2019, Tantangan Ekspor Barang dan Jasa Makin Berat

Tantangan kinerja ekspor nonmigas pada 2019 bakal makin berat, karena dampak negatif dari perang dagang Amerika Serikat dan China baru akan benar-benar dirasakan pada tahun depan.
Yustinus Andri & Yanita Petriella | 19 September 2018 13:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Tantangan kinerja ekspor nonmigas pada 2019 bakal makin berat, karena dampak negatif dari perang dagang Amerika Serikat dan China baru akan benar-benar dirasakan pada tahun depan.

Wakil Direktur LPEM  FEB Universitas Indonesia Kiki Verico memperkirakan dampak perang dagang akan mulai terasa pada 2019 baik dari sisi ekspor maupun impor.

“Dampak dari AS mungkin tidak terasa besar, karena ekspor kita lebih banyak produk jadi dan impornya juga masih bisa dikontrol. Tetapi dengan China ini yang harus diwaspadai,” ujarnya, Selasa (18/9/2018).

Menurutnya, hal tersebut terjadi lantaran Indonesia mayoritas mengekspor produk barang mentah ke China. Adanya pembatasan impor dari Negari Panda oleh Paman Sam, berpotensi membuat konsumsi barang mentah China dari RI melambat secara gradual.

Di sisi lain, dia melihat adanya potensi penurunan impor batu bara oleh China dari Indonesia. Salah satunya disebabkan oleh kelebihan pasokan besi dan baja China, yang membuat pabrik di negara tersebut mengurangi produksi, padahal batu bara adalah bahan bakar utama pembuatan komoditas tersebut.

Indikasi awal dampak negatif China tersebut telah terlihat pada saat ini, di mana ekspor nonmigas ke China mengalami penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), eskpor nonmigas ke China ada Agustus terkoreksi 83,5% dari bulan sebelumnya.

Kiki berujar, produk ekspor Indonesia pun tidak akan mudah mengisi ruang yang muncul akibat perang dagang antara China dan AS. Pasalnya Indonesia harus bersaing lebih ketat dengan Vietnam yang juga sedag mengincar peluang dari perang dagag tersebut. Terlebih, lanjutnya, sektor manufaktur Vietnam jauh lebih kuat dibandingkan dengan Indonesia.

“Saya juga melihat AS dan China ini tidak akan berperang dalam waktu yang lama. Perkiraan saya kurang dari lima tahun karena AS sejatinya adalah negera yang terbuka. Jadi peluang memanfaatkan kekosongan pasokan akibat perang dagang ini juga tidak akan berjalan lama,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan (Kemendag)  Kasan Muhri menyebutkan, pengusaha terutama eksportir Indonesia harus memanfaatkan secara maksimal fenomena perang dagang tersebut.

Dia menyebutkan, produk buah-buahan, benda dari besi dan baja serta aluminium dapat menjadi pengisi kekosongan yang ditinggalkan AS di China. Sebaliknya, RI juga dapat mendongkrak ekspor besi dan baja serta aluminium ke AS.

“Terlebih kita punya perjanjian dagang bebas China-Asean Free Trade Aggrement (CAFTA) dengan China. Lalu dengan AS, kita dapat memanfaatkan fasilitas GSP dan pengecualian bea masuk beberapa produk besi dan baja. Jadi kini tinggal kesiapan dari sektor usaha memanfaatkannya,” katanya.

Dia juga meminta sektor usaha benar-benar memanfaatkan perang dagang tersebut. Sebab dia juga meyakini, fenomena tersebut tidak akan berjalan lama, lantaran kebijakan tersebut hanyalah gimmick politik dari Presiden AS Donald Trump.

Apabila, sektor usaha dapat memanfaatkan dengan baik, maka ekspor Indonesia dapat terdongkrak pada tahun depan. Ekspor nonmigas pada tahun depan diperkirakannya akan sedikit lebih tinggi dari tahun ini yang dipatok 11%.

“Target ekspor di RAPBN 2019 berada pada rentang 7%-9%. Kita akan evaluasi dulu perolehan tahun ini, terutama dari nonmigas. Tetapi ada peluang [target ekspor nonmigas]akan kembali naik tahun depan. Ini PR buat kita,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kadin Handito Juwono optimis Indonesia dapat memanfaatkan peluang dari perang dagang tersebut. Fenomena itu, diyakininya akan semakin mempermudah target kenaikan ekspor 500% dari 2016 hingga 2030.

