Gempa Palu-Donggala: Kapal Tol Laut Diizinkan Ubah Rute untuk Kirim Bantuan

Kementerian Perhubungan mengizinkan kapal-kapal public service obligation digunakan untuk mengirim bantuan ke Palu dan Donggala yang lumpuh akibat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter.
Sri Mas Sari | 30 September 2018 17:06 WIB
Suasana jembatan kuning yang ambruk akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). Dampak dari gempa 7,7SR tersebut menyebabkan sejumlah bangunan hancur dan sejumlah warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan mengizinkan kapal-kapal public service obligation digunakan untuk mengirim bantuan ke Palu dan Donggala yang lumpuh akibat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter.

Pelaksana Tugas Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Wisnu Handoko mengatakan izin akan diberikan kepada kapal public service obligation (PSO) yang dioperasikan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero). Pemerintah akan mengizinkan perubahan rute (deviasi) armada PSO itu apabila ada kebutuhan pengiriman bantuan ke Sulawesi Tengah.

Relawan yang ingin membawa bantuan kemanusiaan dapat menggunakan kapal secara gratis dengan menunjukan surat tugas dari lembaga, instansi, atau organisasinya. 

"Kapal-kapal PSO bisa diomit dan deviasi ke Palu. Biaya tambat bisa digratiskan dulu seperti yang pernah dilakukan saat musibah gempa Lombok,” kata Wisnu di Jakarta, Minggu (30/9/2018).

Wisnu menyebutkan sejumlah kapal yang memungkinkan deviasi untuk pengiriman bantuan ke Palu. Kapal Tol Laut KM Logistik Nusantara 1 yang berangkat dari Surabaya, Rabu (3/10/2018), bisa deviasi ke Palu setelah dari Makassar.

Selanjutnya, KM Lambelu berangkat dari Makassar, Jumat (5/10/2018) pukul 11.00  WITA-17.00 WITA, ke Pare-pare-Balikpapan-Tarakan-Nunukan-Pantoloan. Kapal ini akan berangkat dari Balikpapan, Sabtu (6/10/2018) pukul 17.00 WITA.

Kapal Lambelu akan berangkat lagi dari Makassar, Jumat (12/10/2018) pukul 17.00 WITA-21.00 WITA, melalui Pare Pare-Balikpapan-Pantoloan. Kapal ini akan berangkat dari Balikpapan sehari kemudian pukul 21.00 WITA menuju Pantoloan. 

Ada pula KM Labobar yang berangkat Kamis (11/10/2018) pukul 21.00 WITA dari Balikpapan menuju Pantoloan. Kemudian, KM Lambelu berangkat Sabtu (20/10/2018) pukul 17.00 WITA dengan rute Balikpapan-Tarakan-Nunukan-Pantoloan. 

KM Labobar kembali melayari Balikpapan-Pantoloan pada Kamis (25/10/2018) dan berangkat pukul 21.00 WITA. Pada Sabtu (27/10/2018) pukul 21.00 WITA, KM Lambelu kembali  dijadwalkan melayari Balikpapan-Pantoloan.

Sementara itu, kapal PSO penumpang dari Jakarta dan Surabaya, KM Ciremai, juga dapat digunakan sebagai kapal bantuan kemanusiaan. Kapal ini akan berangkat dari Jakarta, Minggu (7/10/2018) pukul 16.00 WIB dan tiba Surabaya Selasa (8/10/2018) pukul 16.00 WIB. 

KM Labobar berangkat dari Jakarta, Senin (8/10/2018) pukul 19.00 WIB, dan selanjutnya berangkat dari Surabaya, Selasa (9/10/2018) pukul 15.00 WIB, menuju Balikpapan-Pantoloan.

Alternatif lain adalah kapal KM Dobonsolo dari Jakarta, Selasa (2/10/2018) dan tiba di Surabaya, Rabu (3/10/2018). Kapal ini diperkirakan tiba di Makassar, Kamis (4/10/2018), untuk selanjutnya menggunakan KM Lambelu, Jumat (5/10/2018) menuju Pare-Pare-Balikpapan-Tarakan-Nunukan, dan tiba di Pantoloan, Senin (8/10/2018). “Kapal-kapal PSO bisa diomit dan deviasi ke Palu. Biaya tambat bisa digratiskan dulu seperti yang pernah dilakukan saat musibah gempa Lombok,” kata Wisnu. 

Tag : gempa
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top