Pengembang Rumah Subsidi Bisa Ajukan Pembiayaan Lewat Fintech

Kapital Boost, perusahaan financial technology dengan basis peer to peer, dan crowdfunding menerapkan prinsip syariah bagi pembiayaan properti yang secara spesifik menyasar pengembang dan bukannya konsumen properti di segmen menengah dan bawah.
Anitana Widya Puspa | 30 Juli 2018 17:40 WIB
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA— Kapital Boost, perusahaan financial technology dengan basis peer to peer, dan  crowdfunding  menerapkan prinsip syariah bagi pembiayaan properti yang secara spesifik menyasar pengembang dan bukannya konsumen properti di segmen menengah dan bawah.

CEO Kapital Boost Ronald Wijaya mengatakan fokus pembiayaan perusahaan adalah rumah yang berdampak sosial, yakni rumah subsidi dan rumah segmen menengah dan bawah. Apalagi pemerintah Indonesia juga mempunyai program sejuta rumah dan masih banyak backlog perumahan yang terjadi.

Ronald menuturkan, saat ini ada 25 proyek rumah subsidi di bawah Rp700 juta yang tengah dibiayai perusahaan baik dari proyek  pengembangan dari nol maupun pembiayaan konstruksi dengan tenor yang rata-rata diambil pengembang selama 1 tahun—2 tahun.

Menurutnya, respons dari pengembang saat ini cukup baik, tetapi dia tak menampik bahwa financial technology memang belum banyak dijadikan alternatif karena masih minim edukasi dan informasi. Selain itu, imbuhnya, fintech juga masih berupa sistem pembiayaan yang belum lama terbentuk di Indonesia.

Namun, soal risiko pembiayaan properti justru yang paling minim. Pasalnya ketika menyalurkan dana kepada investor, perusahaan telah melakukan PPJB terhadap unit yang akan dibangun. Sehingga imbuhnya ketika pengembang tidak melakukan pembangunan dengan baik, maka proyek itu akan diambil alih.

“Risikonya akan lebih minim, kalau properti harga tahun ini dijual rugi dua tahun lagi pasti masih bagus,” katanya kepada Bisnis Senin (30/7/2018).

Ronald menyebut persyaratan yang harus dimiliki pengembang supaya dapat didanai adalah telah memiliki captive market atau telah memiliki pembeli yang terlihat dari pemasaran.

“Kalau belum ada pembelinya, kami lihat potensi pasar di daerah yang akan dikembangkan. Misalnya mau bikin di daerah Depok Sawangan  harganya Rp250 juta memang kisaran itu yang penyerapannya bagus,” imbuhnya.

Selain itu Untuk memastikan kandidat merupakan pihak yang benar dan secara jujur menjalankan usaha, Kapital Boost melakukan proses penyeleksian yang cukup ketat, mulai dari pemeriksaan, analisis mendalam tentang bisnis, background, kepemilikan aset, purchase order, neraca perusahaan tahun sebelumnya, dan bahkan media sosial scoring peminjam. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan dana yang diajukan memang untuk keperluan proyek sesuai yang diajukan.

“Untuk itu kami biasa menggunakan struktur perjanjian Murabahah. Bersama itu kami juga akan minta daftar aset yang akan dibeli, profil supplier barang, dan harga barang yang akan dibeli. Lalu kami akan meminta kuitansi dari pembelian aset tersebut,” tekannya.

Tag : fintech
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top