Rating Freeport Terdorong Peringkat Utang Perjanjian Divestasi

Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menaikkan peringkat utang Freeport-McMoRan Inc. menjadi BB dari sebelumnya BB-. Salah satu faktor pendorong kenaikan peringkat ialah rencana divestasi PT Freeport Indonesia (PTFI).
Hafiyyan | 19 September 2018 21:13 WIB
Jalan panjang divestasi saham 51% Freeport. - Bisnis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menaikkan peringkat utang Freeport-McMoRan Inc. menjadi BB dari sebelumnya BB-. Salah satu faktor pendorong kenaikan peringkat ialah rencana divestasi PT Freeport Indonesia (PTFI).

Analis S&P Global Ratings ChizaB. Vitta dan Donald Marleau menyampaikan, pihaknya menaikkan peringkat utang Freeport-McMoRan menjadi BB dari sebelumnya BB-. Proyeksi utang ialah stabil.

“Pada saat yang sama, kami menaikkan senior unsecured debt perusahaan ke level BB dari sebelumnya BB-,” paparnya dalam keterangan resmi, Rabu (19/9/2018).

Menurut keduanya, kenaikan peringkat ini mencerminkan pandangan S&P terhadap Head of Agreement (HoA) antara Freeport, Rio Tinto, dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) perihal divestasi PTFI. Hal tersebut menjadi langkah signifikan untuk mengamankan operasional perusahaan dalam jangka panjang di Indonesia.

Perjanjian HoA akan ditindaklanjuti bersama dengan pembaruan rencana penambangan sehingga memberikan kejelasan operasi tambang Grasberg yang dijalankan PT Freeport Indonesia (PTFI). Selama ini, tambang Grasberg menyumbang proporsi pendapatan yang besar terhadap konsolidasi perusahaan.

Pada 2017, tambang Grasberg menyumbang 55% pendapatan operasional konsolidasi Freeport sehingga mendorong laba perusahaan. Peningkatan pemasukan turut menambah kemampuan perusahaan yang berbasis di Kota Phoenix, negara bagian Arizona, Amerika Serikat, ini dalam membayar utang.

Tahun lalu, Freeport telah membayar utang sebesar US$4,2 miliar. Per Juni 2018, total utang menurun di bawah US$7,5 miliar, sehingga mencerminkan leverage 12 bulan ke depan sebesar 1,3 kali.

Vitta dan Marleau menyebutkan, prospek stabil merefleksikan ekspektasi leverage Freeport akan tetap di bawah 4 kali dalam dua tahun ke depan, meskipun harga emas dan tembaga melemah. Asumsi itu juga memperhitungkan peningkatan belanja modal perusahaan untuk mengembangkan tambang bawah tanah (underground) di Grasberg.

“Dengan demikian, kami melihat leverage akan meningkat dari level saat ini menjadi 2—3 kali pada 2019,” tuturnya.

S&P dapat menurunkan peringkat utang Freeport bila leverage melampaui 4 kali. Hal ini bisa terjadi jika volume produksi tambang Grasberg lebih rendah, sedangkan biaya modal membengkak.

Sebaliknya, S&P akan mempertimbangkan menaikkan peringkat kredit perusahaan jika leverage berada di bawah level 2 kali. Di sisi lain, kejelasan operasional Freeport di Indonesia seperti perizinan penambangan, divestasi saham, dan rencana pembangunan smelter turut memegang peranan penting terhadap prospek perusahaan.

Tag : pertambangan, Freeport
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top