Permintaan Produk Pertekstilan untuk Kampanye Pilpres 2019 Diprediksi Lembam

Permintaan tekstil dan produk tekstil bagi kebutuhan kampanye politik Pemilihan Presiden 2019 diprediksi minim, sehingga tren pelemahan penjualan domestik akan berlanjut.
M. Richard & Wike D. Herlinda | 22 Juli 2018 13:53 WIB
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Permintaan tekstil dan produk tekstil bagi kebutuhan kampanye politik Pemilihan Presiden 2019 diprediksi minim, sehingga tren pelemahan penjualan domestik akan berlanjut.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memproyeksi kenaikan penjualan domestik saat musim kampanye politik tahun depan tidak akan lebih dari 6% dibandingkan dengan pencapaian tahun ini.

“Iya memang akan ada peningkatan [serapan domestik untuk tekstil dan produk tekstil (TPT) tahun depan, khususnya saat kampanye politik], tetapi tidak begitu signifikan. Tidak sama seperti saat Lebaran,” ujarnya kepada Bisnis.com.

Padahal, United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksi konsumsi kapas Indonesia untuk bahan baku TPT akan mengalami sedikit peningkatan tahun depan, ditopang oleh permintaan pakaian jadi selama ajang kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

USDA memperkirakan, kenaikan konsumsi kapas RI untuk kebutuhan TPT pada tahun depan mencapai 3,30 juta sebal. Adapun, realisasi konsumsi kapas untuk TPT tahun lalu adalah 3,25 juta ton, turun dari proyeksi awal sejumlah 3,45 juta ton.

Menurut Ade, landainya permintaan domestik itu dipicu oleh konsumsi yang hanya didorong oleh satu pihak, yaitu belanja partai politik untuk kepentingan kampanye. Sebaliknya, masyarakat umum diperkirakan tidak meningkatkan belanja pakaian jadi.

“Beda dengan saat libur Lebaran, dimana masyarakat benar-benar menyisihkan dana untuk berbelanja pakaian jadi. Kalau Lebaran itu, peningkatan konsumsinya memang dari masyarakat segala kalangan.”

Dalam paparan API untuk rakor evaluasi antisipasi Amerika Serikat (AS) terhadap generalized system of preferences (GSP) di Kemenko Perekonomian yang diterima Bisnis belum lama ini, industri TPT memang mengeluhkan masalah penurunan penjualan domestik.

Pada periode Januari—Mei 2018, sebut Ade dalam laporan itu, industri TPT dalam negeri mulai kesulitan menjual barang di pasar domestik. Ada tiga hal yang menjadi pemicunya.

Pertama, karena serat, benang, dan kain impor yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 64/2017 diperbolehkan untuk dibeli dan dijual putus ke pasar domestik dengan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Kedua, akibat masuknya barang dari kawasan Pusat Logistik Berikat (PLB) ke pasar domestik. “[Barang dari kawasan berikat] Diperbolehkan 50% dijual ke dalam negeri,” ungkapnya.

Ketiga, karena mekanisme antidumping  dan safeguard polietilena tereftalat (PET) dan spin drawn yam (SDY) yang direkomendasikan oleh Komite Antidumping Indonesia (Kadi) belum bisa diimplementasikan.

“Selain itu, ekspor TPT tidak dapat dioptimalkan karena minim insentif. Tunjangan dan libur pajak sulit diimplementasikan, diskon listrik tidak berpengaruh signifikan, dan harga gas masih US$9,6/MMBtu,” paparnya.

BERHATI-HATI

Pada perkembangan lain, Sekretaris Jenderal API Ernovian G. Ismy menilai pengusaha pakaian jadi sudah mulai berhati-hati menjawab pesanan pakaian jadi dari parpol untuk keperluan kampanye.

Menurutnya, permintaan TPT untuk kampanye biasanya digarap oleh UMKM, yang menghabiskan seluruh kapasitas produksi mereka. Sementara itu, pada tahap pembayarannya, masih banyak ditemukan parpol yang gagal bayar dan malah membuat rugi.

“Biasanya ada yang tidak bisa bayar. Pengusaha baru mau menerima pesanan kecuali kalau ada yang mau bayar uang muka 80%. Berisiko sih.”

Di sisi lain, Ketua Asosiasi UMKM (Akumindo) Ikhsan Ingratubun berpendapat permintaan pakaian jadi ke UMKM untuk kebutuhan kampanye Pilpres 2019 bisa meningkat dua kali lipat dari sebelumnya.

Hal itu dipicu oleh kenaikan jumlah tempat pemungutan suara (TPS) dari 500.000 menjadi 1 juta. “Sehingga, kebutuhan pakaian jadi untuk panitia dan atribut kampanye bisa naik dua kali lipat dari kebutuhan pada Pilpres 2014.

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta memperkirakan penyerapan TPT saat Pilpres 2019 hanya tumbuh 5%, jauh dari pencapaian saat Pilpres 2014 sebesar 12%.

Pasalnya, masih banyak stok bahan baku TPT—seperti kain, benang dan garmen—yang menumpuk di PLB. Lagipula, hingga saat ini kenaikan permintaan pakaian jadi untuk kampanye Pilpres 2019 belum signifikan.

“Iya, semua [pelaku] industri tekstil masih pesimistis, karena pemintaan juga masih belum signifikan, sehingga banyak yang menunda untuk beli bahan baku.”

 

Neraca Industri TPT Indonesia 2017 (juta ton)

----------------------------------------------------------------------------------------

Indikator                    Serat               Benang           Kain    Produk Jadi

----------------------------------------------------------------------------------------

Kapasitas                     1,42                 2,75                 2,78     2,49

Produksi                      1,07                 2,19                 1,56     2,08

Utilisasi (%)                75,7                 79,8                 56,3     83,5

Ekspor                         0,40                 1,00                 0,26     0,52                

Impor                          1,07                 0,23                 0,77     0,15

Penjualan domestik     0,67                 1,19                 1,30     1,55

Konsumsi                    1,75                 1,43                 2,08     1,71    

Jumlah Industri (unit) 12                    317                  654      786

----------------------------------------------------------------------------------------

 

Impor Industri TPT (miliar US$)

----------------------------------------------------------------------

Komponen                 Prognosa 2018           Target 2019

----------------------------------------------------------------------

Serat                            2,45                             2,00                            

Benang                        0,76                             0,60

Kain lembaran             4,66                             3,30    

Pakaian jadi                 0,84                             0,60

Tekstil lainnya             1,24                             1,00

Total                           9,94                             7,50

----------------------------------------------------------------------

 

Ekspor Industri Tekstil (miliar US$)

----------------------------------------------------------------------

Komponen                 Prognosa 2018           Target 2019

----------------------------------------------------------------------

Serat                            0,64                             0,73                            

Benang                        2,48                             2,84

Kain lembaran             1,30                             1,38    

Pakaian jadi                 8,12                             9,32

Tekstil lainnya             0,64                             0,73

Total                           13,07                           15,00

----------------------------------------------------------------------

 

Serapan Domestik Produk TPT

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Subsektor                                           Serat   Benang           Kain    Garmen&Produk Jadi

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Produksi 2017 (ribu ton)                     1,07     2,19                 1,56     2,08    

Target produksi 2019 (juta ton)          1,13     2,34                 2,22     2,24

Utilisasi 2017 (%)                               75,7     79,8                 56,3     83,5

Target utilisasi 2019 (%)                     80,0     85,0                 80,0     90,0    

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Sumber: Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), 2018

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tekstil

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top