Penjualan Ritel Saat Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 Ditaksir Rp55 Triliun

Pengusaha sektor ritel optimistis capaian penjualan pada pengujung kuartal IV/2018 dapat menembus sekitar Rp55 triliun, berkat topangan momentum Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.
Yanita Petriella | 24 September 2018 15:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha sektor ritel optimistis capaian penjualan pada pengujung kuartal IV/2018 dapat menembus sekitar Rp55 triliun, berkat topangan momentum Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah  memperkirakan, pertumbuhan penjualan ritel saat Natal dan Tahun Baru kali ini dapat mencapai 10% dari realisasi tahun lalu senilai Rp50 triliun.

“Tahun lalu pertumbuhan penjualan ritel untuk Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 hanya satu digit dibandingan dengan pencapaian pada periode sebelumnya [2016],” ujarnya kepada Bisnis.com, Minggu  (23/9/2018).

Budihardjo menjelaskan, momentum Natal dan Tahun Baru memberikan kontribusi sebesar 10% dari total penjualan sektor ritel sepanjang 2017 senilai Rp500 triliun. Dari angka tersebut, Rp200 triliun di antaranya adalah hasil dari penjualan produk makanan dan minuman.

Untuk tahun ini, dia berharap para peritel lebih kreatif dalam membuat terobosan guna meningkatkan penjualan. Pasalnya, berkaca dari realisasi tahun lalu, kenaikan penjualan saat Natal dan Tahun Baru lebih dipengaruhi oleh pencairan dana sosial anggaran pemerintah.

Analis Narada Asset Management Kiswoyo Adie Joe tak memungkiri, momentum Natal dan Tahun Baru akan menjadi periode puncak konsumsi ritel kedua terbesar di Indonesia, setelah momentum Idulfitri.

Pasalnya, sebagian masyarakat Indonesia diyakini bakal mengantongi bonus tahunan pada pengujung kuartal IV/2018, sehingga mereka diharapkan mau memacu nilai belanja lebih besar pada akhir tahun.

“Secara keseluruhan, pertumbuhan penjualan ritel saat Natal dan Tahun Baru tahun ini saya prediksi mencapai 10% dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, untuk ritel segmen toserba [department store], saya kira tumbuhnya akan di bawah 10%,” tuturnya.

Dia berpendapat, tantangan bisnis toserba saat ini adalah persaingan dengan perusahaan perdagangan elektronik—yang didominasi penjualan produk fesyen—sehingga pembelian di toko ritel luring menjadi tidak maksimal. Ditambah lagi, sebutnya, masyarakat saat ini lebih memilih mengeluarkan uangnya untuk berlibur.

“Untuk penjualan ritel dari lini produk fesyen, saya kira, agak kurang pembeliannya pada Natal dan Tahun Baru kali ini. Justru, yang masih akan kuat penjualannya adalah dari lini produk makanan dan minuman.”

Pada perkembangan lain, Executive Director Retailer Services Nielsen Company Indonesia Yongky Susilo memproyeksikan, penjualan ritel pada Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 hanya akan tumbuh 5% dari tahun lalu.

Menurutnya, kontribusi penjualan ritel saat Natal dan Tahun Baru hanya mencapai rata-rata 5% dari total penjualan ritel per tahun, lebih sedikit dibandingkan dengan kontribusi penjualan saat Lebaran yang mencapai 30%.

Berdasarkan risetnya, bisnis ritel yang menyasar konsumen kelas menengah ke atas kemungkinan bisa menorehkan pertumbuhan penjualan sekitar 20% pada akhir tahun ini. Pasalnya, konsumen menengah ke atas memiliki daya beli yang sangat solid.

 “Nah, kalau untuk ritel segmen menengah ke bawah, pertumbuhan penjualannya hanya 5% untuk momentum akhir tahun ini, sama seperti saat Lebaran kemarin. Namun, ini masih akan lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.”

PERISAPAN PERITEL

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menjelaskan, optimisme kenaikan penjualan saat Natal dan Tahun Baru kali ini merupakan kelanjutan dari tren positif belanja masyarakat pada Idulfitri.

Untuk menjawab prospek cerah tersebut, sebutnya, beberapa peritel sudah melakukan persiapan mulai dari meningkatkan stok hingga perbaikan pelayanan. Khusus untuk stok, saat ini sebagian peritel tengah melakukan uji pasar terhadap model barang yang akan ditawarkan pada akhir tahun.

Dari kalangan pelaku usaha, Director Investor Relations & Corporate Communication PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) Fetty Kwartati optimistis pertumbuhan penjualan MAPI saat Natal dan Tahun Baru nanti akan mencapai 18%—19%. 

Tahun lalu, pertumbuhan penjualan MAPI saat Natal dan Tahun Baru mencapai 20%. Secara general, kontribusi penjualan saat Natal dan Tahun Baru setiap tahunnya berkisar antara 10%—15% dari total penjualan emiten ritel tersebut.

“Untuk besarnya penjualan tahun lalu, kami tidak bisa sebutkan. Namun, untuk tahun ini, tantangan yang paling utama buat kami adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang sampai saat ini sudah melemah secara signifikan," ucapnya. 

Menurutnya, MAPI telah melakukan persiapan untuk menggaet konsumen pada kuartal IV/2018 baik dari sisi barang dagangan, program promosi, maupun pembukaan toko baru.

"Stok sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Produk akhir tahun yang biasanya paling banyak dibeli oleh masyarakat sangat merata mulai dari apparel, alas kaki, peralatan rumah tangga, kosmetika, hingga makanan dan minuman.”

Managing Director PT Panen Lestari Internusa Handakan Santosa mengatakan, SOGO Department Store menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 20% saat Natal dan Tahun Baru, dengan diimbangi oleh peningkatan stok sebanyak 3 kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.  Setyadi Surya memprediksi kenaikan penjualan korporasinya dapat mencapai 20%  saat Natal dan Tahun Baru dibandingkan dengan rerata capaian per bulan. 

Tag : ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top