API Minta Bea Masuk Bahan Baku Polyester Direvisi

Harga bahan baku benang sintetis dalam negeri justru kalah bersaing dengan produk impor. Pasalanya, harga bahan baku polyester dalam negeri lebih mahal 13%.
Yustinus Andri DP | 27 Juli 2018 18:03 WIB
Ilustrasi: Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka Kementerian Perindustrian Muhdori (tengah) bersama Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat (kedua kanan) mengamati mesin tekstil, seusai membuka pameran Indo Intertex 2018, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah diminta merevisi pembebasan bea masuk serat polyester sebagai bahan baku benang, demi melindungi industri hulu tekstil dalam negeri.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan, harga bahan baku benang sintetis dalam negeri justru kalah bersaing dengan produk impor. Pasalanya, harga bahan baku polyester dalam negeri lebih mahal 13%.

“Kondisi ini justru akan membuat produk tekstil Indonesia daya saingnya tertekan, mulai dari hulu hingga ke hilir,” katanya, Jumat (27/7/2018).

Dia memeperkirakan apabila situasi tersebut dibiarkan maka akan mengganggu target pertumbuhan ekspor tekstil tahun ini, yang diproyeksikan mencapai 7%. Padahal menurutnya, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) telah membuktikan kontribusi besar yaitu 6,39% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2017.

Perbedaan harga bahan baku benang sintetis yang cukup signifikan tersebut, lanjutnya, akan membuat produk TPT Tanah Air kalah dengan Vietnam, Bangladesh, dan sesama negara penerima fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dari AS.

“Diharapkan bila kebijakan bea masuk polyester ini dapat ditinjau lagi maka harga bahan baku yang berdaya saing bisa meningkatkan produktifitas ekspor ITPT Indonesia di pasar dunia,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Executive Member Asosiasi Produsen Serat Benang Filamen Indonesia (APSYFI) Prama Yudha Amdan. Dia meminta agar pemerintah mengkaji ulang insentif bagi produk serat polyester asal China berupa pembebasan bea masuk.

Pasalnya, dia menilai, dengan kondisi kelebihan pasokan di dalam negeri, pemerintah Negeri Panda ditudingnya sengaja memberlakukan subsidi terhadap bahan baku benang sintetis tersebut.

Kebijakan dumping tersebut, lanjutnya, didukung pula oleh melemahnya nilai tukar yuan, yang membuat produk negara tersebut menjadi jauh lebih murah.

“Selain itu, kami juga mengalami ketidakpastian pasokan bahan baku dari China. Dua tahun lalu harganya sempat tinggi sekali karena pasokan China terbatas. Sekarang ketika industri [bahan baku] dalam negeri bangkit dan mulai produksi, pasokan dari China justru membanjir,” papar Yudha.

Untuk itu dia mendesak adanya perubahan kebijakan bea masuk agar serbuan produk impor lebih terkendali dan tidak merusak industri dalam negeri.

Terpisah, Ketua Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Kementerian Perdagangan Ernawati mengaku belum mendapatkan informasi mengenai keluhan dari para pelaku usaha TPT tersebut. Kendati demikian, dia berjanji akan melakukan pemeriksaan secara mendalam terhadap dugaan dumping yang dilakukan Beijing.

“Belum ada permintaan [mengkaji bea masuk serat polyester dari China]. Tetapi nanti kita akan pelajari dulu seperti apa kebijakan China tersebut dan dampaknya kepada industri dalam negeri,’ ujarnya.

 

Tag : tekstil
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top