Pengusaha Furnitur Minta Pemerintah Berikan Kepastian Bahan Baku

Pengusaha mebel dan kerajinan meminta pemerintah menjamin ketersediaan baku agar target ekspor dapat tercapai.
Anggara Pernando | 26 September 2018 21:15 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan kursi rotan untuk acara pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution, di sentra industri rotan Tangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (2/11). - ANTARA/Maulana Surya

Bisnis.com, JAKARTA – Pengusaha mebel dan kerajinan meminta pemerintah menjamin ketersediaan baku agar target ekspor dapat tercapai.

Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia menuturkan saat ini Indonesia merupakan negara sumber bahan baku kerajinan ketiga terbesar di dunia. Negara yang mempunyai stok bahan baku mebel di atas Indonesia hanya Brazil dan Zaire. Akan tetapi capaian penjualan ekspor produk Indonesia kalah dibandingkan negara non pemasok bahan baku seperti China hingga Vietnam.

“Artinya harusnya kami bisa punya ekspor besar. Karena itu, kami minta pemerintah jamin ketersediaan bahan baku,” kata Sobur di sela International Woodworking Furniture Manufacturing Component Expo di Kemayoran, Jakarta, Rabu (26/9/2018)

Sobur menyatakan kekhawatiran bahan baku terutama adanya permintaan Indonesia kembali membuka ekspor barang mentah seperti kayu log maupun rotan.

Dia menuturkan meski ekspektasi tinggi, realitas ekspor jauh berada di bawah target. Asosiasi memasang target ekspor produk mebel dan kerajinan senilai US$1,9 miliar atau tumbuh 9% pada tahun ini. Namun dalam catatan asosiasi dengan mengumpulkan berbagai data, ekspor baru US$1,3 miliar. Sedangkan pada 2016 lalu realisasi ekspor baru US$1,65 miliar.

“Artinya dalam 3 bulan harus dikejar US$200 juta per bulan untuk mengejar target ini,” katanya.

Sobur menyebutkan target ekspor diharapkan dapat dipacu dengan diselenggarakannya Indonesia Trade Expo. Meski begitu, ia tidak terlalu yakin ajang pameran multi produk itu dapat memacu target penjualan.

“Karena kami hanya jadi bagian kecil, digabung dengan produk lain. Jadi kurang begitu optimal. Seharusnya ada pameran besar terpisah,” katanya.

Sobur mengatakan, saat ini utuk memacu ekspor, Indonesia harus bersaing dengan produk Vietnam dan China. Kendala utama dengan persaingan ini adalah lebih mahalnya harga jual produk Indonesia. Padahal untuk jenis dan tipe produk yang sama.

“Sekarang kami pasang strategi produk yang tidak mereka jual, artinya volume permintaan pasar jauh lebih kecil,” katanya.

Meski sejumlah masalah menghambat ekspor produk mebel Indonesia, Sobur menyatakan teta berupaya target yang telah dicanangkan dapat terealisasi dengan menggerakan seluruh anggota asosiasi.

Tag : furnitur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top