IITE 2018 Hadirkan 2.000 Produk Mainan dari Berbagai Negara Asia

Sebanyak 116 perusahaan dari berbagai negara akan mengikuti Indonesia International Toys & Kids Expo (IITE) 2018 pada 26-28 Juli 2018 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Annisa Margrit | 25 Juli 2018 19:05 WIB
Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia Lukas Sutjiadi (tengah) dalam konferensi pers Indonesia International Toys & Kids Expo (IITE) 2018 di Jakarta, Selasa (24/7). - Instagram IITE @iite.id

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebanyak 116 perusahaan dari berbagai negara akan mengikuti Indonesia International Toys & Kids Expo (IITE) 2018 pada 26-28 Juli 2018 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari China, Hong Kong, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Pameran ini bakal menghadirkan lebih dari 2.000 produk dari industri mainan dan perlengkapan anak, termasuk mainan bayi dan anak, perlengkapan bayi, pakaian anak, furnitur bayi, penunjang belajar, hingga fasilitas bermain.

IITE 2018 digelar bersama oleh ChaoYu Expo dan Peraga Expo. General Manager ChaoYu Expo Jason Chen mengatakan area pameran kali ini mencapai 4.000 meter persegi atau dua kali lebih luas dari tahun lalu.

"Indonesia adalah pasar mainan anak yang menggiurkan. Hal ini didukung pertumbuhan jumlah penduduk, ekonomi, dan kebutuhan mainan dalam negeri. ChaoYu Expo berharap pameran ini dapat menjadi ajang temu bisnis antara pengusaha, eksportir, dan seluruh stakeholder terkait dalam rangka pengembangan industri mainan dan produk anak nasional," paparnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Rabu (25/7/2018).

Chen menambahkan pihaknya berharap bisa mengambil kesempatan mempromosikan kerja sama Indonesia-China dalam hal mainan robot cerdas. Dia menyampaikan nantinya mereka akan menampilkan Robot Cerdas dari China yang dinamakan Dobi.

Dobi memegang rekor dunia sebagai robot yang bisa menari secara bersamaan. Ini akan menjadi penampilan pertama Dobi di luar China.

IITE 2018 diharapkan mampu mempertemukan para pemain di industri mainan dan perlengkapan anak, baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Dari ratusan perusahaan yang menjadi peserta, 15% di antaranya berasal dari Tanah Air.

Program hosted buyers dari berbagai negara Asean diyakini mampu menjembatani pengusaha lokal dengan pelaku industri di Asean.

Tahun lalu, terjadi pertemuan bisnis antara 20 perusahaan Indonesia dengan 50 peserta dari China. Pertemuan tersebut berlanjut dengan kunjungan pabrik dan perdagangan di Negeri Panda.

"Untuk target tahun ini, kami optimistis akan terjadi peningkatan, terlihat dari jumlah peserta pameran yang meningkat dan respons dari pengunjung untuk melakukan pra registrasi secara online," jelas Chen.

Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia Lukas Sutjiadi mengungkapkan performa penjualan mainan di Indonesia cukup stabil.

"Saat ini, pasaran mainan masih stabil, tidak terlalu lesu seperti pada kuartal I/2018. Meski pasar mainan impor berkisar 65%-70%, di mana sekitar 60% berasal dari China, tidak terlalu mempengaruhi industri mainan dalam negeri," terangnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor mainan, games dan alat olahraga mencapai US$240,2 juta, setara dengan Rp3,24 triliun, per 17 Oktober 2017. Jumlah ini tumbuh 49,91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$160,2 juta atau sekitar Rp2,16 triliun.

Mainan yang paling banyak diimpor yaitu ice skate dan roller skate dengan volume 5,77 ton. Berikutnya adalah kartu mainan sebanyak 3,19 ton, kelereng atau gundu 2,79 ton, dan rakitan model yang diperkecil seperti model pesawat terbang sebanyak 1,87 ton.

China menjadi negara asal impor terbesar, disusul Singapura, Denmark, Malaysia, dan Jepang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pameran, industri mainan

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top