Perjalanan Divestasi 51% Saham Freeport Masih Panjang

Kendati divestasi saham PT Freeport Indonesia mendekati final, tahapan penyelesaian transaksi masih berliku. PT Inalum, Rio Tinto, FreeportMcMoRan Inc, dan Pemerintah Indonesia masih harus menempuh sejumlah negosiasi lanjutan.
Tim Bisnis Indonesia | 18 Juli 2018 12:18 WIB
Jalan panjang divestasi saham 51% Freeport. - Bisnis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati divestasi saham PT Freeport Indonesia mendekati final, tahapan penyelesaian transaksi masih berliku. PT Inalum, Rio Tinto, Freeport—McMoRan Inc, dan Pemerintah Indonesia masih harus menempuh sejumlah negosiasi lanjutan.

Divestasi 51% saham Freeport menjadi tema headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (18/7/2018). Berikut laporannya.

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa masih butuh waktu beberapa bulan untuk menuntaskan transaksi divestasi saham PT Freeport Indonesia.

“Butuh 2 bulan lagi,” ujarnya saat menjelaskan divestasi Freeport Indonesia, Selasa (17/7/2018).

Namun, beredar informasi proses penuntasan negosiasi, Freeport-McMoRan, Rio Tinto, Inalum, dan Pemerintah Indonesia kemungkinan bisa lebih lama lagi hingga 6 bulan.

Budi pun enggan menjelaskan lebih detail soal timeline yang harus dilakukan oleh Inalum dan Pemerintah Indonesia setelah penandatangan nota kesepahaman.

Yang pasti, masih ada sejumlah perjanjian atau regulasi untuk memastikan empat kesepakatan dalam Head of Agreement (HoA) bersifat final, di antaranya joint venture agreement yang mengatur soal kendali operasi dan manajemen serta stability agreement berupa PP yang mengatur kepastian hukum dan fi skal berupa pajak penghasilan (PPh) bagi hasil, pajak pertambahan nilai (PPN) hingga pajak bumi dan bangunan (PBB).

Kementerian ESDM juga masih menutup mulut soal timeline penyelesaian negosiasi. Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono hanya mengatakan negosiasi dinyatakan selesai setelah seluruh isu selesai dibahas.

Artinya, perlu satu perjanjian yang mencakup empat isu secara bersamaan. Keempat isu itu adalah perpanjangan operasi 2 x 10 tahun melalui perubahan status menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK), pembangunan smelter, stabilitas investasi melalui kepastian hukum dan fi skal, serta divestasi saham minimal 51%. “Ada lah [timeline]. Mesti ada,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/7/2018).

Pada Kamis pekan lalu, Inalum dan Freeport-McMoran telah menandatangani HoA yang menjadi dasar kesepakatan divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI), yang mencakup struktur dan nilai transaksi.

Wakil Presiden Jusuf Kalla optimistis penandatanganan HoA bakal memuluskan jalan divestasi saham Freeport.

“Namanya saja Head of Agreement. Jadi prinsip daripada persetujuan ini sudah disetujui, tinggal didetailkan. Artinya itu nanti urusan staf [detail]. Ini kan urusan menteri HoA. Kemudian perjanjian-perjanjiannya itu urusan lawyer, Jadi, optimistis HoA bisa jalan,” tegasnya, Selasa (17/7/2018).

Wapres juga menegaskan melalui HoA, otomatis Pemerintah Indonesia akan memperpanjang konsesi PTFI.

“Indonesia yang punya hak untuk memperpanjang, dan Indonesia juga membeli. Masak Indonesia beli langsung berhenti, kan ndak kan. jadi itu otomatis artinya,” ujar JK.

Direktur Eksekutif Centre for Indonesian Resources Strategic Studies Budi Santoso menilai masih ada beberapa hal yang perlu diselesaikan setelah penandatanganan HoA divestasi Freeport Indonesia. “Inalum terlalu optimistis jika menganggap negosiasi telah mencapai 85%. Inalum harus berhati-hati karena ini tahun politik juga yang bisa menjadi dampak negatif bagi pemerintah. Negosiasi ini tidak cuma aspek bisnis, tetapi juga hukum dan politik.”

BUMN TAMBANG

Meski negosiasi divestasi masih menjadi polemik, Akuisisi PT Freeport Indonesia oleh PT Inalum (Persero) selaku induk holding BUMN tambang diproyeksikan memberikan dampak positif bagi sinergi antaranak usaha, termasuk kinerja saham emiten BUMN tambang.

Direktur Keuangan PT Timah Tbk. (TINS) Emil Emindra mengatakan, bagi Timah program akuisisi PTFI oleh Inalum memberikan sejumlah dampak positif tidak langsung.

TINS dengan PTFI nantinya dapat saling bertukar teknologi, baik di bidang pertambangan maupun teknologi informasi. Di sisi lain, informasi mengenai pasar potensial PTFI dapat dimanfaatkan sebagai sasaran pasar baru bagi TINS. “Yang jelas, rencana program ini banyak positifnya buat Inalum selaku holding, dan anak-anak usaha seperti Timah [TINS], PTBA, dan Antam untuk melakukan sinergi.” Direktur Keuangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) Dimas Wikan Pramudhito menyatakan, masuknya PTFI sebagai 'saudara baru' berdampak positif bagi Antam, terutama dalam bisnis penambangan dan pengolahan emas.

Menurut data Bloomberg, harga saham tiga anggota holding BUMN tambang dalam tren positif sepanjang periode berjalan 2018. Harga saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) misalnya, melejit naik hingga 78,05% sampai dengan penutupan perdagangan, Selasa (17/7).

Saham TINS dan ANTM tercatat dalam kondisi serupa dengan penguatan masing-masing 6,45% dan 40,80%. Total kapitalisasi pasar ketiganya saat ini mencapai Rp77,75 triliun.

Analis PT Kresna Securities William Mamudi memprediksi akuisisi saham Freeport Indonesia akan menjadi sentimen positif bagi ANTM, TINS, dan PTBA selaku anggota holding BUMN tambang. Pasalnya, pergerakan saham ketiga emiten sudah lama berada dalam fase sideways.

“Sideways yang berkepanjangan dapat menjadi awal reli. Terutama untuk Aneka Tambang dan Timah karena Bukit Asam sudah reli sejak April 2018 hingg Mei 2018.” (Nurhadi Pratomo/Lucky L. Leatemia/ Lingga S. Wiangga/Sepudin Zuhri)

Tag : Freeport
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top