Defisit Neraca Perdagangan Migas Terjadi Sejak 2011

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seakan menjadi sasaran tembak atas neraca migas yang tercatat negatif dan memberikan beban terhadap neraga perdangagan nasional.
David Eka Issetiabudi | 01 Oktober 2018 19:58 WIB
Ilustrasi kilang lepas pantai. - Bloomberg/Tim Rue

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seakan menjadi sasaran tembak atas neraca migas yang tercatat negatif dan memberikan beban terhadap neraga perdangagan nasional.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan bahwa defisit neraca migas sudah terjadi sejak 2011 senilai US$769 juta. Indonesia terakhir merasakan neraca migas positif pada 2010 dengan capaian US$2,85 miliar.

Saat itu, Indonesia mengekspor minyak mentah sebesar 144,62 miliar barel atau setara US$11,25 miliar dengan harga ICP tercatat US$61,58 per barel. Di sisi lain, impor minyak mentah tercatat hanya 102,58 miliar barel atau setara US$8,19 miliar.

Arcandra mengatakan prognosa negatif neraca migas pada tahun ini diproyeksi lebih buruk dari realisasi tahun lalu senilai US$7,7 miliar. Dalam kurun Januari - Agustus 2018, negatif neraca migas nasional tercatat US$7,32 miliar.

"Faktor utama adalah harga ICP. Prognosa hingga akhir tahun sepertinya lebih besar dari tahun lalu," katanya, Senin (1/10/2018).

Di sisi lain, Arcandra pun menjelaskan mengapa penghitungan neraca migas versi Kementerian ESDM, Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia berbeda. Menurutnya, Kementerian ESDM hanya menghitung 29 pos penghitungan yang masuk dalam ekspor - impor. 

BPS sendiri menghitung neraca migas dengan melibatkan 58 pos penghitungan, termasuk oli ataupun produk hilir migas lainnya.

"Kami sedang konsolidasi untuk menyatukan pendataannya, sekarang masih dibahas," katanya.

Alhasil dengan perbedaan perhitungan, Kementerian ESDM mengklaim bawah perhitungan nilai ekspor dan impor relatif lebih kecil dibandingkan dengan BPS ataupun Bank Indonesia.

INVESTASI SEKTOR HULU

Moody's Investors Service menyarankan Indonesia melakukan investasi migas lebih dari US$150 miliar hingga 2025 untuk menahan lajut penurunan produksi hulu migas nasional. 

Investasi itu juga diarahkan untuk mengembangkan kapasitas kilang nasional seiring dengna pertumbuhan permintaan minyak bumi.

"Kami percaya bahwa peningkatan investasi yang kemungkinan akan datang dari Pertamina," katan Asisten Wakil Presiden dan Analis Moody Rachel Chua, melalui keterangan tertulisnya, Senin (1/10/18).

Menurutnya, sekitar 80% dari investasi akan digelontorkan untuk eksplorasi ataupun produksi hulu migas, sementara US$30 miliar diarahkan untuk memperkuat industri hilirnya.

Dengan tidak adanya investasi, Moody memproyeksi produksi migas di Indonesia akan turun hampir 20% pada 2022. Di sisi lain, Indonesia akan menjadi negara importir gas pada 2022 karena pertumbuhan permintaan domestik meningkat dan tidak diiringi dengan pertumbuhan produksi.

Moody memperkirakan Indonesia tetap akan bergantung pada impor BBM, dengan persentase impor sekitar 35% - 40% pada kebutuhan crude oil pada 2022.

Ada kemungkinan penurunan impor minyak mentah, setelah pemerintah menerbitkan kebijakan penawaran wajib penjualan hasil produksi minyak KKKS kepada Pertamina.

 NERACA MIGAS ESDM (US$ miliar)

 

Uraian                       2010                2015                2017                2018*

EKSPOR           27,122             15,965             13,260             9,904

IMPOR             24,271             23,114             20,967             17,235

BALANCE (%)   2,85                 -7,15                -7,71                -7,33

Sumber: Kementerian ESDM, diolah.

Tag : migas
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top