JD.com Berniat Perluas Ekspansi Global

JD.com, e-commerce asal China, berencana memperluas ekspansi di pasar internasional meski belum berhasil mencetak laba di pasar domestik. 
Dwi Nicken Tari | 29 Agustus 2018 11:39 WIB
Pengunjung berada di JD.ID X disela-sela peresmian pusat pengalaman berbelanja berbasis teknologi AI (Artificial Intelligence) pertama di Indonesia "JD.ID X" di Jakarta, Kamis (2/8/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — JD.com Inc., e-commerce asal China, berencana memperluas ekspansi di pasar internasional meski belum berhasil mencetak laba di pasar domestik. 

Perusahaan milik Richard Liu tersebut mulai mencari kesepakatan strategis dengan Google dan Walmart Inc.

Beberapa bulan setelah Google membeli saham JD senilai US$550 juta, Liu mengungkapkan pihaknya kini tengah dalam tahap awal untuk menjalin kerja sama dengan Google untuk membantu JD mendapatkan pelanggan di luar pasar China.

“Ambisi kami adalah mengembangkan rantai penawaran di seluruh dunia—untuk menghubungkan segala brand, barang, dan konsumen secara global,” ujarnya, seperti dilansir Bloomberg, Rabu (29/8/2018).

Saat ini, JD berada satu peringkat di bawah Alibaba Group Holding Ltd. di China. Ekspansinya di luar negeri pun masih terbatas dengan pasar di Thailand, Indonesia, dan Vietnam.

Liu mengaku dia sebenarnya lebih tertarik mengembangkan bisnisnya untuk masyarakat Eropa dan AS.

Selain dengan Google, JD juga akan bekerja sama dengan Walmart untuk membantu ekspansi di China, AS, dan Asia Tenggara. Sebelumnya, Walmart dan JD telah bekerja sama di China ketika Liu sepakat untuk membeli operasional daring milik Walmart untuk wilayah China yang ditukar dengan saham milik JD.

Walmart pun ikut memimpin pendanaan sebesar US$500 juta untuk afiliasi JD, Dada-JD Daojia, yang menghubungkan armada pegiriman bersepeda motor dengan ratusan pedagang di China.

JD mengklaim salah satu kekuatan mereka dalam bersaing dengan peritel daring global lainnya seperti Amazon.com Inc. adalah kemampuan perusahaan yang dapat menawarkan harga barang murah dengan kualitas baik dari China.

Namun, rencana ekspansi global ini justru muncul ketika JD masih menghadapi sejumlah tantangan kinerja. Saat ini, saham JD masih anjlok karena pembiayaan, kompetisi, dan biaya ekspansi yang meningkat. 

Wayne Peters, Direktur Peters Macgregor Capital Management dan pemegang saham di JD.com, menilai bahwa saat ini investasi merupakan aset yang paling berharga untuk masa depan perusahaan.

“Richard terlalu banyak berjanji dan kurang memberi. Kami lebih menyukai CEO yang dapat melihat jangka panjang alih-alih hanya berani menggebrak,” tuturnya.

Saham JD yang sempat menyentuh level tertinggi pada Januari 2018 sudah anjlok lebih dari 35%, setelah perusahaan gagal mendapatkan laba tahunan yang diharapkan. Pada kuartal II/2018, JD mencatatkan kerugian bersih sebesar 2,2 miliar yuan.

Kok Hoi Wong, Chief Investment Officer di APS Asset Management Pte. di Singapura, memandang JD akan kesulitan bersaing dengan Alibaba.

“JD harus bersikap dengan baik di China, mencari laba dulu sebelum ekspansi ke global,” ucapnya.

Tag : e-commerce, china
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top