Mengapa Tsunami Palu Mengejutkan Secara Ilmiah

Tsunami dengan ketinggian 5,4 meter yang menerjang pesisir barat Sulawesi Tengah mengejutkan secara ilmiah, terutama menyangkut ilmu bumi.
Miftahul Ulum | 01 Oktober 2018 12:01 WIB
Suasana jembatan kuning yang ambruk akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). Dampak dari gempa 7,7SR tersebut menyebabkan sejumlah bangunan hancur dan sejumlah warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman. - Antara

Bisnis.com, SURABAYA – Tsunami dengan ketinggian 5,4 meter yang menerjang pesisir barat Sulawesi Tengah mengejutkan secara ilmiah, terutama menyangkut ilmu bumi.

Artikel di The New York Times berjudul Scientists Surprised by Power of Indonesia Tsunami. Salah satu poin menarik di artikel ini, tsunami biasanya dipicu tumbukan lempeng bumi yang terangkat atau turun di salah satu sisinya.

Adapun kejadian di Palu besar kemungkinan dipicu reruntuhan tebing di dasar laut dan pergerakan horisontal lempeng bumi. Kejadian ini biasanya tidak memicu terjadinya tsunami.

Faktor lokasi Palu & Donggala yang berada di teluk dinilai cukup berperan menyebabkan tsunami dan gempa yang menyebabkan lebih dari seribu orang meninggal tersebut.

Sejumlah pernyataan di artikel The New York Times senada dengan pendapat Hery Harjono, Mantan Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI. Dalam artikel yang dibagikan ke group percakapan, Hery Harjono mengutip pendapat Nugroho Dwi Hananto, Geophysicist LIPI.

"Nugroho menduga penyebab tsunami adalah longsoran mengingat bentuk batimetri (kedalaman dasar laut) di Teluk Palu yang berbentuk lembah sempit dan curam. Bentuk ini bukti adanya sesar Palu-Koro yang mengiris teluk ini," tulis Hery Harjono.

Dia juga telah membaca data dari situs USGS (Survei Geologi Amerika Serikat) dan gempa pada Jumat (28/9) lalu itu hampir murni sesar mendatar. Ini mendorong kesimpulan tidak ada tsunami, atau kalaupun ada kecil.

Adapun gempa di utara Kota Palu berada di sesar Palu-Koro yang memanjang hampir utara-selatan. Sesar aktif ini membelah Sulawesi menjadi dua, barat dan timur. Di bagian utara khususnya di Teluk Palu, kenampakan sesar ini di bawah laut, berupa lembah sempit dan curam. Ujung selatan sesar ini menyatu dengan sesar Matano yang memanjang hampir barat-timur dan kemudian menyatu dengan sesar Sorong yang panjang itu.

"Sejatinya banyak bagian di wilayah kita yang terkoyak sesar-sesar aktif. Di sepanjang sesar-sesar itu serpihan lempeng tektonik bergerak sebagai respons terhadap tumbukan tiga lempeng raksasa: Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia."

Heri berpendapat, serpihan lempengan di Sulawesi itulah yang kini menyebabkan gempa di Palu. "Pada dasarnya BMKG sangat beralasan menghentikan peringatan tsunami karena gempa memiliki gerakan mendatar."

Namun demikian, kata dia, untuk membuktikan tsunami di Palu karena longsoran itu memerlukan jawaban ilmiah dengan bukti di lapangan. "Itu tak sulit dilakukan," tegasnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gempa Palu

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top