Telkomsel Klaim Sudah Terapkan Teknologi 4,9G

PT Telekomunikasi Selular mengklaim telah menerapkan teknologi 4,9G atau fase terakhir pada teknologi generasi keempat. 
Duwi Setiya Ariyanti | 10 Agustus 2018 14:59 WIB
Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah (kiri) bersama Direktur Sales Sukardi Silalahi (tengah), dan Direktur Network Bob Apriawan (kanan) saat memberikan penjelasan mengenai kesiapan layanan dan jaringan Telkomsel dalam menyambut momen Ramadan dan Idul Fitri (RAFI) di Senggigi, Lombok, Jumat (11/5/2018) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Telekomunikasi Selular mengklaim telah menerapkan teknologi 4,9G atau fase terakhir pada teknologi generasi keempat. 
 
Direktur Jaringan Telkomsel Bob Apriawan mengklaim teknologi 4,9G telah berjalan di daerah-daerah dengan kepadatan tinggi, seperti mal Grand Indonesia dan Kelapa Gading.
 
Menurutnya, ada beberapa tahapan dalam teknologi 4G. Meskipun, bila dilihat secara umum, komunikasi di teknologi ini memang tak lagi menggunakan telepon suara seperti yang ada di teknologi 3G. 
 
Pada teknologi 4G atau Long Term Evolution (LTE), kecepatan unduh berada di kisaran 10 Mbps-150 Mbps dan kecepatan unggah antara 5 Mbps-50 Mbps. Dari segi frekuensi, lebar pita yang digunakan 1,4 MHz-20 MHz.
 
Naik ke 4,5G, kecepatan unduh bisa menyentuh 300 Mbps dengan cakupan lebih luas ke Internet of Things (IoT) di mana peranti yang terhubung mulai lebih luas karena tak hanya menghubungkan peranti seluler. Kemudian, terdapat 4,5G Pro dengan kecepatan hingga 1 Gbps. 
 
Di fase terakhir, terdapat 4,9G yang memungkinkan kecepatan di atas 1 Gbps dan waktu tunda atau latensi 2 ms. 
 
"Kami udah 4,9G tapi diem-diem aja. Bisa 1 Gbps lebih... Ada di beberapa tempat yang mobilisasinya tinggi," ujar Bob di Gelora Bung Karno, Jumat (10/8/2018).
 
Kendati tinggal sedikit lagi berpindah ke 5G, dia menyebut investasi untuk pengembangan 5G tidak sedikit.

Bob menggambarkan bila pihaknya mengeluarkan Rp1 triliun untuk pita selebar 30 MHz, maka diperlukan minimal Rp2,5 triliun untuk bisa memiliki pita selebar 100 MHz. Itu pun baru untuk spektrum.

Masih ada komponen lain seperti peranti dan aplikasi yang membutuhkan dana lebih besar. Oleh karena itu, bila pun dikembangkan secara komersial, tak akan berlaku secara masif.

Teknologi 5G, lanjutnya, akan lebih bermanfaat untuk kegiatan industri. Skenario yang paling memungkinkan untuk pengembangan 5G yakni hanya di kawasan industri.

Sisanya, untuk seluler hanya diperkuat dengan teknologi 4G dan mengurangi penggunaan 3G.
 
"5G butuh spektrum setidaknya 100 MHz. Di 2,3 GHz kami punya 30 MHz, beli Rp1 triliun. Kalau 100 mega berapa?" tutur Bob.
 
Terlepas dari itu, pihaknya masih menanti keputusan pemerintah terkait spektrum mana yang akan digunakan untuk 5G. Meskipun untuk uji coba pihaknya menggunakan 28 GHz, tapi terdapat spektrum lain yang mungkin memberikan implementasi 5G yang lebih baik. 
 
Secara global, spektrum frekuensi 3,5 GHz dinilai bisa memberikan hasil optimum untuk pengembangan 5G. Sayangnya, di Indonesia penggunaan spektrum frekuensi 3,5 GHz masih digunakan untuk satelit sehingga tak memungkinkan untuk penerapan 5G.
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah menyatakan pihaknya menanti keputusan pemerintah terkait spektrum yang bisa mendukung penerapan 5G. Perseroan pun mengaku siap mengikuti lelang bila pemerintah telah menetapkan spektrum frekuensi yang siap digunakan. 
 
"Saat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) merilis [spektrum frekuensi untuk 5G], kami akan mengikuti tender," terangnya.

Tag : telkomsel, teknologi 5G
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top