Penjualan Ritel di Indonesia Bakal Tembus US$16,47 Miliar pada 2022

Penjualan ritel melalui portal perdagangan elektronik di Indonesia diperkirakan menyentuh US$16,47 miliar pada 2022, ditopang oleh penguatan konsumsi masyarakat kelas menengah.
Yanita Petriella | 26 September 2018 14:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Penjualan ritel melalui portal perdagangan elektronik di Indonesia diperkirakan menyentuh US$16,47 miliar pada 2022, ditopang oleh penguatan konsumsi masyarakat kelas menengah.

Berdasarkan data Statista, transaksi belanja ritel  via dagang-el di Tanah Air pada tahun lalu mencapai US$7,05 miliar. (Lihat grafis)

Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung berpendapat, transaksi dagang-el di Tanah Air pada tahun ini bisa menorehkan pertumbuhan dua digit alias di atas 10% dari realisasi tahun lalu.

“Jenis dagang-el kan bermacam-macam, tetapi rerata semua bisa tumbuh di atas 10% pada akhir tahun ini. Potensi penetrasi pasar dagang-el ini masih besar,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (25/9/2018).

Menurutnya, saat ini konsumen dagang-el tidak hanya didominasi oleh masyarakat kelas menengah ke atas, tetapi juga menengah ke bawah. Selain itu, daya beli konsumen Indonesia ditengarai makin menguat, serta dibarengi dengan daya adopsi yang cepat terhadap teknologi.

“Infrastruktur pendukung platform digital ini sudah cukup baik di Indonesia,” katanya.

Sayangnya, dia mengakui belum ada data pasti terkait dengan besaran transaksi masing-masing perusahaan dagang-el di Indonesia, karena kebanyakan pelaku usaha masih enggan membuka data ke publik.

Adapun, tantangan industri dagang-el Indonesia saat ini adalah kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni di sektor ekonomi digital, sehingga perlu diberikan pelatihan keterampilan. Tidak hanya itu, masih belum ada payung hukum yang jelas di sektor perdagangan elektronik.

Chief Marketing Officer Lazada Indonesia Achmad Alkatiri menambahkan, bisnis dagang-el di Indonesia masih menyimpan potensi yang sangat besar. Terlebih, beberapa daerah di Indonesia belum terbiasa melakukan belanja daring.

“Dari 2012 sampai sekarang ini perkembangan dagang-el sangat luar biasa. Pencapaian yang ada saat ini, belum menyentuh titik puncaknya karena masih banyak daerah yang belum biasa belanja daring,” katanya.

Executive Director Retailer Services Nielsen Company Indonesia Yongky Susilo menuturkan, peluang inovasi bisnis dagang-el di Tanah Air sangat terbuka lebar, seiring dengan pergeseran gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat.

“Cakupan pasar dagang-el di Indonesia saat ini baru sebesar 20% dari total penjualan industri ritel nasional. Pertumbuhan kelas menengah juga berdampak besar pada industri ini. Terlebih lagi, masyarakat menengah ke atas pun mulai kembali melakukan pengeluaran [belanja].”

TRANSAKSI GLOBAL

Sementara itu, berdasarkan riset The Nielsen Future Opportunities in FMCG E-commerce di 34 negara, penjualan ritel secara daring di tingkat global untuk produk-produk fast moving consumer goods (FMCG) saat ini tumbuh empat kali lebih cepat dari penjualan secara luring.

Rerata pertumbuhan belanja FMCG melalui portal dagang-el mencpai sekitar 18,4% per tahun. Adapun, total penjualan FMCG global via transaksi daring pada 2022 ditaksir menembus US$400 miliar.

Nielsen’s Developed Markets Digital Retail Lead Ji Hyuk Park mengatakan, kawasan Asia Pasifik diproyeksi memberikan sumbangsih pertumbuhan terbesar untuk bisnis FMCG secara daring dalam 5 tahun ke depan.

“Sebab, 43% konsumen di kawasan Asia Pasifik sudah menggunakan platform dagang-el untuk pengiriman produk ke rumah. Selain itu, sebesar 15% konsumen menunjukkan bahwa konektivitas internet yang lebih baik akan meningkatkan kecenderungan mereka untuk berbelanja daring.”

Dalam laporan itu, Korea Selatan memimpin sebagai pasar dengan transaksi daring terbesar, di mana 18% dari semua FMCG di negara tersebut dijual melalui dagang-el. Posisi kedua ditempati China, di mana 16% FMCG dijual secara daring.

“Taiwan, Jepang, dan Australia juga menempati peringkat lima besar untuk pangsa pasar FMCG daring, masing-masing 5,6%, 5%, dan 3%,” ucapnya.

Ji Hyuk mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor pendorong pertumbuhan penjualan FMCG secara daring di masa depan, yaitu pertumbuhan dasar untuk ukuran pasar, penetrasi rekening bank, penetrasi internet, dan tingkat penggunaan ponsel pintar.

Selain itu, adanya kemudahan melakukan bisnis, kepadatan penduduk, dan keandalan pos pengiriman turut menjadi faktor pesatnya penjualan FMCG via dagang-el.

Nielsen memproyeksikan pangsa pasar penjualan FMCG secara daring di Jepang akan naik menjadi 7,9% pada 2022 dari 5% pada 2017. Pasalnya, 24% konsumen di Negeri Sakura sudah membeli FMCG secara daring untuk dikirimkan ke rumah.

Sementara itu, pangsa pasar FMCG secara daring di Taiwan akan naik menjadi 8,1% pada 2022 dari 5,6% pada 2017, sedangkan di Australia akan naik menjadi 4,8% pada 2022 dari 3% pada tahun lalu.

“Pasar yang sedang berkembang ini sangat menjanjikan untuk menopang pertumbuhan penjualan FMCG secara daring di tingkat global, seiring dengan melompatnya [preferensi] konsumen dari perdagangan tradisional ke perdagangan daring,” terang Ji Hyuk

Melihat peluang tersebut, dia menyarankan para produsen FMCG—baik yang menjual secara daring maupun luring—mulai mengutamakan platform omnichannel untuk mengutamakan nilai kepercayaan agar memberikan dampak bagi konsumen dan agar bisa bertahan dalam persaingan industri ritel.

Proyeksi Penjualan Ritel Dagang-el di Indonesia

--------------------------------

Tahun Nilai (miliar US$)

--------------------------------

2016    5,7

2017    7,05

2018    8,59

2019    10,36

2020    12,34

2021    14,4

2022    16,47

--------------------------------

Sumber : Statista, 2018

Tag : e-commerce
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top