Presiden Singgung Soal Anggaran Riset Dalam RAPBN 2019

Presiden Joko Widodo mempertanyakan nilai anggaran riset di berbagai kementerian/lembaga yang dinilai cukup besar, tetapi tidak memberikan dampak signifikan dalam geliat aktivitas inovasi nasional.
David Eka Issetiabudi | 18 Juli 2018 17:59 WIB
Presiden Joko Widodo - Antara

Bisnis.com, BOGOR – Presiden Joko Widodo mempertanyakan nilai anggaran riset di berbagai kementerian/lembaga yang dinilai cukup besar, tetapi tidak memberikan dampak signifikan dalam geliat aktivitas inovasi nasional.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengatakan dalam Sidang Kabinet Paripurna yang membahas RAPBN 2019, Presiden Jokowi menyinggung soal biaya riset yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.

“Ini besar-besar banget, tapi apa hasilnya, begitu kata Presiden,” tuturnya, di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (18/7/2018).

Nantinya, menurutnya, ada rencana penggabungan anggaran riset, untuk selanjutnya dibicarakan mau diarahkan pada riset tertentu. Dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi memang sempat mempertanyakan besarnya anggaran riset yang digelontorkan pemerintah, tetapi tidak memberikan dampak signifikan.

Dalam Global Innovation Index (GII) 2018, Indonesia menempati posisi ke-85 atau naik dua peringkat dari capaian tahun lalu.

Dalam laporan GII 2018 yang dirilis setiap tahun oleh Cornell University, Insead (Institut Européen d'Administration des Affaires/European Institute of Business Administration), dan the World Intellectual Property Organization (WIPO) ini, menunjukkan Indonesia memperoleh nilai tinggi dalam enam dari tujuh kategori yang ditetapkan dalam GII.

Penilaian tinggi tersebut, datang dari indikator institusi (97), pembangunan manusia dan penelitian (94), infrastruktur (82), kemajuan pasar (59), kemajuan bisnis (89), serta kreativitas output inovasi (71). Skor yang didapat Indonesia masih di atas rata-rata negara dengan penghasilan menengah ke bawah.

Dalam catatan GII 2018, Indonesia tampil lebih baik dalam output inovasi daripada input inovasi. Tahun ini, peringkat Indonesia dalam input inovasi meningkat mencapai posisi ke-90, naik dari posisi ke-99 pada 2017 dan 2016.

Untuk output inovasi, Indonesia menempati peringkat ke-73 atau posisi yang sama dengan tahun lalu.

Sebagai gambaran, input inovasi merupakan berbagai sumber daya yang diperuntukkan dalam proses menciptakan inovasi, sementara output inovasi merupakan hasil yang diperoleh dari inovasi itu sendiri.

Naiknya Indonesia posisi dalam GII 2018 juga menjadikannya menempati posisi ke-13 dari 30 negara berpenghasilan menengah bawah dalam laporan yang diterbitkan oleh WIPO ini. Sementara itu, untuk kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Oseania, Indonesia menempati posisi ke-14 dari total 15 negara.

Posisi Indonesia masih di bawah, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darusalam, dan Filipina. Untuk top 10 besar negara paling inovatif, GII 2018 menempatkan Swiss di urutan pertama, disusul oleh Belanda, Swedia, Inggris, Singapura, Amerika Serikat, Finlandia, Denmark, Jerman, dan Irlandia.

Berkaca dari capaian Indonesia dalam GII 2018, Triawan tidak mengelak jika hasil inovasi yang dihasilkan dalam negeri, perlu ditingkatkan.

“Nah ini, inovasi kan tidak hanya ditangani satu pihak. Nanti kita ngomong dulu lah, memang Presiden gelisah soal biaya riset itu,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dana riset

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top