“Kita punya lima strategi untuk mencapai target 500% itu, salah satunya pengembangan pasar eskpor. Nah, kita dapat peluang merealisasikan pengembangan pasar itu dari perang dagang,” katanya.

Adapun, menurut Handito, selain pengembangan pasar, strategi lain yang disiapkan adalah penambahan jumlah eksportir, diversifikasi produk eskpor, peningkatan harga ekspor dan penngembangan ekosistem ekspor. Hal itu membuat, target kenaikan ekspor 500% bukanlah ilusi belaka.

Dia mengklaim, penambahan jumlah eksportir dapat terbantu dari kehadiran perdagangan daring. Menurutnya, eksportir Indonesia dapat memanfaatkan market place yang ada saat ini untuk memasarkan produknya dengan lebih mudah. Ahasil, diversifikasi produk ekspor pun akan tercipta dengan sendirinya.

“Namun hal itu harus dibantu dari pemerintah untuk batasi produk yang dipasang di market place yang berasal dari impor. Supaya ada ruang bagi produk Indonesia untuk bersaing di Indonesia yang berlanjut di pasar global,” ujarnya. Kadin pun menargetkan, hingga 2030 akan ada 1 juta eksportir baru yang lahir.

EKSPOR JASA

Dari sisi perdagangan jasa, Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi meyakini ekspor jasa pada 2019 dapat menembus US$32.000 juta hingga US$35.000 juta.

Menurutnya, terdapat tiga potensi besar untuk mendongkrak ekspor jasa yakni dari sektor jasa transportasi, asuransi, dan pariwisata. Adapun, ekspor jasa sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai US$29.132 juta. 

Hal itu berdasarkan pada pola setiap tahunnya di mana ekspor jasa di semester kedua selalu lebih tinggi dibandingkan dengan paruh pertama tahun berjalan. 

Berdasarkan data Bank Indonesia, ekspor sektor jasa pada semester I/2018 ini mencapai US$13.352,61 juta, tumbuh dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$11.375,84 juta. Sepanjang 2017, ekspor jasa menembus US$24.820,89 juta, naik dari 2016 yang mencapai US$23.323,54 juta. 

"Kalau pakai rerata pertumbuhan kuartal I dan kuartal II untuk kuartal III dan kuartal IV diproyeksikan tahun ini ekspor sektor jasa mencapai $29.132 juta. Di semester I/2018 bila dibandingkan tahun lalu tumbuhnya 17,38%," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (18/9).

Pengamat Ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Mari Elka Pangestu menuturkan dalam jangka pendek, sektor pariwisata yang bisa menghasilkan devisa dapat menjadi penopang untuk mengurangi defisit transaksi berjalan neraca jasa Tanah Air.

Selama ini, menurut data Bank Indonesia, transaksi berjalan jasa mengalami defisit dimana semester I/2018 sebesar US$3.343,64 juta, menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang defisitnya mencapai US$3.452,68 juta. 

Dia menilai pemerintah sebaiknya fokus pada rencana jangka pendek seperti menggenjot ekspor jasa pariwisata untuk menekan defisit transaksi berjalan sektor jasa. Adapun, ekspor jasa perjalanan (pariwisata) pada semester I/2018 ini mencapai US$6.625 juta, meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$5.902 juta. 

Ekspor jasa perjalanan ini mengalami surplus tiap tahun, pada 2017 surplus mencapai US$4.231,09 juta dimana ekspor mencapai US$12.519,99 juta dan impor mencapai US$8.288,99 juta.

"Ekspor jasa untuk pariwisata ke depannya akan mengalami peningkatan dan ini bisa untuk mengurangi defisit transaksi berjalan khususnya dalam neraca pembayaran," ucapnya. 

Mari menambahkan selama ini di sektor jasa yang mengalami defisit yakni sektor transportasi dimana pada semester I/2018, defisit mencapai sebesar US$3.631 juta. Hal ini dikarenakan sektor perdagangan di Indonesia meningkatkan sehingga berdampak pula ada permintaan jasa transportasi di Indonesia. 

Terpisah, Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan target ekspor jasa pada tahun ini mencapai US$17 miliar dan mencapai US$20 miliar di tahun depan.

"Tahun ini kami perkirakan US$17 miliar ekspor jasa, ini sama dengan perolehan devisa kami. Kami yakin dapat tercapai karena sampai dengan Juli kami peroleh US$9 juta, sisa waktu ini bisa kami capai. Tren perolehan devisa pariwisata yang terus meningkat dalam empat tahun belakangan," katanya. 

 

 

 

 

 

Tag : ekspor
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top