Dua Maskapai Ini Mengaku Siap Hadapi Pasar Tunggal Penerbangan Asean

Berbekal tingkat keamanan dan kualitas SDM di bidang maskapai, penerbangan nasional diklaim sudah siap untuk menghadapi Pasar Tunggal Penerbangan Asean atau Asean Single Aviation Market (SAM).
Rio Sandy Pradana | 25 Juli 2018 16:48 WIB
Lion Air - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Berbekal tingkat keamanan dan kualitas SDM di bidang maskapai, penerbangan nasional diklaim sudah siap untuk menghadapi Pasar Tunggal Penerbangan Asean atau Asean Single Aviation Market (SAM).

Direktur Safety and Security AirAsia Indonesia, Achmad Sadikin mengatakan tingkat keamanan menjadi faktor utama dalam bisnis penerbangan yang sangat rigid terhadap regulasi, risiko tinggi, menuntut investasi besar, dan melibatkan teknologi canggih. Di sisi lain, Indonesia sudah memiliki kerangka State Safety Program (SSP) International Civil Aviation Organization (ICAO) yang kuat.

"SDM kami sudah siap. Selain itu, sudah terbiasa berkolaborasi karena sudah beroperasi di enam negara dan memiliki sembilan Air Operation Certificate," kata Sadikin dalam FGD yang diadakan Bisnis, Rabu (25/7/2018).

Menurutnya, tingkat keamanan penerbangan nasional yang sudah membaik menjadi kekuatan untuk bersaing di pasar Asean. Audit Pengawasan Keselamatan Penerbangan (Universal Safety Oversight Audit Programme/USOAP) yang dilakukan ICAO menunjukkan Indonesia mampu meraih nilai 84% atau naik drastis dari 54% pada 2007.

Di sisi lain, otoritas penerbangan nasional Amerika Serikat (Federal Aviation Administration/FAA) juga melakukan penaikan peringkat Indonesia menjadi kelompok negara Kategori 1, dari Kategori 2, yakni kelompok negara yang tidak memenuhi syarat peraturan keselamatan penerbangan sipil internasional. Hasilnya, Komisi Eropa mencabut larangan terbang bagi maskapai Indonesia ke Benua Biru beberapa bulan lalu.

Sadikin meminta prestasi tersebut harus tetap dijaga oleh sesama maskapai atau regulator. Jangan sampai tingkat keamanan justru mengalami penurunan. Pihaknya juga menyambut baik rencana pemerintah untuk merealisasikan bandara khusus maskapai berbiaya murah (low cost carrier airport/LCCA). "LCCA bisa mengakomodasi maskapai LCC. Dampaknya, bisa mendatangkan turis dan devisa," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Operasi Lion Air Group Zwingly Silalahi mengatakan kesiapan sudah mencakup kualifikasi kru, standar keamanan, hingga pasar. Terlebih, maskapai milik Rusdi Kirana ini sudah beroperasi di sejumlah negara. "Kami sudah tidak masalah [dengan Asean SAM]. Kami punya kru yang beroperasi di Thailand dan Malaysia, terbang ke Jeddah hingga China," kata Zwingly.

Menurutnya, maskapai nasional masih bisa bersaing dengan negara tetangga. Selama para pemangku kepentingan penerbangan mampu bersinergi, upaya untuk memenangkan pasar di Asean bisa terlaksana.

Asean SAM adalah kebijakan penerbangan regional yang ditunjukkan pada pembentukan pasar penerbangan terpadu di kawasan Asia Tenggara sejak 2015. Kebijakan tersebut dirancang untuk mewujudkan liberalisasi penuh terhadap perjalanan udara antar-negara Asean.

Bisnis mengadakan FGD dengan tema Mencari Solusi atas Hambatan Teknis dan Internal dalam Implementasi Asean SAM dengan mengundang sejumlah narasumber pemangku kepentingan penerbangan dari regulator, operator, asosiasi, hingga akademisi.

Tag : maskapai penerbangan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top