Kenaikan Harga Jagung Makin Menyusahkan Peternak

Tingginya harga jagung yang menembus level Rp5.200 per kg membuat peternak ayam dan industri pakan semakin tercekik. Padahal, rata-rata biasanya hanya di kisaran Rp4.000 per kg.
Newswire | 27 September 2018 14:47 WIB
Petani memanen jagung di salah satu perkebunan di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (11/1/2018)./ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com,JAKARTA - Tingginya harga jagung yang menembus level Rp5.200 per kg membuat peternak ayam dan industri pakan semakin tercekik. Padahal, rata-rata biasanya hanya di kisaran Rp4.000 per kg.

Naiknya harga jagung menjadi salah satu indikator kurangnya suplai jagung secara nasional. Sebaliknya, batasan impor jagung masih diberlakukan karena pasokan dalam negeri dianggap sudah mencukupi. 

"Jumlah produksi jagung nasional tidak bisa memenuhi jumlah konsumsi jagung nasional. Di saat yang bersamaan, pemerintah justru membatasi impor jagung tanpa memperhatikan pasokan memadai," kata Imelda Freddy, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS).   

Hal itu berdampak langsung kepada para produsen pakan ternak. Terjadi peralihan komponen utama bahan baku pembuat pakan ternak dari jagung ke gandum. Padahal, harga gandum lebih mahal daripada jagung. 

"Lebih dari 45% pakan ayam berasal dari jagung sehingga kelangkaan jagung pasti akan memengaruhi produksi pakan nasional. Belum lagi jumlah produksi jagung harus berebut dengan permintaan konsumen yang ditujukan untuk non pakan ternak," ujarnya. 

Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pasokan jagung guna menjaga stabilitas kebutuhan untuk bahan pokok pakan ternak. Menurutnya, jumlah produksi jagung masih tidak stabil di sepanjang tahun. Penyebabnya, ada pergantian jenis komoditas pertanian yang dilakukan oleh pada petani.

Jika hal tersebut tidak segera diatasi, dan terjadi alih bahan baku pakan ke gandum, maka akan menimbulkan dampak negatif terhadap petani jagung. Hasil produksi mereka tidak terserap oleh pasar.

Terkait dengan target produksi jagung nasional sebesar 30 juta ton, Imelda menilai, hal tersebut tidak realistis. Menurutnya, proyeksi itu dihitung hanya berdasar potensi benih jagung yang dikalikan luas lahan dengan tidak mengikutsertakan variabel lainnya. Misalnya, tidak ada penghitungan soal produksi panen yang tercecer saat proses distribusi atau pengangkutan dan produksi panen yang tidak memenuhi standar atau busuk.

Idealnya, untuk menghitung target produksi perlu beberapa variabel yang harus diikutsertakan. Mulai dari jagung yang busuk, jagung yang tercecer saat distribusi,  hingga variabel eksternal, seperti cuaca, sistem irigasi, dan serangan hama.  

"Selain itu, angka ini akan sulit dicapai karena mesin pengering masih jarang ditemui di desa-desa penghasil jagung. Dengan adanya mesin pengering, petani tidak perlu mengeringkan jagung di bawah terik matahari, mesin pengering juga akan sangat membantu petani saat musim hujan," jelas Imelda. 

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah produksi jagung nasional mengalami peningkatan pada periode 2013 sampai 2017. Pada 2013 jumlah produksi jagung nasional sebanyak 18,5 juta ton dan meningkat menjadi 19 juta ton pada 20014 dan 19,6 juta ton pada 2015. Pada 2016 menjadi 19,7 juta ton dan pada 2017 sebanyak 20 juta ton.

Sebaliknya,, jumlah konsumsi jagung nasional juga terus naik. Pada periode 2013-2015, jumlah konsumsi jagung nasional berturut-turut sebesar 21,6 juta ton; 22,5 juta ton; dan 23,3 juta ton. Ada sedikit penurunan pada 2016, yaitu menjadi 22,1 juta ton. Jumlah ini kembali naik menjadi 23,3 juta ton pada 2017.

Guru Besar Institu Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menjelaskan bahwa kenaikan harga pakan ternak bukan hanya karena kebutuhan jagung sebagai bahan bakunya tidak mencukupi tetapi juga bergantungnya pakan ternak pada impor jagung membuat harganya terus terkerek tinggi. 

 Menurutnya, impor gandum yang melonjak tinggi dari 2016 seakan menjadi substitusi dari dilarangnya impor jagung lewat Permentan Nomor 57 Tahun 2015 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Bahan Pakan Asal tumbuhan ke dan dari Wilayah Indonesia.  

Pada 2016, impor gandum diketahui naik 3,1 juta ton dibandingkan dengan 2015. Di sisi lain, menurut data UN Comtrade, impor jagung pada 2016 turun 2,1 juta ton , atau  dari sebesar 3,3 juta ton pada 2015 menjadi 1,1 juta ton pada 2016. 

Melambungnya volume impor gandum, Dwi Andreas menjelaskan, tak lain masuk dalam kategori gandum untuk pakan. Gndum jenis non pangan ini baru muncul setelah adanya pembatasan impor jagung pada 2016. 

“Sekarang ini masih sampai 3 juta ton tiap tahun, gandum untuk pakan yang sebelum 2016 sama sekali tidak ada. Sangat kecil komponen gandum untuk pakan itu sebelumnya,” ujarnya. 

Mengganti pakan dari jagung ke pakan gandum sebenarnya tak bagus. Pertama, untuk menghasilkan pakan ternak memang lebih bagus kualitasnya menggunakan jagung. Kedua, ongkos produksi pakan dari gandum jauh lebih mahal. 

Mahalnya harga gandum ini pula, menurut Dwi Andreas, yang membuat harga pakan tidak terkendali di sepanjang tahun ini. Yang pada akhirnya membuat harga daging ayam dan telur pun melaju kencang. 

 “Pakan itu pada tahun ini sudah naik tiga kali. Satu tahun sudah naik tiga kali sampai Agustus kemarin. Bisa dibayangkan, kalau pakan naik, bagaimana harga daging ayam sama telur nggak naik. Nggak mungkin. Marginnya rendah mereka,” ungkapnya.

Tag : jagung
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top