Aplikasi 'Toko Indonesia' Diluncurkan untuk Berdayakan Toko Kelontong

Berharap dapat meningkatkan omzet pedagang warung kelontong, PT Ritel Global Solusi bersama PT Envi Teknologi Indonesia akan meluncurkan aplikasi Toko Indonesia.
M. Richard | 24 September 2018 15:29 WIB
Sejumlah petugas Satpol PP berjaga di atas trotoar yang dipenuhi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Tanah Abang, Jakarta, Rabu (18/10). Meskipun sudah ditertibkan, para PKL tersebut masih saja berjualan di atas trotoar dengan alasan harga sewa toko yang sangat mahal. ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA -- Berharap dapat meningkatkan omzet pedagang warung kelontong, PT Ritel Global Solusi bersama PT Envi Teknologi Indonesia akan meluncurkan aplikasi Toko Indonesia.

Komisaris PT Ritel Global Solusi Devi Erna Rachmawati mengatakan omzet pedagang warung kelontong turun cukup drastis dari Rp1 juta per hari pada 2015 menjadi Rp500.000 per hari.

"Dengan aplikasi Toko Ritel [KO-IN] kami berharapnya daya saing pedagang warung dapat kembali lagi seperti dulu," katanya kepada Bisnis, di Jakarta, Senin (24/9/2018).

Berdasarkan data PT Ritel Global Solusi, omzet yang pedagang warung kelontong tutun dari Rp1 juta per hari pada 2015 menjadi Rp500.000 per hari. Tidak hanya itu, total unit usaha juga turun dari 1,65 juta menjadi 1,45 juta unit.

Menurutnya, hal tersebut cukup ironis, karena dari karena keuntungan yang bisa didapat pedagang hanya 10% dari total penjualnnya, yang artinya pedagang saat ini hanya menerima sekitar Rp1,5 juta per bulan, dan belum termasuk pengeluaran tetapnya, seperti listrik.

Dengan KO-IN, Devi menjelaskan, pedagang akan terbantu dalam mendata stok barang, melakukan pemesanan, dan meminimalisir ongkos angkut barangnya.

Hal tersebut, dikarenakan PT Ritel Global Solusi akan membantu mendatangkan dari tempat terdekat dan harga yang paling terjangkau bagi pedagang.

"Kami nanti akan buat semacam tempat logistic center-nya, dan akan mengirimkan dengan total nilai minimum barang Rp75.000. Sehingga, pelaku warung juga tidak perlu takut untuk memesan dalam jumlah kecil," ucapnya.

Dengan penggunaan aplikasi yang lebih sering, Devi juga optimistis pelaku warung dapat lebih teratur mengatur keuangan usahanya. 

"Tidak hanya menyediakan aplikasi kepada pedagang warung, kami juga membimbing mereka supaya lebih disiplin," ucapnya.

Selain itu, penggunaan aplikasi KO-IN membeli merek waralaba apapun, pedagang hanya menggunakan dan membeli barang lewat aplikasi.

Sehingga, pedagang warung juga tidak perlu khawatir dengan beban modal yang dikeluarkan untuk penggunaan aplikasinya. "Pedagang warung akan tetap dengan namanya sendiri, dan tidak merubah apapun dalam struktur kepemilikan warungnya," ucapnya.

KO-IN juga tidak memaksa pedagang warung untuk naik kelas dengan cepat, sehingga mereka bisa memperbaiki tata kelola usahanya seiring berjalan waktu.

"Ini juga penting, kalau kita tidak menekan mereka untuk naik mejadi pelaku ritel modern, jika demikian pedagang ini akan langsung berhadapan dengan birokrasi yang sulit dan fiskus pajak," katanya.

Menurut Devi, setiap orang pasti menginingkan warung yang paling dekat dengan rumahnya. Hanya saja, dikarenakan harga dan ketidaklengkapan barang membuat masyrakat lebih memilih berbelanja di gerai ritel modern.

"Nah kami akan membantu disana, menyediakan barang yang lebih lengkap dengan harga yang murah," tutur Devi.

Selain itu, Devi melihat, konsumsi rumah tangga Indonesia juga semakin membaik, sehingga dirinya optimistis pedagang warung juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk berkembang.

Hanya saja, katanya, permasalahan yang sering dihadapi pelaku warung adalah geliat peritel modern yang sering melampaui aturan zonasi. Sehingga banyak kesempatan warung kelontong yang terambil.

"Iya sebenarnya ada Peraturan Presiden No 112 Tahun 2007 pasal 1 ayat 12, yang menyatakan zonasi minimal 1 km dengan pedangan kecil. Tapi dalam praktiknya banyak yang melewati itu. Kami akan bantu komunikasikan," katanya.

Adapun, Aplikasi KO-IN akan diluncurkan pada 9 Desember mendatang di Depok. Saat ini PT ritel Global sedang mencari mitra pedagang warung, dan mereka optimistis dapat menjaring 150 warung pada peluncuran aplikasi KO-IN.

CEO PT EnvyTechnologies Indonesia Moch Sopyan Mohd Rashdi mengatakan dengan penggunaan aplikasi KO-IN pemberdayaan dan pemerataan ekonomi akan lebih mudah.

Pada dasarnya, Sofyan menjelaskan, aplikasi KO-IN bekerja layaknya aplikasi penyedia layanan transportasi. Padagang dapat dengan mudah mendata stok barang dan memsannya kembali lewat aplikasi, dengan biaya kirim yang terjangkau.

"Semuanya akan serba online, dari pembukuan dan pemesanan barang, dan kami berharap mereka bisa daya saing mereka bisa terangkat," katanya.

Menanggapi Hal Tersebut, Ketua Umum Asosiasi UMKM Ikhsan Ingratubun mengapresiasi langkah PT Ritel Global Solusi.

Hanya saja, katanya, KO-IN harus mampu menjaga tingkat harga jualnya paling tidak sama dengan grosir-grosir besar. "Karena kalau lebih mahal daripada grosir, pedagang warung pasti akan lari mencari barangnya sendiri," katanya.

Oleh karena itu, Ikhsan menyarankan, KO-IN untuk dapat memperkuat pelaku-pelaku industri kecil dan menengah yang terjaring. Bagaimanapun, jika masih bergantung dengan barang-barang yang sama dengan pelaku ritel modern, maka KO-IN mau tidak mau akan menetapkan harga jual yang sama.

"Padahal kalau kaum ibu-ibu diperumahan itu sangat sensitif dengan harga, kalau ada yang lebih murah, pasti mereka memilih tempat itu," ucapnya

Tag : ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top