PROMOSI PARIWISATA: Peluang Menarik Pendapatan dari Wisatawan Domestik Terabaikan

Pemerintah dinilai kurang fokus mendorong pergerakan wisatawan nusantara untuk menggenjot pendapatan negara, padahal pelancong lokal menghabiskan uang belanja lebih banyak dari turis asing saat berpelesir.
Yanita Petriella | 24 Juli 2018 13:28 WIB
Wisatawan mengunjungi Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/6/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dinilai kurang fokus mendorong pergerakan wisatawan nusantara untuk menggenjot pendapatan negara, padahal pelancong lokal menghabiskan uang belanja lebih banyak dari turis asing saat berpelesir.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari mengatakan pemerintah selama ini terlalu mementingkan promosi pariwisata Tanah Air ke luar negeri untuk menggaet wisatawan mancanegara (wisman).

“Padahal, pangsa pasar wisatawan nusantara [wisnus] yang pergi berwisata di dalam negeri ini lebih besar. Selain itu, pengeluaran belanja mereka saat berwisata lebih besar dibandingkan dengan wisman,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com.

Menurut catatan ICPI, sepanang 2016 jumlah wisman ke Indonesia mencapai 11,5 juta kunjungan dengan sumbangan devisa senilai US$12,57 mliar. Sementara itu, jumlah wisnus mencapai 264,3 kunjungan dengan pengeluaran belanja senilai US$18,59 miliar.

Dia menilai kurangnya promosi pariwisata di dalam negeri membuat wisnus lebih memilih berlibur ke luar negeri. Jumlah wisatawan domestik yang berpelesir ke luar negeri (outbound) pada 2016 menembus 8,4 juta, dengan total belanja selama di luar negeri mencapai US$9,9 miliar.

“Tren saat ini, selisih pengeluaran antara wisman dan wisnus tak terlalu besar. Justru, yang dikeluarkan oleh wisnus yang ke luar negeri juga besar. Ini yang sangat disayangkan. Kalau pangsa wisatawan outbound ditarik ke dalam negeri tentu lebih bagus.”

Menurutnya, jika saja pemerintah lebih getol mempromosikan destinasi pariwisata di dalam negeri, jumlah kunjungan wisnus akan terkerek dan jumlah wisnus yang outbound akan menurun. Dengan sendirinya, potensi devisa yang hilang dapat dibawa pulang.

“Wisatawan nasional berkali-kali ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, tetapi untuk berwisata di dalam negeri seperti Kepulauan Kei dan Raja Ampat saja belum pernah,” kata Azril.

Senada, Ketua Umum Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar meminta pemerintah lebih gencar mempromosikan destinasi wisata ke dalam negeri.

Pasalnya, keterbatasan informasi mengenai destinasi apa saja yang ada di Indonesia beserta paket-paket wisata yang ditawarkan membuat wisnus lebih memilih untuk keluar negeri.

"Informasi akses menuju lokasi yang sulit didapat dan mahalnya biaya perjalanan ini membuat mereka memilih untuk melakukan outbound," terangnya.

SUDAH CUKUP

Vice President Brand and Communication Panorama Group AB Sadewa menilai promosi destinasi wisata ke luar negeri sudah sangat cukup dilakukan oleh pemerintah untuk mendatangkan wisatawan mancanegara.

"Rerata belanja wisman [saat berkunjung ke Indonesia adalah] sekitar US$1.100/perjalanan, sedangkan pengeluaran belanja wisnus Rp700.000—Rp800.000/perjalanan. Wisnus lebih menyukai wisata kuliner dan destinasi kekinian yang sedang terkenal di media sosial."

Sebaliknya, kata Sadewa, wisman lebih menyukai destinasi alam yang sebagian besar infrastrukturnya kurang memadai.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Visit Wonderful Indonesia (ViWI) 2018 Hariyadi Sukamdani menuturkan saat ini memang promosi destinasi wisata masih digencarkan ke luar negeri untuk menarik minat wisman.

"ViWi ini menyasar wisman karena wisnus sendiri bisa mencari informasi destinasi wisata sendiri," ujarnya. Dia menambahkan, destinasi wisata yang dipromosikan terdapat di 18 daerah yang memiliki aksesibilitas baik.

Deputi Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata I Gde Pitana menuturkan promosi pariwisata selama sudah ini dilakukan di dalam negeri dan luar negeri. Permasalahannya, belum banyak agen perjalanan yang menawarkan paket khusus wisnus.

Dia menilai biro perjalanan di Indonesia tidak banyak membuat paket perjalanan destinasi wisata yang menyasar wisnus. Mereka lebih memilih untuk membuat paket perjalanan yang menyasar wisatawan mancanegara dan wisawatan nasional yang melakukan outbound.

"Temen-teman industri itu belum banyak membuat paket wisata yang menarik minat wisatawan domestik. Kebanyakan mereka membuat paket wisata ke luar negeri. Kami sudah mengundang berbagai asosiasi dan berbagai industri pariwisata untuk mempromosikan destinasi wisata di dalam negeri," terangnya.

Sepanjang tahun ini, Kemenpar telah mengalokasikan dana untuk promosi destinasi wisata dalam negeri senilai Rp600 miliar. Adapun, dana untuk promosi di luar negeri mencapai Rp1,5 triliun.

 

 

Devisa dari Pariwisata

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Tahun: 2015

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman): 10,2 juta kunjungan

Jumlah devisa wisman: US$12,22 miliar

Jumlah wisatawan nasional (wisnas) yang outbound: 8,2 juta kunjungan

Jumlah pengeluaran wisnas selama outbound: US$8,06 miliar

Jumlah wisatawan nusantara (wisnus): 256,4 juta kunjungan

Jumlah pengeluaran wisnus di dalam negeri: US$17,28 miliar

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Tahun: 2016

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman): 11,5 juta kunjungan

Jumlah devisa wisman: US$12,57 miliar

Jumlah wisatawan nasional (wisnas) yang outbound: 8,4 juta kunjungan

Jumlah pengeluaran wisnas selama outbound: US$9,90 miliar

Jumlah wisatawan nusantara (wisnus): 264,3 juta kunjungan

Jumlah pengeluaran wisnus di dalam negeri: US$18,59 miliar

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), 2018

Tag : pariwisata
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top