Bisnis Hotel Bintang 4 & 5 di Bali Bakal Pesat, Ditopang Acara IMF/World Bank

Jelang perhelatan Annual Meeting International Monetar Fund-World Bank di Bali diprediksi akan menaikkan pertumbuhan hotel di kawasan ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 03 Oktober 2018 19:50 WIB
Hard Rock Hotel Bali - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Jelang perhelatan Annual Meeting International Monetar Fund-World Bank di Bali diprediksi akan menaikkan pertumbuhan hotel di kawasan ini.

Senior Research Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan ada persaingan hotel di Bali yang sangat ketat. Namun penurunan kerja sejak 2017 sampai awal 2018 mempengaruhi kinerja secara keseluruhan dalam satu tahun. Dia menilai jumlah prospek kamar hotel masih akan bertambah setiap tahun.

“Hotel menjaga harga supaya tidak kehilangan tamu, maka ADR menurun tiap tahun,” ujar Ferry di World Trade Center I, Rabu (3/10/2018).

Ferry menjelaskan, bisnis hotel di Bali pada libur sekolah dan libut musim panas akan mengalami peningkatan hunian atau okupansi, sejak Juli. Sementara pada September merupakan akhir liburan musim panas, dan Oktober sampai November diperkirakan jumlah wisatawan asing mulai menurun. Maka, pada liburan Natal dan Tahun Baru diharapkan bisa menjadi momentum kenaikan pertumbuhan okupansi hotel di Bali.

“Sebenarnya dengan jumlah pasok hotel yang cukup banyak, itu bisa diimbangi dengan adanya event. Kita lihat di Bali pada kuartal IV itu akan ada event IMF dan FIABCI, dan itu bisa dorong sektor hotel di bali untuk lebih naik,” tutur Ferry.

Dia menyebut, tren okupansi di Bali paling lowong pada Maret, karena cenderung sepi  dan ratenya turun. Maka, jika hotel di Jakarta cenderung akan mendurun sebaliknya di Bali akan mengalami kenaikan.

“Okupansi sudah di atas performa 2016-2017. Ditambah lagi pada periode ini sudah ada libur anak sekolah. Kemudian dari sisi kinerja hotel ADR masih rendah, karena prioritas dari pemilik hotel ini masih menjaga rate dan okupansi,” paparnya.

Associate Director Investment Service Colliers International Indonesia, Aldi Garibaldi menilai sampai dengan Desember tahun ini, pertumbuhan rata-rata bisa di atas 85%. Apalagi, ada beberapa delegasi yang mengubah hotel menjadi kantor karena di Bali tidak menyediakan itu.

“Hotel yang akan masuk di Bali itu bisa diekspektasikan bintang 4 sampai 5,” papar Aldi.

Bisnis mencatat, berdasarkan Colliers Quarterly Report III/2018, pada Juni-Juli 2018 ini terjadi lonjakan wisatawan sebesar 15%. Ada pun wisatawan asal China, Australia, dan India, masih menjadi pasar terbesar bagi Bali. Target wisatawan asing pada 2018 diperkirakan 6,5 juta. Sementara sampai dengan Juli 2018 sudah tercatat 3,517,371 atau tercapai 54% dari target.

CEO PT Ristia Bintang Mahkotesejati Tbk, Richard Wiriahardja mengatakan akan menggandeng Bank Negara Indonesia (BNI) untuk membangun proyek hotel di Bali. Richard mengakui, bahwa bisnis hotel adalah salah satu kunci utama bisnis perseroan karena perolehan margin lebih besar dibandingkan margin untuk bisnis rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Karawang Timur.

“Hotel nanti ada di Jimbaran, nanti dengan BNI. Namanya Le Meridien. Sejauh ini sudah ekspansi di Ubud. Mudah-mudahan tahun ini bisa groundbreaking,” ungkap Richard.

Tag : annual meeting IMF-World Bank
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top