan produksi komoditas lainnya. 

Kondisi ini kerap terjadi pada komoditas palawija. Persaingan lahan yang sempit menyebabkan hanya satu komoditas yang bisa dikembangkan pada satu wilayah. Petani memilih yang paling menguntungkan sementara sisanya dikorbankan.

Bambang Sugiharto, Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementerian Pertanian mengatakan saat ini regulator memiliki solusi untuk mengatasi tumpang tindih lahan dengan mengembangkan pola tumpangsari.

Menurutnya pola tumpangsari telah dikenal lama oleh masyarakat Indonesia. Perbedaannya, tumpangsari yang dikembangkan oleh Kementan ini terletak pada peningkatan populasi di setiap lajur tanaman.

“Pada tumpangsari biasa, jarak tanam umumnya mengikuti pola tanam biasa, sedangkan pada tumpangsari yang kami kembangkan dipadukan dengan sistem jajar legowo," ujar Bambang.

Bambang menambahkan tumpangsari tanaman dapat berkontribusi pada kesuburan tanah, produktivitas tanaman utama dan supresi terhadap gulma, penyakit, dan infestasi hama. Tumpangsari tanaman juga menawarkan peluang untuk meningkatkan keanekaragaman hayati di atas dan di bawah tanah dengan menyediakan makanan dan tempat tinggal melalui mekanismenya dalam peningkatan jumlah biomassa dan keragaman di atas dan di bawah tanah.

Lebih lanjut Bambang menyatakan bahwa tumpangsari tanam rapat memiliki keuntungan, yaitu populasi jagung 2 hektare dan padi 1 hektare dapat dibudidayakan pada luasan 1 hektare lahan sawah, sehingga ada keuntungan 2 hektare dari 1 hektare lahan yang diusahakan.

Sementara penggunaan benihnya meningkat yaitu jagung 1,5 kali lipat dan padi 2 kali lipat, dan penggunaan pupuknya hanya meningkat 1,5 kali untuk menghasilkan 3 hektare komoditas. Pola tumpangsari ini merupakan terobosan yang bermanfaat ganda, bagi pemerintah meningkatkan produksi dan ketersediaan komoditas, dan bagi petani meningkatkan pendapatan.

Tahun ini Ditjen TP mengawali pengembangan tumpangsari di 9 provinsi, dengan luas 5.400 hektare dari dana pusat dan diikuti dengan pengembangan hingga 17.000 hektare dari dana tugas pembantuan di 18 provinsi.

Pola tumpangsari yang dikembangkan Ditjen TP adalah Padi – Jagung, Jagung – Kedelai, Padi – Kedelai, sedangkan lahan yang dianggap cocok untuk dikembangkan tumpangsari disesuaikan dengan musim, yaitu lahan sawah irigasi untuk penanaman pada akhir musim hujan, lahan rawa setelah penanaman padi yang pertama, lahan sawah tadah hujan untuk penanaman pada awal musim hujan dengan populasi rapat, dan lahan kering untuk penanaman pada awal musim hujan.

Menurutnya banyak manfaat yang bisa diambil jika petani menerapkan pola tanam tumpangsari ini. Dengan pengelolaan tanaman yang baik dan didukung dengan pemupukan yang tepat dan berimbang, diharapkan tumpangsari tanaman sistem rapat ini dapat menjadi solusi bagi ketahanan pangan di masa mendatang.

Tag : kedelai, padi
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top