Kebijakan Mandatori B20 Dinilai Salah Fokus

Pemerintah diharapkan tidak terlalu fokus dengan kebijakan mandatori biodiesel, yakni kewajiban penggunaan minyak kelapa sawit untuk biodiesel 20% (B20). Kebijakan tersebut dianggap tidak akan terlalau signifikan dalam membendung peningkatan pasokan yang berlimpah.
M. Richard | 22 Juli 2018 17:15 WIB
Ilustrasi biodiesel - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah diharapkan tidak terlalu fokus dengan kebijakan mandatori biodiesel, yakni kewajiban penggunaan minyak kelapa sawit untuk biodiesel 20% (B20). Kebijakan tersebut dianggap tidak akan terlalau signifikan dalam membendung peningkatan pasokan yang berlimpah.

Sebagai informasi, untuk mengatasi permasalahan stok minyak kelapa sawit yang berlimpah, pemerintah berinisiatif untuk menggunakan minyak kelapa sawit sebagai campuran bahan bakar. Hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk memulai penggunaan bahan bakar yang bersifat baru dan terbarukan.Sekaligus, kebijakan pencampuran minyak kelapa sawit juga dapat memecahkan permasalahan kelebihan pasokan minyak kelapa sawit domestik.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi pada Mei mencapai 4,24 juta ton atau naik 14% dibandingkan April yang hanya 3,72 juta ton. Produksi pada Mei tersebut mengerek stok minyak sawit Indonesia meningkat menjadi 4,76 juta ton dari 3,98 juta ton pada bulan sebelumnya.

Hanya saja, menurut Analis Produksi Kelapa Sawit Cofco International Roby Fauzan, kemampuan pemerintah untuk dapat membendung kelebihan pasokan dengan mandatori biodiesel tidak akan terlalu signifikan.

Di samping itu, kebijakan tersebut berdampak pada kerusakan mesin. "Penggunaan minyak kelapa sawit dengan kadar tinggi tidak akan cocok dengan mobil-mobil yang ada di Indonesia, karena kadar airnya yang tinggi, ini kan malah jadi pertanyaan," katanya belum lama ini.

Roby berharap, pemerintah harusnya lebih fokus pada replanting, karena kebijkan tersebut akan lebih efektif dalam menahan pasokan dan meningkatkan harga minyak kelapa sawit di pasar.

Contohnya, dia mengatakan, harga minyak kelapa sawit di Indonesia terdongkrak pada pertengahan 2016 dikarenakan produksi minyak kelapa sawit Indonesia turun 6% dikarenakan topan El Nino.

Atas dasar itu, dia berharap pemerintah mengurangi fokus pada penggunaan dana untuk produksi biodiesel dan mengalihkannya pada pemberian insentif untuk penanaman kembali kelapa sawit.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami mengatakan, dalam situasi dimana Amerika dan Eropa menahan impor minyak kelapa sawitnya, dan peningkatan konsumsi dalam negeri merupakan alternatif satu-satunya yang tepat untuk diambil.

"Kalau ada alternatif lain yang bisa serap minyak sawit ini, kita terima. Kita dihantam habis-habisan di Uni eropa, Amerika biodiselnya, ini kemana lagi. Justru kita harus tingkatkan permintaan dalam negeri," katanya.

Sebagai informasi, 1 liter minyak kelapa sawit, kurang lebih, dapat menghasilkan 1 liter biodiesel. Adapun, produksi biodiesel saat ini baru mencapai 3,5 juta kilo liter, sementara produksinya masih dapat ditingkatkan 3,3 kali lipat.

Tag : minyak sawit
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top