LAPORAN DARI HONG KONG: Strategi AP I Kelola Bandara Sesuai Destinasi

Bagi PT Angkasa Pura I (Persero), pengembangan bandara bukan hanya soal pengaturan penumpang dan pesawat, tetapi juga mengembangkan destinasi.
Hafiyyan | 24 September 2018 14:14 WIB
Suasana di dalam terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/6/2018). - Bisnis/Yustinus Andry

Bisnis.com, JAKARTA – Bagi PT Angkasa Pura I (Persero), pengembangan bandara bukan hanya soal pengaturan penumpang dan pesawat, tetapi juga mengembangkan destinasi. Oleh karena itu, setiap bandara memiliki karakter uniknya tersendiri.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP I Devy Suradji mengungkapkan perusahaan tidak sekadar membangun suatu bandara, tetapi juga mengembangkan destinasinya. Bila pengembangan destinasi dikesampingkan, bandara tidak akan hidup.

"Misalnya sederhana, bangun bandara di Kulon Progo, ya bukan bangun berarti bangun bandara tok. Mesti bikin metropolisnya, konektivitasnya, mesti dipikir. Kami harus bangun destinasinya, kalau tidak, bandara tidak hidup," ujarnya dalam kunjungan ke Hong Kong pada Jumat (21/9/2018).

Metropolis artinya kota menjadi pusat kegiatan tertentu, baik pemerintahan maupun industri dan perdagangan. Dengan konsep pengembangan destinasi, AP I mengedepankan kearifan lokal sekaligus kebutuhan suatu daerah.

Devy memberikan contoh pengembangan Bandara Ahmad Yani di Semarang. Di sana, AP I ngotot membangun berbagai moda transportasi yang menghubungan bandara dan kota.

Alasannya, Bandara Ahmad Yani juga menjadi tempat plesir bagi masyarakat sekitar. Lokasinya juga dekat dengan pusat kota, sehingga bandara tersebut dapat difungsikan sebagai tempat wisata baru.

"Jadi, kemudahan orang keluar-masuk bikin bandara itu jadi destinasi sendiri, sama seperti bandara Changi di Singapura. Changi memang sengaja didukung juga untuk menarik pengunjung yang bukan penumpang," paparnya.

Karakter daerah dan masyarakat juga menjadi pertimbangan konsep pengembangan, sehingga setiap bandara mengedepankan keunikan masing-masing daerah. Hal ini membuat tidak ada satu pun bandara di bawah AP I yang dapat diseragamkan dengan yang lain.

Selain itu, perencanaan konsep bandara tidak bisa menunggu 2 hingga 3 tahun, karena kebutuhan pelesir kian dinamis. Pada 2018, AP I akan fokus mengembangkan 12 bandara dengan cara ekspansi, beautifikasi, serta penambahan terminal atau bandara baru.

Prioritasnya semua sama, tetapi berbeda pengembangannya. Misalnya, Bandara Sam Ratulangi, Manado, didahulukan sisi beautifikasinya karena jumlah penumpang belum penuh.

Adapun, Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, harus segera menambah kapasitas baru dengan membuat Bandara Kulon Progo. Pasalnya, kapasitas Adisujipto hanya 1,8 juta penumpang, sedangkan pelayanannya sudah mencapai 7,8 juta penumpang.

"Adisutjiipto tak ada pilihan lain, selain bikin bandara baru. April 2019 Bandara Kulon Progo beroperasi dengan kapasitas yang lebih besar," paparnya.

Di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, AP I akan memperluas terminal karena sudah terlampau ramai.

Devy menganalogikan pada pukul 01.00 WITA hingga 05.00 WITA, kondisi bandara itu seperti menampung seluruh pengunjung dari ITC. Keramaian ini disebabkan peranannya sebagai hub penerbangan ke wilayah Indonesia bagian timur.

Di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan, AP I akan mengemas fasilitas pelesir tersebut tidak hanya untuk penumpang, tetapi juga pengunjung. Hal ini bertujuan menggerakkan perekonomian bandara dengan memanfaatkan luasannya.

"Rata-rata bandara di bawah kapasitas 2 juta penumpang memang masih rugi. Seperti juga di Ambon, Biak, Kupang, kami berupaya supaya mereka tidak rugi," tuturnya.

Sementara itu, sambung Devy, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, yang sebelumnya didesain menjadi tujuan destinasi wisata kini mulai berubah. Bali tidak lagi menjadi end destination, tetapi juga hub ke tempat wisata lain di Indonesia.

"Sekarang orang tidak hanya puas pergi ke Bali. Dia mau ke Raja Ampat, Sumba, Lombok, Labuan Bajo. Padahal dulunya didesain sebagai end destination," tambahnya.

Oleh karena itu, tim AP I sedang mencari cara bagaimana menghubungkan turis asing di Bali untuk dihubungan dengan sejumlah tempat wisata unggulan nasional.

Secara keseluruhan, Devy melihat pengelolaan bandara sebagai pengemasan pengalaman penumpang (passenger experience). Oleh karena itu, pengembangannya harus disesuaikan dengan destinasi, dan destinasi yang dibangun juga sesuai dengan peruntukan bandara.

Tag : angkasa pura i
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top