Manfaatkan Peluang Haji, Ekspor ke Saudi Bisa Bertambah US$650 Juta/Tahun

Indonesia berpeluang meningkatkan nilai ekspor nonmigas ke Arab Saudi sebanyak US$650 juta per tahun, seiring dengan naiknya jumlah jemaah haji dan umrah dari Tanah Air.
Yanita Petriella | 25 September 2018 14:17 WIB
Jemaah tengah berada di Mina, Arab Saudi, pada pelaksanaan ibadah haji 2017 - Reuters/Suhaib Salem

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia berpeluang meningkatkan nilai ekspor nonmigas ke Arab Saudi sebanyak US$650 juta per tahun, seiring dengan naiknya jumlah jemaah haji dan umrah dari Tanah Air.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan, ekspor RI ke Arab Saudi mengalami tren penurunan sebesar 8,98% sepanjang 2013—2017.

Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi pada periode Januari–Juli 2018 tercatat US$738,05 juta, menurun sebesar 12,14% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$840,08 juta.

“Dengan perhitungan minimal pengeluaran jemaah haji dan umrah Indonesia yang senilai US$500 per orang, maka potensi untuk meningkatkan ekspor ke Arab Saudi per tahun diperkirakan akan mencapai US$650 juta atau meningkat 47% dibandingkan dengan capaian pada 2017,” ujarnya, Senin (24/9/2018).

Dia menuturkan, kuota jemaah haji Indonesia meningkat setiap tahunnya. Pada 2017, jumlahnya mencapai 221.000 orang. Angka ini diperkirakan terus meningkat sejalan dengan perluasan daya tampung Masjidil Haram.

Ditambah lagi, pemerintah telah mengajukan permohonan tambahan kuota jemaah haji kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sejumlah 29.000 orang.

Apabila disetujui, jumlah jemaah haji Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 250.000 orang. Adapun, jumlah jemaah umrah Indonesia setiap tahunnya mencapai 1,1 juta orang.

 “Besarnya jumlah jemaah haji dan umrah Indonesia setiap tahunnya membuat pemenuhan kebutuhan para jemaah ini menjadi peluang yang sangat baik untuk meningkatkan ekspor nonmigas Indonesia,” kata Arlinda.

Beberapa komponen kebutuhan jemaah haji yang dapat dipasok dari Indonesia yakni makanan dan minuman, bus untuk transportasi darat, serta perlengkapan penginapan.

Selama ini, sebut Arlinda, mekanisme pemenuhan kebutuhan jemaah haji dan umrah Indonesia di Tanah Suci dilakukan melalui penunjukan langsung dengan sistem seleksi.

Untuk itu, dia berharap agar Kementerian Agama dapat mengimbau perusahaan penyedia jasa di Arab Saudi yang ditunjuk untuk menggunakan produk-produk Indonesia dalam memenuhi kebutuhan para jemaah.

Saat ini otoritas perdagangan telah melayangkan surat Kemenag agar potensi ekspor ke Arab Saudi dapat segera dimanfaatkan.

“Kami akan membantu menyiapkan produk-produk yang dibutuhkan melalui para pengusaha dan eksportir yang bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri [Kadin] atau asosiasi pengusaha. Untuk itu, kami mengharapkan dukungan dari seluruh pihak terkait agar rencana ini dapat segera dilaksanakan,” ucapnya.

 Saat dihubungi secara terpisah, Ketua Serikat Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia Syam Resfiadi berpendapat rencana Kemendag untuk meningkatkan ekspor ke Arab Saudi melalui pemasokan  kebutuhan jemaah haji dan umrah akan berjalan dengan lambat.

Pasalnya, selama ini kebutuhan jemaah haji dan umroh masih bisa ditangani dari Arab Saudi.

“Kalaupun mau, buat saja aturan untuk persiapan bahan baku khusus  makanan Indonesia yang sifatnya bumbu saja agar rasa bumbunya sama atau asli Indonesia. Karena kalau pasokan daging, ayam, ikan dan sayur sudah ada di sana [Arab Saudi],” katanya.

Menurutnya, jika ingin menggenjot ekspor, pemerintah perlu mempelajari lebih dalam lagi apa saja kebutuhan jemaah asal Indonesia, serta apa saja yang bisa dan harus disiapkan dari Indonesia. 

Tag : Ibadah Haji
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top