Konsep Omnichannel Makin Diminati Perusahaan E-Commerce

Pelaku usaha perdagangan elektronik yang merambah sistem pemasaran secara luring atau menggunakan platform omnichannel diprediksi akan semakin populer.
M. Richard | 24 Juli 2018 13:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha perdagangan elektronik yang merambah sistem pemasaran secara luring atau menggunakan platform omnichannel diprediksi akan semakin populer.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah berpendapat pengusaha ritel daring yang sudah sukses akan selalu mencari cara untuk memasarkan produknya secara luring.

"Saya rasa, bisnis ritel akan tetap berkembang dengan model luring," ujarnya kepada Bisnis.com.

Dia menjelaskan perusahaan toko daring tidak akan bertahan jika hanya menggunakan satu platform pemasaran. Pasalnya, mereka menyadari konsumen tidak hanya ingin melihat gambar, tetapi datang dan melihat barang dagangannya secara langsung.

Hanya saja, untuk sementara mereka akan bertahan dengan platform daring karena daya saing mereka masih relatif terjaga. Namun, setelah Undang-Undang dagang-el rampung, mereka diprediksi mempercepat masa transisi ke platform luring.

"Ini kan yang banyak digempur itu platform luring, karena banyak terbentur peraturan. Namun, i kalau UU dagang-el selesai, harga, pajak, dan tata niaga [peritel daring] akan sama [dengan peritel luring]," katanya.

Senada dengan Budihardjo, Dekan School of Business & Economics Universitas Prasetiya Mulya Agus W. Soehadi mengatakan, peritel harus segera dapat melakukan antisipasi lebih dini, dengan cara tidak hanya terpaku pada satu model bisnis dan menggunakan strategi omnichannel.

"Karena, mereka [konsumen] mengulas produk secara daring, lalu ke toko luring untuk membeli. Sehingga kegiatan pemasaran antara daring dan luring yang terintegrasi sangat dibutuhkan,” jelasnya.

CEO Berrybenka Jason Lamuda, salah satu pelaku dagang-el yang telah membuka 20 lebih gerai luring di beberapa pusat perbelanjaan, mengatakan transisi ke platform luring merupakan cara untuk mendapatkan kepercayaan konsumen.

"Kalau brand kita punya toko di mal, itu bisa untuk pemasaran. Kalau ada toko fisiknya orang lebih percaya, dan juga terkadang orang juga masih ingin untuk membeli barang secara langsung," katanya.

Selain itu, katanya, pusat belanja memberikan pemetaan pengunjung yang lebih detail, sehingga peritel dapat membuat perhitungan penjualan yang lebih akurat. Ditambah, katanya, Berrybenka juga mempunyai pesaing di platform dagang-el yang telah membuka toko fisik juga, yakni Love Bonito, dan Cotton Ink.

Tag : e-commerce
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top