Ini Penyebab Pabrikator Baja Nasional Kesulitan Modal

Industri pabrikator baja domestik saat ini sedang menghadapi masalah permodalan, terutama untuk perusahaan skala kecil dan menengah.
Annisa Sulistyo Rini | 30 September 2018 21:39 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan Velodrome Rawamangun di Jakarta, Senin (6/3). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA—Industri pabrikator baja domestik saat ini sedang menghadapi masalah permodalan, terutama untuk perusahaan skala kecil dan menengah.

Agus Budhiarto, Ketua Umum Asosiasi Pabrikator Baja Indonesia (Apbindo), mengatakan pengusaha UKM di sektor pabrikator tidak memiliki kemampuan permodalan yang kuat. Permasalahan timbul ketika pembayaran proyek dari perusahaan-perusahaan milik negara membutuhkan waktu yang lebih panjang.

“Misalnya bilang akan dibayar 2 bulan, tetapi untuk BUMN kan prosesnya enggak bisa cepet, bisa sampai 6 bulan baru dibayar. Kalau proyek dikerjakan oleh perusahaan kecil, nafasnya enggak siap,” katanya Minggu (30/9/2018).

Dengan permasalahan tersebut, beberapa perusahaan pabrikator berskala kecil dan menengah berupaya membuat koperasi yang diharapkan bisa mendapatkan bantuan pendanaan dari lembaga lain, seperti Kementerian Koperasi dan UKM.

Menurut Agus, selama ini pembiayaan dari lembaga perbankan juga tidak mudah didapatkan oleh para pengusaha UKM di sektor pabrikator baja. Pasalnya, persyaratan untuk mendapatkan kredit dari perbankan juga tidak mudah dipenuhi, terutama terkait dengan jaminan.

Sementara itu, untuk perusahaan pabrikator berskala besar, Agus menyebutkan tidak ada kendala terkait modal kerja. “Perusahaan besar lebih mudah mendapatkan dana, seperti ada perusahaan Jepang yang membantu pendanaan dengan bunga mirip bank dan diberikan selama proyeknya aman,” jelasnya.

Mengenai produk impor yang sempat menganggu industri pabrikator, Agus menuturkan untuk mengatasinya pelaku industri bersama pemerintah membentuk asosiasi bernama Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia yang baru akan diluncurkan pada 10 Oktober 2018.

Dalam asosiasi ini, hubungan pemerintah, yang diwakili oleh Kementerian PUPR dan Kementerian Perindustrian, akan lebih erat dengan pelaku industri, dari perusahaan pabrikator, desainer, hingga kontraktor.

“Dengan adanya asosiasi, dari hulu ke hilir juga bisa nyambung. Selama ini enggak,” katanya.

Selama 2018, beberapa proyek yang banyak menggunakan produk pabrikator baja dalam negeri antara lain proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt, pembangunan menara telekomunikasi, pembangunan jembatan serta jalan tol.

Adapun, Apbindo merupakan asosiasi yang baru terbentuk pada 12 Desember 2017 dan beranggotakan perusahaan-perusahaan yang memproduksi berbagai barang berbahan baku baja, seperti tower listrik, tangki, jembatan besar, crane, dan lainnya.

Tag : industri baja
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top