Kinerja Manufaktur China Melambat pada Juli

Pertumbuhan sektor manufaktur China melambat pada Juli disebabkan oleh eskalasi tensi dagang dengan AS, cuaca buruk, dan berkurangnya permintaan domestik
Dwi Nicken Tari | 31 Juli 2018 13:43 WIB
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan sektor manufaktur China melambat pada Juli disebabkan oleh eskalasi tensi dagang dengan AS, cuaca buruk, dan berkurangnya permintaan domestik.

Menurut data Biro Statistik Nasional (NBS), indeks pembelian manajer (Purchasing Managers’ Index/PMI) China turun 0,58% ke level 51,2 pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya, atau di bawah perkiraan ekonom sebesar 51,3.

Perolehan tersebut menjadi yang terendah sejak Februari 2018, kendati masih berada di atas ambang batas 50 yang mengindikasikan ekspansi.

Sementara itu, indeks non-manufaktur PMI China yang memperhitungkan sektor jasa dan konstruksi, berada di level 54, atau turun dari level 55 pada Juni.

Pejabat NBS Zhao Qinghe menjelaskan, perusahaan di China telah merugi akibat friksi dagang dan suhu tinggi serta hujan sepanjang Juli. Oleh karena faktor cuaca, Juli sebenarnya memang bulan yang selalu menekan kinerja manufaktur di China.

Senada, Kepala Ekonom kawasan China di Morgan Stanley Asia Limited Robin Xing menyatakan perlambatan sektor manufaktur juga terjadi akibat China yang menghadapi dua tantangan dalam waktu yang bersamaan sejak enam bulan terakhir, yaitu kampanye deleveraging dari pemerintah dan friksi perdagangan dari AS.

“Data ini [Indeks PMI] merupakan data pertama yang memperlihatkan bahwa tensi dagang mulai membebani pertumbuhan,” katanya seperti dikutipBloomberg, Selasa (31/7/2018).

Untuk mencegah perlambatan lebih jauh,  Pemerintah China pun memperkenalkan paket dukungan fiskal dengan memangkas pajak dan mempercepat penerbitan obligasi untuk investasi infrastruktur pada pekan lalu. Selain itu, pemerintah juga memberikan tanda-tanda bahwa kampanye deleveraging akan sedikit dilonggarkan.

Lebih lanjut, indeks permintaan ekspor baru di dalam PMI Juli tetap menunjukkan kontraksi dan tidak berubah dari bulan sebelumnya sebesar 49,8. Hal ini menandakan bahwa kondisi perdagangan tidak memburuk secara signifikan.

Xing menambahkan, pelemahan pertumbuhan permintaan ekspor baru tersebut semakin memperlihatkan bahwa permintaan dan sentimen eksternal berhasil dirusak oleh tensi dagang.

Sejauh ini, AS diperkirakan bakal terus menekan China lewat sejumlah tarif. Keduabelah pihak pun tidak memperlihatkan sinyal akan melangsungkan perundingan untuk mengurangi tensi dagang.

Tarif berikutnya yang akan dikenakan ke China oleh AS akan berlaku per 1 Agustus 2018, yaitu sebesar 25% untuk impor asal China yang senilai US$16 miliar.

Di sisi lain, menurut pernyataan NBS, melebarnya fluktuasi dalam nilai tukar juga turut membebani kinerja ekspor dan impor China.

Laporan tersebut menunjukkan, banyak perusahaan yang disurvei NBS mengeluhkan pergerakan yuan telah berdampak pada aktivitas produksi perusahaan, mengurangi permintaan ekspor dan impor bahan  baku.

“Permintaan ekspor dan impor untuk bahan baku telah menurun untuk beberapa perusahaan karena meningkatnya tensi perdagangan internasional,” tulis NBS.

Sejak awal Juni, yuan telah melemah hingga lebih dari 6% karena penguatan dolar AS sekaligus ada isu perlambatan dari dalam Negeri Panda.

Namun demikian, NBS menambahkan, beberapa manufaktur masih memiliki ketahanan dari pelemahan yuan tersebut. NBS melanjutkan, penurunan nilai tukar yuan sejauh ini hanya berdampak khususnya untuk industri pelebuhan logam besi dan non-besi.

“Data ini sangat jelas menunjukkan momentum perlambatan ekonomi. Ke depannya, mungkin diperlukan kebijakan fiskal yang lebih proaktif daripada yang diperkenalkan pekan lalu,” kata Raymond Yeung, Ekonom di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. di Hong Kong.

Tag : ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top