Ekspor CPO Semester I/2018 Terkoreksi

Aktivitas ekspor minyak sawit sepanjang semester I/2018 tercatat mengalami koreksi sebanyak 2% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Yustinus Andri DP | 27 Juli 2018 18:23 WIB
Ilustrasi - Bloomberg/Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA—Aktivitas ekspor minyak sawit sepanjang semester I/2018 tercatat mengalami koreksi sebanyak 2% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO, PKO dan turunannya termasuk oleochemical dan biodiesel) tercatat hanya mampu mencapai 15,30 juta ton atau turun dari semester I/2017 dengan 15,62 juta ton.

Sementara itu, untuk volume ekspor CPO, PKO dan turunannya (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) sepanjang Januari-Juni 2018, tercatat hanya mencapai 14,6 juta ton atau turun 6% dari semester I/2017.

“Lesunya akivitas ekspor tersebut diperparah kenaikan produksi minyak sawit Indonesia pada semester pertama 2018 telah mencapai 22,32 juta ton atau naik 23% dari paruh pertama 2017,” kata Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dalam keterangan resminya, Jumat (27/7/2018).

Dia mengatakan, meningkatnya produksi semester I/2018 itu terjadi karena faktor cuaca yang mendukung dan pengaruh El Nino pada tahun sebelumnya sudah mulai hilang. Alhasil, peningkatan produksi tersebut menyebabkan kelebihan pasokan di dalam negeri.

Adapun selama semester I/2018, lanjut Mukti, kinerja ekspor minyak sawit mentah dan turunannya asal Indonesia ke negara tujuan utama kurang menggembirakan, terutama di pasar India. Ekspor ke India pada paruh pertama tahun ini merosot 34% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu dari 3,74 juta ton pada semester pertama 2017, turun menjadi 2.50 juta ton.

“Bea masuk yang tinggi dari India sangat memengaruhi Isu deforestasi juga kebijakan phase out/penghapusan biofuel berbasis pangan oleh Parlemen Eropa turut memengaruhi,” katanya.

Tercatat, pada semester I.2018, Uni Eropa membukukan penurunan volume impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia sebesar 12% atau dari 2,71 juta ton menjadi 2,39 juta ton secara year on year (yoy). Penurunan kinerja impor untuk periode yang sama juga dibukukan negara Afrika sebesar 10%.

Situasi sebaliknya justru muncul dari China. Volume ekspor CPO dan produk turunannya dari Tanah Air mengalami kenaikan. Pada semester I/2018 kenaikan mencapai 343,31 ribu ton atau setara dengan kenaikan 23% secara yoy.

Kenaikan volume impor minyak sawit China karena adanya penurunan pajak pertambahan nilai untuk minyak nabati dari 11% menjadi 10% yang efektif berlaku sejak 1 Mei 2018. Selain itu eskalasi perang dagang antara Negeri Tirai Bambu dan Negeri Paman Sam juga ikut mempengaruhi permintaan minyak sawit mentah dan turunannya.

Selain itu, untuk pertama kalinya sejak perang dagang berlangsung, pada Juni ini China mengimpor biodiesel dari Indonesia. Volume biodiesel yang diimpor cukup signifikan yaitu sebesar 185,86 ribu ton. Diperkirakan jika perang dagang terus berlanjut prospek pasar minyak sawit dan biodiesel ke China akan cerah.

Di sisi lain, ekspor ke Amerika Serikat juga membukukan kenaikan sebesar 68,38 ribu ton atau setara 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan meyakini ekspor ke Paman Sam akan kembali naik seiring intensifnya lobi-lobi yang dilakukan Pemerintah Indonesia selama sepekan ini.

"Kami yakin ada kenaikan yang potensial dari AS. Terutama setelah kami coba tawarkan bioavtur ke Boeing," ujarnya.

 

Tag : cpo
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top