NERACA PERDAGANGAN: Prospek Surplus Masih Jauh

Kendati mengalami penurunan nilai defisit pada Agustus 2018 dari bulan sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan sulit untuk kembali menorehkan surplus hingga akhir tahun ini.
Yustinus Andri DP | 18 September 2018 14:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati mengalami penurunan nilai defisit pada Agustus 2018 dari bulan sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan sulit untuk kembali menorehkan surplus hingga akhir tahun ini.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani meyakini defisit neraca perdagangan Indonesia akan terkikis hingga pengujung tahun ini. Meskipun demikian, dia pesimistis kondisi tersebut akan berbalik menjadi surplus pada akhir tahun ini.

“Cukup sulit kalau neraca dagang kita surplus hingga akhir tahun ini, tetapi kalau defisit menipis sangat mungkin. Sebab dampak dari kebijakan pengendalian impor pemerintah ini masih butuh waktu,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (17/9/2018).

Menurut proyeksinya, surplus neraca dagang mungkin saja terjadi pada awal hingga pertengahan 2019. Pasalnya, dia melihat tekanan dari lini migas masih akan menjadi beban bagi Indonesia untuk menekan impor secara keseluruhan. Terlebih saat ini, harga minyak dunia terus naik dan target lifting minyak 2018 sulit tercapai.

Kuatnya tekanan impor migas tersebut, menurutnya, belum mampu dikompensasi oleh potensi kenaikan ekspor produk Indonesia yang memanfaatkan peluang depresiasi rupiah. Untuk itu, pemerintah harus menyiapkan strategi tambahan dari sisi moneter dan insentif investasi.

Sebab, para investor saat ini masih cenderung menahan berinvestasi ke Indonesia, lantaran masih tingginya defisit neraca dagang. Seperti diketahui, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat defisit senilai US$1,02 miliar pada Agustus 2018.

Senada, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, surplus neraca perdagangan mungkin baru bisa tercapai pada Januari 2019. Pasalnya, impor akan kembali naik pada akhir tahun ini lantaran banyak pengusaha mempersiapkan diri menyambut libur akhir tahun.

“Saya perkirakan surplus akan terjadi paling cepat Januari. Ketika kebijakan pengendalian impor benar-benar terasa dampaknya, dan aktivitas musiman untuk impor dan belanja perusahaan turun setelah libur akhir tahun,” katanya.

Dia pun melihat, impor migas masih akan menjadi beban Indonesia kendati pemerintah telah menyetop sejumlah proyek strategis nasional serta mengendalikan impor konsumsi dan menerapkan perluasan mandatori B20. 

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dari sisi global pun masih akan terjadi hingga tahun depan. Hal itu, menurutnya, akan membuat pengeluaran untuk impor migas masih akan terkerek.

TREN POSITIF

Sementara itu, Wakil Ketua Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta W. Kamdani meyakini penurunan defisit neraca dagang hingga 50% dari Juli ke Agustus 2018 menunjukkan tren positif bagi kinerja perdagangan Indonesia.

Namun, dia pun tidak yakin neraca dagang akan mencatat surplus pada akhir tahun ini. Pasalnya, insentif dari pemerintah untuk pengembangan industri bahan baku dalam negeri masih belum mumpuni, sehingga ketergantungan impor masih cukup besar.

“Sebanyak 70% struktur impor kita masih bahan baku. Kalau ini tidak diperbaiki, impor kita masih akan menjadi beban bagi ekspor nasional,” jelasnya.

Dia juga menilai, kenaikan PPh impor dan mandatori B20 serta tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hanya akan mampu menekan defisit neraca dagang Indonesia.

Pemerintah, lanjutnya, perlu memperbaiki struktur ekspor nasional, dan membantu kalangan usaha menggencarkan penetrasi ke pasar baru serta peningkatan utilitas perjanjian dagang bebas (free trade agreement/FTA) yang telah dan akan terjalin pada tahun ini.

Dari kalangan asosiasi, Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang meminta agar pungutan ekspor kelapa sawit dihilangkan untuk sementara waktu, guna menembus pasar India dan Eropa.

Insentif tersebut akan membantu produk sawit Indonesia bersaing di kancah global dengan Malaysia, yang telah menghapuskan pungutan ekspor sawit. "Kalau itu dihapus, ekpor sawit akan terdongkrak dan akan membantu meningkatkan eskpor nasional," katanya.

Neraca Perdagangan Indonesia 2018 (miliar US$)

-------------------------------------------------------------

Periode           Ekspor            Impor             Neraca

-------------------------------------------------------------

Januari             14,55               15,30               -0,75

Februari           14,23               14,18               -0,05

Maret               15,58               14,46               1,12    

April                14,53               16,16               -1,62

Mei                  16,20               17,66               -1,45

Juni                  12,97               11,26               1,70

Juli                   16,29               18,29               -2,00

Agustus           15,81               16,83               -1,02

Jan—Ags        120,10             124,18             -4,08

-------------------------------------------------------------

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2018

Tag : ekspor
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top