Fintech Properti Belum Banyak Dilirik Pengembang

Belum banyaknya pengembang yang memanfaatkan perusahaan financial technology (fintech) sebagai alternatif bukan berarti tidak menarik, tetapi karena belum masifnya penawaran dan pendekatan kepada pengembang.
Anitana Widya Puspa | 31 Juli 2018 16:20 WIB
Ilustrasi solusi teknologi finansial - flickr

Bisnis.com, JAKARTA—Belum banyaknya pengembang yang memanfaatkan perusahaan financial technology (fintech) sebagai alternatif  bukan berarti tidak menarik, tetapi karena belum masifnya penawaran dan pendekatan kepada pengembang.

Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi mengatakan pada dasarnya fintech layaknya pembiayaan pada umumnya yang menggunakan sistem teknologi. Menurutnya fintech juga masih memiliki sistem pendanaan yang didapat baik dari investor ataupun perbankan.

Namun, secara suku bunga tidak bisa bersaing dengan perbankan. Fintech, lanjut dia, mungkin bisa memiliki suku bunga yang lebih menarik dibandingkan perbankan jika menggunakan pengkonversian kepemilikan saham setelah tenor tertentu.

“Belum memanfaatkan, bukan berarti tidak menarik, tapi karena mungkin mereka tidak atau belum menawarkan produknya karena properti sebetulnya membutuhkan pembiayaan jangka panjang,” katanya kepada Bisnis Selasa (31/7/2018).

Dia mencontohkan utamanya untuk pengembangan proyek pendapatan berulang seperti ritel dan hotel memerlukan pendanaan selama 10 tahun baru bisa terbayarkan sepenuhnya. Namun demikian, memang untuk perumahan tenornya bisa lebih cepat.

“Kalau fintech bisa menyediakan itu tentu kita bisa ke sana. Tapi rata-rata masih membiayai nominal kecil kebanyakan,”tekannya.

Harun menilai semua institusi pembiayaan punya model masing-masing, dan untuk fintech masih mencari bentuknya. Pembiayaan lewat fintech, kata dia, juga mungkin saja bisa lebih mudah didapatkan prosesnya sekaligus mudah juga ditolak.

Dia mencontohkan jika perbankan lazimnya melakukan analisis bisnis, seperti  apabila tiga tahun pertama suatu bisnis memang jelek namun beberapa tahun kemudian bisa menjadi potensial.

“Bank melihat itu. Tapi kalau fintech lebih kaku dia masukkin dalam program kalau nggak bisa ya sudah tolak, kalau bisa ya diambil.  Fintech tidak punya personal analisa, menggunakan teknologi. Bukan kelemahan, tapi lebih ke perbedaan bisnis model,” imbuhnya.

Sementara itu, Sanggam Sitorus, Direktur Proyek Cimanggis City mengatakan bagi pengembang dan kosnumen semakin banyak alternatif pembiayaan akan semakin baik.

“Keuntungannya prosesnya lebih cepat karena ada sistemnya. Tapi kalau yang saya tangkap saya lebih prefer ke fintech untuk operasional gedung. Untuk apartemen setelah beroperasi pemanfaatan fintech lebih dominan,”katanya kepada Bisnis Senin (30/7/2018).

Dia mengatakan baru-baru ini mendapatkan penawaran dari fintech yang fokus pada manajemen dan operasional gedung sehingga pembayaran service charge dan biaya lainnya dapat dilakukan melalui aplikasi yag memudahkan penghuni dan pengembang. Keduanya lebih efisien dari sisi waktu.

“Kalau ada apartemen punya beberapa warung dibawahnya juga bisa tinggal pesan itu jauh lebih kelihatan nyata peran fintech,” imbuhnya.

Tag : fintech
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top